A.
Ayat
Al-Qur’an Surat Al-Mulk (3-5)
الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ
طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ
هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ (٣)ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ
إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ (٤)وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ
الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا
لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ (٥)
Artinya :
3. Yang telah
menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada
ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka
lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu Lihat sesuatu yang tidak seimbang?
4. Kemudian
pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak
menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.
5. Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat
dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar
syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.
Penafsiran
Kata-kata Sulit :
طِبَاقًا – Tibaq(an)a :
setingkat (selapis) demi setingkat (selapis)
تَفَاوُتٍ – Tafawut :
berbeda-beda dan tidak seimbang
اَلْفُطُوْرُ – AL-Futur : asy-syuquq
(pecah-pecah) dan mufradnya adalah fatr. Dikatakan fatarahu wa in
fatara (ia memecahkan sesuatu maka terpecah-pecahlah sesuatu itu)
كَرَّتَيْنِ – Karratain : dua
kali lagi dalam kekacauan. Maksutnya adalah mengulangi dan memperbanyaknya,
berarti penglihatan demi penglihatan.
يَنْقَلِبْ – Yanqalib : yarji’
(kembali)
خَاسِئًا – Khasi’an :
rendah, hina dan kandas sehingga tidak dapat melihat kekacauan yang terjadi.
حَسِيرٌ – Hasir : tumpul,
terputus, dan tidak memahami apa yang diminta.
المَصَابِيحَ – Al Masabih :
jamak dari misbah, yaitu as-siraj (pelita, lampu). Maksutnya
adalah bintang-bintang.
الرُجُومًا – Ar Rujum :
mufradnya dari rajm artinya apa yang dilontarkan dan dilemparkan.
الشَّيَاطِينِ – Asy Syayatin :
setan-setan, jin dan manusia
أَعْتَدْنَا – A’tadna : kami
sediakan
B.
Penafsiran
QS. Al-Mulk (3-5)
Termasuk
surat ke-30, dan merupakan surat Makkiyah, diturunkan setelah surat At Tur. Nama
“al-Mulk” diambil dari kata “al-Mulk” pada ayat pertama, yang
artinya “kerajaan” atau “kekuasaan”. Atau sering dikenal surat “Tabaraka”
yang berarti “maha suci”.[2]
Pengertian Secara Umum
Allah SWT adalah raja dari segala
kerajaan. Dia membangun dunia yang begitu indah hanya untuk menguji kalian,
siapa diantara kalian yang paling ikhlas amalannya. Setelah itu dia
memberitahukan bahwa Dia-lah yang mencipatakan langit secara bersusun-susun,
diatas satu dengan yang lainnya, tanpa adanya kecacatan sedikitpun.[3]
Jika kalian ragu, maka lihatlah sekali lagi, hanya kehinaan serta kelelahan
yang akan kalian dapat. Setelah itu dia menghiasi lagit bumi dengan
bintang-bintang yang berpijar seperti pelita yang menyinari pemukiman dimalam
hari. Kemudian Allah menarik rezeki yang baik dan yang buruk dari sinar bintang
itu. Dan Allah telah menyiapkan azab neraka yang menyala untuk orang-orang yang
keji dan rendah dimuka bumi.[4]
Penafsiran
الَّذِى خَلَقَ سَبْعَ
سَمَوَتٍ طِبَاقًا, “yang
telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis,” maksutnya hanya
ujung-ujungnya saja yang melekat, karena dikatakan sebagiannya melekat di atas
sebagian yang lain. Seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Lafaz طِبَاقًا adalah sifat untuk سَبْعَ, sedangkan طِبَاقًا adalah mashdar yang berarti al muthaabah (yang berlapis-lapis).[5]
Dia
menciptakan langit tanpa adanya tiang yang menyangga dan tanpa ikatan yang
mengikatnya, padahal masing-masing menempati waktu dan ruang tertentu yang
begitu rapi, hanya daya tarik-menariklah yang mengaturnya.[6]
Ada yang menafsirkan bahwa langit ketujuh itu adalah bintang-bintang dari
matahari. Ada pula yang menafsirkannya dengan ditambah dongeng-dongeng yang
tidak jelas sama sekali. Oleh karena itu, cukuplah saja kita mengartikan langit
ketujuh dengan iman kita, karena tidak bisa langit ketujuh diartikan dengan
ilmu pengetahuan.[7]
Menurut
pendapat ulama lain, Sibawaih berkata طِبَاقًا dinashabkan karena menjadi objek. Dan menurut Al Qurthubi, خَلَقَ bermakna ja’ala (menjadikan) dan shayara (membuat). Dan thibaaq
adalah jamak dari thabaq atau thabaqah. Seperti yang diriwayatkan
oleh Aban bin Taghlib, “aku mendengar sebagian orang Arab mencela seseorang.
Dia berkata, ‘Syarruhu thibaaqun wa khairu ghairu baaqin (keburukannya
berlapis-lapis, sementara kabaikannya tidak akan kekal). [8]
Atau menurut Quraish Shihab thibaqa disini adalah mashdar yang artinya
sangat bersesuaian. Jadi dalam bentuk jamaknya ketujuh langit itu mempunyai
kesamaan, ibaratnya seperti kue lapis atau cangkang telur yang mengitari
seluruh segi telur dari segala penjuru.
مَا تَرَى فِي
خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ , kamu
sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang
tidak seimbang. Berdasarkan Qira’ah Hamzah, Al Kisa’i dan Ibnu Mas’ud,
lafaz مِنْ تَفوُّتٍ tanpa alif dan bertasydid, namun ada pula yang membaca مِنْ تَفاوُتٍ menggunakan huruf alif dan tanpa tasydid. Berbeda lagi
dengan qira’ah Abu Ubaid, dia membaca مِنْ تَفوُتٍ. Tapi qira’ah yang paling ideal adalah تَفَاوُتٍ (saling bertentangan) kalau saling bertentangan berarti saling meninggalkan
satu sama lain. Yang berarti kalian tidak akan menemukan ketidak-seimbangan
maupun kontradiksi pada ciptaan Allah. Semua itu Dia ciptakan dengan sempurna
hanya untuk makhluk-Nya sebagai manifestasi dari kehendak-Nya untuk melimpahkan
rahmat kepada seluruh makhluk, ini yang merujuk pada ar-Rahman.
Disamping
itu di ayat-nya ditulis فِي bukan فِيهَا yang berarti untuk memperingatkan sebab keselamatannya dari kekacauan dan
keretakan. Karena ar-Rahman telah mencipatakan semua itu dengan qudrah serta
keluasan rahmat-Nya.
فَارْجِعِ
الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ, Maka
lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu Lihat sesuatu yang tidak seimbang?. Disini Allah menciptakan segala sesuatu tidak lepas
dari hukum-hukum serta peraturan-peraturan sehingga semuanya menjadi begitu
rapi. Kita ambil contoh yang diberikan Quraish Shihab, bagaimana payahnya
penduduk sebuah planet jika tidak ada keseimbangan antar planet sehingga
terjadi tabrakan antar planet. Diciptakannya berbagai makhluk dengan timbal
balik satu dengan yang lain seperti manusia & binatang-tumbuhan dalam
proses fotosintesis.[9]
Diciptakannya suara serta sidik jari milyaran manusia yang satupun tidak ada
yang sama. Jadi bagaimana kita makhluk yang berpikir tetap tidak mengakui
ke-sempurnaan ciptaan Tuhan, jika sudah terlalu banyak bukti kebesaran-Nya
dengan semua ciptaan-Nya yang begitu teratur.
ثُمَّ ارْجِعِ
الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ, Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu
dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan
payah. Lafaz Khasi’an disini biasanya digunakan untuk mendiamkan gonggongan
anjing, jadi ketika ini dipakai untuk manusia berati mengandung makna
penghinaan. Hasir disini maksutnya adalah seorang yang kemampuannya
dihilangkan oleh kepayahannya.[10] Payah
karena kagum dengan kebesaran Allah SWT, sehingga merasa kecillah diri dibawah
kekuasaan Allah. Lalu timbullah rasa syukur yang mendalam telah diciptakan
sebagai makhluk berakal yang mampu merenungi kebesaran
Tuhannya. Sedangkan Karratain disini maksutnya adalah bukan sekadar dua
kali, artinya penglihatan yang pertama untuk melihat keindahannya, dan
penglihatan yang kedua untuk melihat kesempurnaan serta keteraturan ciptaanya.
وَلَقَدْ
زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ , Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang
dekat dengan bintang-bintang. Diibaratkan
bintang-bintang itu adalah pelita-pelita yang menyinari rumah tempat tinggal
kalian yang kemudian bisa menunjukkan perjalanan kalian entah itu di laut
maupun darat.
وَجَعَلْنَاهَا
رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ , dan Kami jadikan
bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka
siksa neraka yang menyala-nyala. Selain untuk menghiasi
langit, bintang-bintang itu juga merupakan sebab-sebab rezeki manusia yang baik
seperti ulama, para nabi dll maupun manusia yang buruk. Maksut dari alat-alat
pelempar setan bukanlah yang digunakan untuk melempar, karena bintang-bintang
hakekatnya tidak akan berpindah dari tempatnya, jadi dari bintang itu keluarlah
sinar (panah api) yang akan membunuh jin yang mencuri pembicaraan penduduk
langit.[11]
Sama seperti yang diriwayatkan Qatadah manfaat bintang itu untuk hiasan langit,
pelontar setan dan petunjuk di darat atau di laut.[12]
Dari kejahatan manusia-manusia buruk yang mejadikan bintang sebagai perdukunan
dengan alasan wasilah, maka Allah menyiapkan neraka yang menyala untuk mereka.
C.
Analisis
Lingkungan adalah segala sesuatu
yang diciptakan Allah yang melingkupi kehidupan manusia. Entah itu langit,
bumi, bulan, bintang, sesama manusia, binatang dll. Dan semua itu diciptakan
Allah menurut sunnatullah (hukum-hukum dan ketentuan) serta agama-agama-Nya. Untuk mengatur segala yang telah diciptakan-Nya. Karena
semuanya itu diciptakan dengan tujuan serta kesempurnaan, tanpa ada kecacatan
sedikitpun. Seperti yang tersirat dalam firman Allah SWT.
فَارْجِعِ الْبَصَرَ
هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ (٣)ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ
يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ (٤)
“Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu Lihat
sesuatu yang tidak seimbang?.
Kemudian pandanglah sekali lagi
niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu
cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.”
(QS. Al-Mulk : 3-4)[13]
Selain
itu juga dijelaskan bahwa penciptaan langit dan bumi ini bedasarkan haq dan
batas waktu yang ditentukan. Menurut Ibn ‘Asyur yang dimaksud al-haq
disini adalah “Apa yang mestinya menjadi hikmah dan tujuan penciptaan langit
dan bumi”.[14]
Tidak mungkin semua ini diciptakan dalam keadaan sia-sia bukan?. Buat apa alam
ini diciptakan sesempurna mungkin namun tanpa tujuan pasti. Seperti halnya
mengapa ada yang mati dan mengapa ada yang hidup. Allah berfirman dalam
al-Qur’an.
أَفَحَسِبْتُمْ
أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لا تُرْجَعُونَ (١١٥)
“Maka Apakah
kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja),
dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?” (QS. Al-Mu’minun :115)[15]
Seperti
yang sudah dikatakan sebelumnya, Allah menciptakan alam semesta dengan hukum-hukum,
termasuk hukum syari’at. Hukum-hukum dibentuk untuk mengatur segala yang telah
diciptakan-Nya. Namun, tidak semuanya menerima baik, sehingga terjadilah
kerusakan akibat dari ketidak-taatan mereka. Contoh kecil saja, Allah melarang
keras zina, hingga mendekatinya saja tidak boleh. Bukan berarti pelarangan itu
tidak ada hikmahnya, tapi zina sangat besar dampaknya, mulai dari tercorengnya
harga diri seorang wanita, rusaknya keturunan yang suci, hingga dampak sosial
seperti penularan penyakit kelamin dll. Anak-anak tidak mempunyai bapak, anak
perempuan kesulitan menikah karena bingung mencari wali mereka.
Yang dimaksud perusak bumi menurut penafsiran al-Maraghi
pada QS. Al-A’raf ayat 56 adalah kerusakan jiwa dengan membunuh sesama manusia,
kerusakan harta seperti membegal maupun mencuri, merampok dll, kerusakan agama
dengan merebaknya kemaksiatan, kerusakan akal dari akibat minum-minuman keras,
serta rusaknya nasab atau garis keturunan karena zina, sehingga merusak
kemaslahatan yang telah diciptakan khusus oleh Allah dengan menundukkan bumi
kepada mereka. Sehingga mengakibatkan berbagai macam bencana yang merenggut
jiwa-jiwa manusia tak bersalah lainnya. Itu semua karena ulah manusia sendiri,
bukanlah karena Allah yang sengaja untuk mendatangkan bencana kepada mereka. Seperti yang tersurat dalam
firman-Nya.
ذَلِكَ
بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلامٍ لِلْعَبِيدِ (٥١)
“demikian itu
disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali
tidak Menganiaya hamba-Nya”(QS. Al-Anfal :51)[16]
Maka,
seperti yang sudah dituliskan diatas, adanya kematian dan kehidupan itu
terdapat suatu tujuan yang baru akan diketahui setelah hari akhir terjadi.
Sehingga terjadinya hari akhir tidak dapat dipungkiri lagi akan tiba. Disanalah
hari akhirat menanti untuk membalas semua perbuatan manusia, entah yang baik
ataupun yang jahat. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Ibnu Hatim dari
Qatadah, Rasulullah bersabda :
إِنَّ
ا للهَ أَذَلَّ بَنِيْ آدَمَ بِالْمَوْتِ وَجَعَلَ الدُّنْيَادَارَحَيَاٍة ثُمَّ
دَارَمَوْتٍ وَ جَعَلَ اْلآ خِرَةَ دَارَجَزَاءٍ ثُمَّ دَارَبَقَاءً (رواه ابنو
أبي حاتم)
“sesungguhnya Allah menghinakan keturunan Adam dengan
maut, dan Allah menjadikan dunia ini negeri untuk hidup, kemudian itu negeri
untuk mati. Dan Dia jadikan negeri akhirat unutk menerima ganjaran dan negeri
untuk kekal.” (HR. Ibnu Hatim)[17]
Balasan
bagi orang-orang yang merusak bumi-pun dijelaskan sangat beraneka ragam dalam
al-Qur’an, salah satunya seperti dalam tafsir Al-Maraghi dalam surat al-Mulk ayat
5 terakhir. Disebutkan Allah telah menyiapkan neraka yang menyala-nyala, sampai
neraka itu terpecah-pecah karena kemarahannya terhadap para perusak bumi (dalam
penjelasan perusak agama dengan menyekutukan Allah dengan menjadikan bintang
sebagai wasilah).
D.
Kesimpulan
Setelah dijelaskan mengenai penafsiran QS.
Al-Mulk ayat 3-5, dapat ditarik kesimpulan bahwa Allah telah menciptakan
lingkungan (langit dan bumi) tempat manusia hidup, dengan sebaik-baiknya
ciptaan tanpa adanya kecacatan sedikitpun. Menghiasinya dengan hiasan-hiasan
yang multi fungsi seperti halnya bintang di malam hari.
Untuk menjaganya, Allah telah membentuk
hukum-hukum, namun karena ketidak-patuhan umat manusia, akhirnya rusaklah lingkungan
tempat tinggalnya. Padahal Allah telah menundukkannya hanya untuk kemaslahatan
mereka, namun mereka mengeksploitasi segalanya untuk memenuhi nafsu mereka.
Perusakan – perusakan bumi itu menyangkut
aspek keturunan, harta, jiwa, akal dan agama. Akhirnya, untuk membalas segala
perbuatan mereka. Allah telah menyiapkan neraka yang berkobar-kobar apinya,
bahkan dikatakan hingga terpecah-pecah karena begitu marahnya kepada
manusia-manusia perusak bumi.
E.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Mushthafa Al-Maraghi. Tafsir Al Maraghi.
Translated by Bahrun Abubukar, Lc., Drs. Hery Noer Aly, and K. Anshori Umar
Sitanggal. Vol. XXIX. Cetakan ke-2. Semarang: Karya Toha Putra, 1993.
Ahmad Mustafa
Al-Maraghi. TERJEMAHAN TAFSIR AL-MARAGHI. Translated by K. Anshori Umar
Sitanggal, Drs. Hery Noer Aly, and Bahrun Abubakar, Lc. Vol. 29. Cetakan
Pertama. Semarang: CV Tohaputra, 1989.
Al Qurthubi / Syaikh
Imam Al Qurthubi. Tafsir Al Qurthubi. Edited by Mukhlis B. Mukti.
Translated by Ahmad Khatib, Dudi Rosyadi, Faturrahman, and Fachrurazi. Vol. IX.
Cetakan ke-I. Jakarta: PUSTAKA AZZAM, 2009.
Departemen Agama
Republik Indonesia. AL QUR’AN DAN TAFSIRNYA. Edited by Drs. HA. Hafizh
Dasuki, MA. Translated by Prof. H. Zainni Dahlan,MA. Vol. X. Yogyakarta: Dana
Bhakti Wakaf, n.d.
Departemen Agama
RI AL-QUR’AN DAN TERJEMAHNYA.
Sygma Exemia Arkanleema, 2009.
M. Quraish Shihab. TAFSIR
AL-MISHBAH Pesan, Kesan, Dan Keserasian al-Qur’an. Vol. 15. Cetakan ke-II.
Jakarata: Lentera Hati, 2002.
Prof. Dr. Hamka. TAFSIR
AL AZHAR. Vol. 29. Jakarata: PUSTAKA PANJIMAS, 1982.
Tengku Muhammad Hasbi
Ash Shiddiqi. Tafsir Al-Qur’anul Majid an-Nur. Semarang: PT. Pustaka
Rizki Putra, 1995.
[1]
Ahmad
Mushthafa Al-Maraghi, Tafsir Al Maraghi, trans. Bahrun Abubukar, Lc.,
Drs. Hery Noer Aly, and K. Anshori Umar Sitanggal, vol. XXIX, Cetakan ke-2
(Semarang: Karya Toha Putra, 1993), 7–8.
[2]
Departemen
Agama Republik Indonesia, AL QUR’AN DAN TAFSIRNYA, ed. Drs. HA. Hafizh
Dasuki, MA., trans. Prof. H. Zainni Dahlan,MA, vol. X (Yogyakarta: Dana Bhakti
Wakaf, n.d.), 237.
[3]
Ahmad
Mushthafa Al-Maraghi, Tafsir Al Maraghi, XXIX:8.
[4]
Tengku
Muhammad Hasbi Ash Shiddiqi, Tafsir Al-Qur’anul Majid an-Nur (Semarang:
PT. Pustaka Rizki Putra, 1995), 4130.
[5]
Al
Qurthubi / Syaikh Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi, ed. Mukhlis B.
Mukti, trans. Ahmad Khatib et al., vol. IX, Cetakan ke-I (Jakarta: PUSTAKA
AZZAM, 2009), 12.
[6]
{Citation}
[7]
Prof.
Dr. Hamka, TAFSIR AL AZHAR, vol. 29 (Jakarata: PUSTAKA PANJIMAS, 1982),
9.
[8]
Al
Qurthubi / Syaikh Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi, IX:12–13.
[9]
M.
Quraish Shihab, TAFSIR AL-MISHBAH Pesan, Kesan, Dan Keserasian al-Qur’an,
vol. 15, Cetakan ke-II (Jakarata: Lentera Hati, 2002), 201.
[10]
Ibid., 15:202.
[11]
Al
Qurthubi / Syaikh Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi, IX:18.
[12]
Ahmad
Mustafa Al-Maraghi, TERJEMAHAN TAFSIR AL-MARAGHI, trans. K. Anshori Umar
Sitanggal, Drs. Hery Noer Aly, and Bahrun Abubakar, Lc., vol. 29, Cetakan
Pertama (Semarang: CV Tohaputra, 1989), 14.
[13]
Departemen
Agama RI AL-QUR’AN DAN TERJEMAHNYA (Sygma Exemia Arkanleema,
2009).
[14]
M.
Quraish Shihab, TAFSIR AL-MISHBAH Pesan, Kesan, Dan Keserasian al-Qur’an,
15:16.
[15]
Ibid.
[16]
Departemen
Agama RI AL-QUR’AN DAN TERJEMAHNYA, 183.
[17]
Prof.
Dr. Hamka, TAFSIR AL AZHAR, 29:10.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar