Selasa, 08 April 2014

TAFSIR LINGKUNGAN DALAM QS- AL MULK 3-5


A.    Ayat Al-Qur’an Surat Al-Mulk (3-5)
الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ (٣)ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ (٤)وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ (٥)
Artinya :
3. Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu Lihat sesuatu yang tidak seimbang?
4. Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.
5. Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.

Penafsiran Kata-kata Sulit :
طِبَاقًا – Tibaq(an)a : setingkat (selapis) demi setingkat (selapis)
تَفَاوُتٍ – Tafawut : berbeda-beda dan tidak seimbang
اَلْفُطُوْرُ – AL-Futur : asy-syuquq (pecah-pecah) dan mufradnya adalah fatr. Dikatakan fatarahu wa in fatara (ia memecahkan sesuatu maka terpecah-pecahlah sesuatu itu)
كَرَّتَيْنِ – Karratain : dua kali lagi dalam kekacauan. Maksutnya adalah mengulangi dan memperbanyaknya, berarti penglihatan demi penglihatan.
يَنْقَلِبْ – Yanqalib : yarji’ (kembali)
خَاسِئًا – Khasi’an : rendah, hina dan kandas sehingga tidak dapat melihat kekacauan yang terjadi.
حَسِيرٌ – Hasir : tumpul, terputus, dan tidak memahami apa yang diminta.
المَصَابِيحَ – Al Masabih : jamak dari misbah, yaitu as-siraj (pelita, lampu). Maksutnya adalah bintang-bintang.
الرُجُومًا – Ar Rujum : mufradnya dari rajm artinya apa yang dilontarkan dan dilemparkan.
الشَّيَاطِينِ – Asy Syayatin : setan-setan, jin dan manusia
أَعْتَدْنَا – A’tadna : kami sediakan
عَذَابَ السَّعِيرِ – Azabus Sa’ir : siksa neraka yang disulut dan dinyalakan.[1]


B.     Penafsiran QS. Al-Mulk (3-5)
Termasuk surat ke-30, dan merupakan surat Makkiyah, diturunkan setelah surat At Tur. Nama “al-Mulk” diambil dari kata “al-Mulk” pada ayat pertama, yang artinya “kerajaan” atau “kekuasaan”. Atau sering dikenal surat “Tabaraka” yang berarti “maha suci”.[2]

Pengertian Secara Umum
Allah SWT adalah raja dari segala kerajaan. Dia membangun dunia yang begitu indah hanya untuk menguji kalian, siapa diantara kalian yang paling ikhlas amalannya. Setelah itu dia memberitahukan bahwa Dia-lah yang mencipatakan langit secara bersusun-susun, diatas satu dengan yang lainnya, tanpa adanya kecacatan sedikitpun.[3] Jika kalian ragu, maka lihatlah sekali lagi, hanya kehinaan serta kelelahan yang akan kalian dapat. Setelah itu dia menghiasi lagit bumi dengan bintang-bintang yang berpijar seperti pelita yang menyinari pemukiman dimalam hari. Kemudian Allah menarik rezeki yang baik dan yang buruk dari sinar bintang itu. Dan Allah telah menyiapkan azab neraka yang menyala untuk orang-orang yang keji dan rendah dimuka bumi.[4]

Penafsiran
الَّذِى خَلَقَ سَبْعَ سَمَوَتٍ طِبَاقًا, “yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis,” maksutnya hanya ujung-ujungnya saja yang melekat, karena dikatakan sebagiannya melekat di atas sebagian yang lain. Seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas. Lafaz طِبَاقًا adalah sifat untuk سَبْعَ, sedangkan طِبَاقًا adalah mashdar yang berarti al muthaabah (yang berlapis-lapis).[5]
Dia menciptakan langit tanpa adanya tiang yang menyangga dan tanpa ikatan yang mengikatnya, padahal masing-masing menempati waktu dan ruang tertentu yang begitu rapi, hanya daya tarik-menariklah yang mengaturnya.[6] Ada yang menafsirkan bahwa langit ketujuh itu adalah bintang-bintang dari matahari. Ada pula yang menafsirkannya dengan ditambah dongeng-dongeng yang tidak jelas sama sekali. Oleh karena itu, cukuplah saja kita mengartikan langit ketujuh dengan iman kita, karena tidak bisa langit ketujuh diartikan dengan ilmu pengetahuan.[7]
Menurut pendapat ulama lain, Sibawaih berkata طِبَاقًا dinashabkan karena menjadi objek. Dan menurut Al Qurthubi, خَلَقَ bermakna ja’ala (menjadikan) dan shayara (membuat). Dan thibaaq adalah jamak dari thabaq atau thabaqah. Seperti yang diriwayatkan oleh Aban bin Taghlib, “aku mendengar sebagian orang Arab mencela seseorang. Dia berkata, ‘Syarruhu thibaaqun wa khairu ghairu baaqin (keburukannya berlapis-lapis, sementara kabaikannya tidak akan kekal). [8] Atau menurut Quraish Shihab thibaqa disini adalah mashdar yang artinya sangat bersesuaian. Jadi dalam bentuk jamaknya ketujuh langit itu mempunyai kesamaan, ibaratnya seperti kue lapis atau cangkang telur yang mengitari seluruh segi telur dari segala penjuru.
مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ , kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Berdasarkan Qira’ah Hamzah, Al Kisa’i dan Ibnu Mas’ud, lafaz مِنْ تَفوُّتٍ  tanpa alif dan bertasydid, namun ada pula yang membaca مِنْ تَفاوُتٍ menggunakan huruf alif dan tanpa tasydid. Berbeda lagi dengan qira’ah Abu Ubaid, dia membaca مِنْ تَفوُتٍ. Tapi qira’ah yang paling ideal adalah تَفَاوُتٍ (saling bertentangan) kalau saling bertentangan berarti saling meninggalkan satu sama lain. Yang berarti kalian tidak akan menemukan ketidak-seimbangan maupun kontradiksi pada ciptaan Allah. Semua itu Dia ciptakan dengan sempurna hanya untuk makhluk-Nya sebagai manifestasi dari kehendak-Nya untuk melimpahkan rahmat kepada seluruh makhluk, ini yang merujuk pada ar-Rahman.
Disamping itu di ayat-nya ditulis فِي bukan فِيهَا yang berarti untuk memperingatkan sebab keselamatannya dari kekacauan dan keretakan. Karena ar-Rahman telah mencipatakan semua itu dengan qudrah serta keluasan rahmat-Nya.
فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ, Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu Lihat sesuatu yang tidak seimbang?. Disini Allah menciptakan segala sesuatu tidak lepas dari hukum-hukum serta peraturan-peraturan sehingga semuanya menjadi begitu rapi. Kita ambil contoh yang diberikan Quraish Shihab, bagaimana payahnya penduduk sebuah planet jika tidak ada keseimbangan antar planet sehingga terjadi tabrakan antar planet. Diciptakannya berbagai makhluk dengan timbal balik satu dengan yang lain seperti manusia & binatang-tumbuhan dalam proses fotosintesis.[9] Diciptakannya suara serta sidik jari milyaran manusia yang satupun tidak ada yang sama. Jadi bagaimana kita makhluk yang berpikir tetap tidak mengakui ke-sempurnaan ciptaan Tuhan, jika sudah terlalu banyak bukti kebesaran-Nya dengan semua ciptaan-Nya yang begitu teratur.
ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ, Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah. Lafaz Khasi’an disini biasanya digunakan untuk mendiamkan gonggongan anjing, jadi ketika ini dipakai untuk manusia berati mengandung makna penghinaan. Hasir disini maksutnya adalah seorang yang kemampuannya dihilangkan oleh kepayahannya.[10] Payah karena kagum dengan kebesaran Allah SWT, sehingga merasa kecillah diri dibawah kekuasaan Allah. Lalu timbullah rasa syukur yang mendalam telah diciptakan sebagai makhluk berakal yang mampu merenungi kebesaran Tuhannya. Sedangkan Karratain disini maksutnya adalah bukan sekadar dua kali, artinya penglihatan yang pertama untuk melihat keindahannya, dan penglihatan yang kedua untuk melihat kesempurnaan serta keteraturan ciptaanya.
وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ , Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang. Diibaratkan bintang-bintang itu adalah pelita-pelita yang menyinari rumah tempat tinggal kalian yang kemudian bisa menunjukkan perjalanan kalian entah itu di laut maupun darat.
وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاطِينِ وَأَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيرِ , dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. Selain untuk menghiasi langit, bintang-bintang itu juga merupakan sebab-sebab rezeki manusia yang baik seperti ulama, para nabi dll maupun manusia yang buruk. Maksut dari alat-alat pelempar setan bukanlah yang digunakan untuk melempar, karena bintang-bintang hakekatnya tidak akan berpindah dari tempatnya, jadi dari bintang itu keluarlah sinar (panah api) yang akan membunuh jin yang mencuri pembicaraan penduduk langit.[11] Sama seperti yang diriwayatkan Qatadah manfaat bintang itu untuk hiasan langit, pelontar setan dan petunjuk di darat atau di laut.[12] Dari kejahatan manusia-manusia buruk yang mejadikan bintang sebagai perdukunan dengan alasan wasilah, maka Allah menyiapkan neraka yang menyala untuk mereka.
C.    Analisis
Lingkungan adalah segala sesuatu yang diciptakan Allah yang melingkupi kehidupan manusia. Entah itu langit, bumi, bulan, bintang, sesama manusia, binatang dll. Dan semua itu diciptakan Allah menurut sunnatullah (hukum-hukum dan ketentuan) serta agama-agama-Nya. Untuk mengatur segala yang telah diciptakan-Nya. Karena semuanya itu diciptakan dengan tujuan serta kesempurnaan, tanpa ada kecacatan sedikitpun. Seperti yang tersirat dalam firman Allah SWT.
فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ (٣)ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ (٤)
“Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu Lihat sesuatu yang tidak seimbang?. Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah. (QS. Al-Mulk : 3-4)[13]
Selain itu juga dijelaskan bahwa penciptaan langit dan bumi ini bedasarkan haq dan batas waktu yang ditentukan. Menurut Ibn ‘Asyur yang dimaksud al-haq disini adalah “Apa yang mestinya menjadi hikmah dan tujuan penciptaan langit dan bumi”.[14] Tidak mungkin semua ini diciptakan dalam keadaan sia-sia bukan?. Buat apa alam ini diciptakan sesempurna mungkin namun tanpa tujuan pasti. Seperti halnya mengapa ada yang mati dan mengapa ada yang hidup. Allah berfirman dalam al-Qur’an.
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لا تُرْجَعُونَ (١١٥)
“Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?” (QS. Al-Mu’minun :115)[15]
Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, Allah menciptakan alam semesta dengan hukum-hukum, termasuk hukum syari’at. Hukum-hukum dibentuk untuk mengatur segala yang telah diciptakan-Nya. Namun, tidak semuanya menerima baik, sehingga terjadilah kerusakan akibat dari ketidak-taatan mereka. Contoh kecil saja, Allah melarang keras zina, hingga mendekatinya saja tidak boleh. Bukan berarti pelarangan itu tidak ada hikmahnya, tapi zina sangat besar dampaknya, mulai dari tercorengnya harga diri seorang wanita, rusaknya keturunan yang suci, hingga dampak sosial seperti penularan penyakit kelamin dll. Anak-anak tidak mempunyai bapak, anak perempuan kesulitan menikah karena bingung mencari wali mereka.
Yang dimaksud perusak bumi menurut penafsiran al-Maraghi pada QS. Al-A’raf ayat 56 adalah kerusakan jiwa dengan membunuh sesama manusia, kerusakan harta seperti membegal maupun mencuri, merampok dll, kerusakan agama dengan merebaknya kemaksiatan, kerusakan akal dari akibat minum-minuman keras, serta rusaknya nasab atau garis keturunan karena zina, sehingga merusak kemaslahatan yang telah diciptakan khusus oleh Allah dengan menundukkan bumi kepada mereka. Sehingga mengakibatkan berbagai macam bencana yang merenggut jiwa-jiwa manusia tak bersalah lainnya. Itu semua karena ulah manusia sendiri, bukanlah karena Allah yang sengaja untuk mendatangkan bencana kepada  mereka. Seperti yang tersurat dalam firman-Nya.
ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلامٍ لِلْعَبِيدِ (٥١)
“demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesungguhnya Allah sekali-kali tidak Menganiaya hamba-Nya”(QS. Al-Anfal :51)[16]
Maka, seperti yang sudah dituliskan diatas, adanya kematian dan kehidupan itu terdapat suatu tujuan yang baru akan diketahui setelah hari akhir terjadi. Sehingga terjadinya hari akhir tidak dapat dipungkiri lagi akan tiba. Disanalah hari akhirat menanti untuk membalas semua perbuatan manusia, entah yang baik ataupun yang jahat. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Ibnu Hatim dari Qatadah, Rasulullah bersabda :
إِنَّ ا للهَ أَذَلَّ بَنِيْ آدَمَ بِالْمَوْتِ وَجَعَلَ الدُّنْيَادَارَحَيَاٍة ثُمَّ دَارَمَوْتٍ وَ جَعَلَ اْلآ خِرَةَ دَارَجَزَاءٍ ثُمَّ دَارَبَقَاءً (رواه ابنو أبي حاتم)
“sesungguhnya Allah menghinakan keturunan Adam dengan maut, dan Allah menjadikan dunia ini negeri untuk hidup, kemudian itu negeri untuk mati. Dan Dia jadikan negeri akhirat unutk menerima ganjaran dan negeri untuk kekal.” (HR. Ibnu Hatim)[17]
Balasan bagi orang-orang yang merusak bumi-pun dijelaskan sangat beraneka ragam dalam al-Qur’an, salah satunya seperti dalam tafsir Al-Maraghi dalam surat al-Mulk ayat 5 terakhir. Disebutkan Allah telah menyiapkan neraka yang menyala-nyala, sampai neraka itu terpecah-pecah karena kemarahannya terhadap para perusak bumi (dalam penjelasan perusak agama dengan menyekutukan Allah dengan menjadikan bintang sebagai wasilah).



D.    Kesimpulan
Setelah dijelaskan mengenai penafsiran QS. Al-Mulk ayat 3-5, dapat ditarik kesimpulan bahwa Allah telah menciptakan lingkungan (langit dan bumi) tempat manusia hidup, dengan sebaik-baiknya ciptaan tanpa adanya kecacatan sedikitpun. Menghiasinya dengan hiasan-hiasan yang multi fungsi seperti halnya bintang di malam hari.
Untuk menjaganya, Allah telah membentuk hukum-hukum, namun karena ketidak-patuhan umat manusia, akhirnya rusaklah lingkungan tempat tinggalnya. Padahal Allah telah menundukkannya hanya untuk kemaslahatan mereka, namun mereka mengeksploitasi segalanya untuk memenuhi nafsu mereka.
Perusakan – perusakan bumi itu menyangkut aspek keturunan, harta, jiwa, akal dan agama. Akhirnya, untuk membalas segala perbuatan mereka. Allah telah menyiapkan neraka yang berkobar-kobar apinya, bahkan dikatakan hingga terpecah-pecah karena begitu marahnya kepada manusia-manusia perusak bumi.



E.     DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Mushthafa Al-Maraghi. Tafsir Al Maraghi. Translated by Bahrun Abubukar, Lc., Drs. Hery Noer Aly, and K. Anshori Umar Sitanggal. Vol. XXIX. Cetakan ke-2. Semarang: Karya Toha Putra, 1993.
Ahmad Mustafa Al-Maraghi. TERJEMAHAN TAFSIR AL-MARAGHI. Translated by K. Anshori Umar Sitanggal, Drs. Hery Noer Aly, and Bahrun Abubakar, Lc. Vol. 29. Cetakan Pertama. Semarang: CV Tohaputra, 1989.
Al Qurthubi / Syaikh Imam Al Qurthubi. Tafsir Al Qurthubi. Edited by Mukhlis B. Mukti. Translated by Ahmad Khatib, Dudi Rosyadi, Faturrahman, and Fachrurazi. Vol. IX. Cetakan ke-I. Jakarta: PUSTAKA AZZAM, 2009.
Departemen Agama Republik Indonesia. AL QUR’AN DAN TAFSIRNYA. Edited by Drs. HA. Hafizh Dasuki, MA. Translated by Prof. H. Zainni Dahlan,MA. Vol. X. Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf, n.d.
Departemen Agama RI AL-QUR’AN DAN TERJEMAHNYA. Sygma Exemia Arkanleema, 2009.
M. Quraish Shihab. TAFSIR AL-MISHBAH Pesan, Kesan, Dan Keserasian al-Qur’an. Vol. 15. Cetakan ke-II. Jakarata: Lentera Hati, 2002.
Prof. Dr. Hamka. TAFSIR AL AZHAR. Vol. 29. Jakarata: PUSTAKA PANJIMAS, 1982.
Tengku Muhammad Hasbi Ash Shiddiqi. Tafsir Al-Qur’anul Majid an-Nur. Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 1995.





[1] Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Tafsir Al Maraghi, trans. Bahrun Abubukar, Lc., Drs. Hery Noer Aly, and K. Anshori Umar Sitanggal, vol. XXIX, Cetakan ke-2 (Semarang: Karya Toha Putra, 1993), 7–8.
[2] Departemen Agama Republik Indonesia, AL QUR’AN DAN TAFSIRNYA, ed. Drs. HA. Hafizh Dasuki, MA., trans. Prof. H. Zainni Dahlan,MA, vol. X (Yogyakarta: Dana Bhakti Wakaf, n.d.), 237.
[3] Ahmad Mushthafa Al-Maraghi, Tafsir Al Maraghi, XXIX:8.
[4] Tengku Muhammad Hasbi Ash Shiddiqi, Tafsir Al-Qur’anul Majid an-Nur (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 1995), 4130.
[5] Al Qurthubi / Syaikh Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi, ed. Mukhlis B. Mukti, trans. Ahmad Khatib et al., vol. IX, Cetakan ke-I (Jakarta: PUSTAKA AZZAM, 2009), 12.
[6] {Citation}
[7] Prof. Dr. Hamka, TAFSIR AL AZHAR, vol. 29 (Jakarata: PUSTAKA PANJIMAS, 1982), 9.
[8] Al Qurthubi / Syaikh Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi, IX:12–13.
[9] M. Quraish Shihab, TAFSIR AL-MISHBAH Pesan, Kesan, Dan Keserasian al-Qur’an, vol. 15, Cetakan ke-II (Jakarata: Lentera Hati, 2002), 201.
[10] Ibid., 15:202.
[11] Al Qurthubi / Syaikh Imam Al Qurthubi, Tafsir Al Qurthubi, IX:18.
[12] Ahmad Mustafa Al-Maraghi, TERJEMAHAN TAFSIR AL-MARAGHI, trans. K. Anshori Umar Sitanggal, Drs. Hery Noer Aly, and Bahrun Abubakar, Lc., vol. 29, Cetakan Pertama (Semarang: CV Tohaputra, 1989), 14.
[13] Departemen Agama RI AL-QUR’AN DAN TERJEMAHNYA (Sygma Exemia Arkanleema, 2009).
[14] M. Quraish Shihab, TAFSIR AL-MISHBAH Pesan, Kesan, Dan Keserasian al-Qur’an, 15:16.
[15] Ibid.
[16] Departemen Agama RI AL-QUR’AN DAN TERJEMAHNYA, 183.
[17] Prof. Dr. Hamka, TAFSIR AL AZHAR, 29:10.

Tidak ada komentar: