A.
PENDAHULUAN
Sejarah menuliskan bahwa
perkembangan islam sejak Rasulullah wafat berkembang begitu pesat. Dibuktikan
dengan banyaknya kerajaan – kerajaan islam yang tumbuh dan menyebar ke hampir
seluruh benua Asia, Eropa
bahkan Afrika. Mulai dari kerajaan
kecil sampai kerajaan yang besar. Namun sekarang kita tidak akan membahas proses
semua kerajaan islam bisa berkembang, tapi bagaimana kerajaan islam terbesar
dan terkuat seperti Dinasti Abbasiyah dan Dinasti Ustmaniyah dapat runtuh ?
Seperti yang kita
ketahui, kerajaan islam sangat berperan penting terhadap peradapan maupun
penyebaran agama islam diseluruh penjuru dunia. Ketika kerajaan Islam sedang
dalam masa kejayaan, masa depan islam begitu gemilang. Dan otomatis, masa depan
itu turut hilang ketika kerajaan – kerajaan itu mulai runtuh. Untuk menumbuhkan
kembali semangat pembangunan umat muslim yang hilang setelah runtuhnya kerajaan
terbesar islam sehingga melenyapkan hampir seluruh peradapan islam. Maka akan
dibahas bagaimana masa kejayaan Dinasti Abbasiyah maupun Dinasti Ustmaniyah. Dan
adakah sebab turun-temurun jatuhnya kerajaan ini, sebagai pelajaran bagi
generasi muda islam untuk tidak mengulangi kesalahan masa lalu dalam realitas
sekarang.
Setelah kita membaca
sedikit tentang teori Ibnu Khaldun, mengenai jatuhnya sebuah Negara terdapat tiga tahapan. Pertama, jika sebuah negara
itu sudah menghendaki pemusatan kekuasaan dan kemegahan pada satu tangan.
Kedua, ketika sifat kekuasaan itu mulai tercium bau kemewahan. Dan ketiga, saat
sebuah negara berwatak kekuasaan negara itu ingin ketenangan dan kestabilan. Dan begitu
juga di Muqodimahnya Ibnu Khaldun disebutkan, jika sebuah Negara itu sudah
menurunkan sifat hidup bermegah-megahan, dan sifat bermalas-malasan maka ini
sudah dekat waktu ajal Negara itu akan hancur.
Untuk membuktikan
kebenaran teori ini, selanjutnya akan kita bahas secara singkat mulai dari berdirinya dua kerajaan islam Abbasiyah dan Ustmaniyah, kajayaan hingga runtuhnya dinasti ini.
B.
KERAJAAN ABBASIYAH
a.
Berdirinya Kerajaan Abbasiyah
Dinasti ini bisa dikatakan pelanjut Imperium dari dinasti Ummayah.
Diperkirakan landasan utamanya sudah dipersiapkan oleh Dinasti Umayyah dan
Abbasiyah memanfaatkannya. Inilah wakil dari kekhilafahan islam yang terbesar
dan terpanjang dalam sejarah islam klasik.
Beberapa dasar yang
dijadikan landasan berdirinya Dinasti Abbasiyah, pertama dasar kesatuan
untuk menghadapi perpecahan dinasti sebelumnya. Kedua, dasar universal
atau tidak berdasarkan kesukuan. Ketiga, dasar politik dan administrasi,
pengangkatan tidak berdasarkan keningratan. Keempat, dasar kesamaan
hukum untuk seluruh masyarakat muslim. Kelima, pemerintahan bersifat
Moderat, ras selain Arab juga berpengaruh dalam pemerintahan. Dan keenam,
hak-hak waris nabi tidak dicampuri.
Dinasti ini didirikan oleh
Abdullah al-Abbas al-Saffah alias Abul al-Abbas, sebagai pemimpin serta
khalifah pertamanya, keturunan dari Al-Abbas paman Rasulullah SAW di Baghdad pada
tahun 750 M sampai keruntuhannya 1258 M. Jadi masa keberlansungan kerajaan ini
selama 508 tahun. Merupakan reaksi dari merosotnya Kerajaan Umayyah dimata
rakyat. Ketidakpuasan kaum muslimin non-Arab juga berperan besar terhadap
jatuhnya Ummayah. Kaum mawali ini mengharapkan kesamaan
dengan orang Arab asli dalam bidang pemerintahan. Oleh karena itu obsesi
dinasti ini adalah mengganti system pemerintahan Umayyah yang bercorak Arab, militeristik
dan sekularistik menjadi pluralistic-etnis, saintifik dan religius.
Faktor pendukung serta
upaya yang dilakukan demi berdirinya kekhilafahan Abbas ini terdiri dari empat
segi. Pertama, Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas (pelopor
utama) membentuk kekuatan bawah tanah untuk melawan
Umayyah. Kedua, dilakukannya propaganda rahasia secara terus-menerus
untuk merebut hak Bani Hasyim dari tangan Bani Umayyah. Ketiga, memanfaatkan
kaum muslim non-Arab (mawali) dengan ide persamaan antara orang Arab dan
non-Arab, sebagai kekuatan pendukung. Keempat,
dilakukannya propaganda terang-terangan dengan diangkatnya bendera hitam simbol
pemberontakan terhadap Bani Umayyah yang dipimpin oleh Abu Muslim al-Hurasani
(kaum Bani Abbas) pada tahun 120 H/732M.
b. Periode
Perkembangan Dinasti Abbasiyah
Selama dinasti ini berdiri terdapat 37 pergantian khalifah. Pembagian
periode perkembangan dinasti ini, para ahli sejarah saling berbeda pendapat.
Namun pada pembahasan kali ini akan dipakai pembagian dengan dua periode. Periode
pertama (750-950M) terus
berkembangnya kebudayaan serta peradaban hingga mencapai puncak. Periode
kedua (950-1050M) atau periode disintegrasi, wilayah-wilayah kekuasaan
mulai meminta otonomisasi dan mulai melepaskan diri, juga berkuasanya dinasti
Buwaih dari Persia. Periode ketiga (1050-1258M) periode ini Bani Saljuk
dari Turki sangat berpengaruh di pemerintahan, sehingga khalifah tidak
mempunyai peran yang signifikan.
Periode pertama dimulai
dari kepemerintahan Abu Abbas as-Saffah sampai Abul-Fadhl Ja’far al-Mutawakkil.
Pada masa awal setelah berdirinya kerajaan muda ini, dimulailah pembentukkan
serta konsolidasi orientasi pemerintahan oleh Abu Ja’far al-Masur. Dengan
mengambil strategi berbeda dari dinasti Umayyah, yaitu dengan menjalin hubungan
dengan Persia dan mulai melengkapi pemerintahannya. Pertama, ia
memindahkan ibukota dari Damaskus ke Baghdad. Kedua, pengawal diambil
dari orang-orang Persia. Ketiga, meniru sistem administrasi Persia,
dengan mengangkat wazir (menteri) yang membawahi kepala-kepala
departemen. Keempat, mengangkat Muhammad bin Abd al-Rahman sebagai Hakim Tinggi
Negara serta memperbaiki system komunikasi antar wilayah dengan menambah fungsi
Jawatan Pos.
Dan menurut sejarah, masa puncak kejayaan Abbasiyah dicatat saat
kepemimpinan dibawah tangan khalifah Harun al-Rasyid, khususnya pada bidang
ilmu pengetahuan, kebudayaan dan perekonomian. Hasil dari perkembagan ekonomi,
digunakan olehnya untuk membangun berbagai infrastuktur seperti rumah sakit
umum, pendidikan dokter dan sekolah farmasi. Setelah itu perjuangannya
diteruskan oleh putranya Al-Ma’mun yang kemudian didirikanlah Bait al-Hikmah
sebagai pusat studi, perpustakaan, penerjemahan serta penelitian berbagai ilmu
pengetahuan terbesar waktu itu.
Akibat dari keberhasilannya
menyebarkan islam di berbagai wilayah, tercampuralah kebudayaan baru seperti
Persia dan Yunani yang menyebabkan ketertarikan mengkaji filsafat dan hazanah
pengetahuan baru. Dari sinilah mulai lahir filosof muslim seperti Al Kindi, Al
Farabi, Abn Rusd, dan Ibn Sina. Mereka membicarakan masalah logika, jiwa, etika,
negara, agama maupun manusia.
Eksistensi bahasa Arab
sejak diturunkannya Al-Qur’an, akhirnya dijadikan bahasa resmi negara,
penyebaran berbagai ilmu pengetahuan serta bahasa sehari-hari masyarakat.
Sehingga manggantikan bahasa nasional lain wilayah seperti Yunani, Persia,
Mesir, Afrika, dll. Dan berkembanglah ilmu-ilmu bahasa dan sastera Arab seperti
ilmu nahwu, sharaf, arudl dan balaghah.
c. Kemunduran dan Kehancuran
Dinasti Abbasiyah
Periode
kedua ini dimulai dari pemerintahan Abu Ja’far Muhammad al-Muntasir. Wilayah-wilayah
kekuasaan mulai tercerai-berai dan melepaskan diri lalu mendirikan
dinasti-dinasti kecil tersendiri. Disintegrasi ini disebabkan karena luasnya
wilayah dinasti Abbsiyah dan lambatnya komunikasi. Di Afrika Utara Syiah Ismailiah bangkit dan mendirikan dinasti Fatimiah, lalu
disusul dengan munculnya dinasti-dinasti lain seperti dinasti Idris di Maroko,
dinasti Aghlabi di Tunisia, dinasti Thuluni di Mesir dll.
Faktor kemunduran ini
disebabkan karena kepribadian khalifah sudah tidak diperhatikan lagi. Padahal
kepribadian sangat berpengaruh pada kebersihan pemerintahannya. Akibat pengaruh
sisa-sisa kejayaan, mereka terlena dalam kehidupan serba mewah, sehingga
urusan negara dinomor-duakan. Setelah
itu kekacauan mulai merembet kesemua aspek.
Kesulitan ekonomi mulai
terjadi, mulai dari terganggunya pertanian karena rusaknya irigasi dan tidak
adanya upaya perbaikan dari pemerintah, selain itu penghasilan utama Abbasiyah
adalah pajak dari wilayah, karena banyaknya wilayah yang melepaskan diri
akhirnya pendapatan menurun. Keadaan itu diperparah karena ternyata para
petugas pajak memonopoli pajak. Disini mulai terlihat kebenaran teori Ibnu
Khaldun, pemerintah mulai memonopoli kekayaan.
Setelah itu, dalam
rangka mempertahankan kekuasaan perdana menteri sembarangan mengambil
keputusan, yaitu dengan memasukkan kekuatan dari luar seperti Persia dan Turki,
yang akhirnya malah balik menghianati dan ikut menghancurkan negara itu sendiri
dengan cara menggerogoti kekuasaan sedikit demi sedikit dan menjadikan khalifah
hanya sebagai bonekanya.
Periode ketiga adalah
masa kehancuran dinasti Abbasiyah. Yaitu ketika kekuasaan sudah ditangan Bani
Buwaih dari Persia, sehingga khalifah hanya dijadikan boneka. Khalifah tidak
memiliki peran yang signifikan. Sebanyak dua belas khalifah setelah
al-Mutawakkil dipermainkan oleh para pengawal istana dari Turki. Mulai dari
melarikan diri karena tidak kuat menahan siksaan dari para pengawalnya, dipaksa
turun tahta, dipecat, disingkirkan, dipenjarakan bahkan ada yang dibunuh. Pada
waktu genting seperti inilah pasukan Hulaghu Khan dengan tentara Tartar-nya
suruhan dari raja Mongolia datang menyerang dan berhasil menembus benteng
pertahanan Baghdad pada 10 Februari 1258 M.
C. KERAJAAN USTMANIYAH
a. Berdirinya Kerajaan Utsmaniyah
Kerajaan ini bernama Utsman
diambil dari nama pendirinya yaitu Ustman bin Arthogrol bin Sulaiman Syah dari
suku Qayigh, cabang dari keturunan Oghuz Turki. Utsman lahir pada tahun yang sama ketika pasukan Hulagu menyerang Abbasiyah
yaitu 1258 M.
Awalnya kakek Utsman,
Sulaiman Syah adalah seorang pemimpin sukunya yang sedang mengembara ke
Turkistan. Ketika pasukan Mongol menyerang Turkistan mereka lalu mengembara ke
Persia untuk meminta pertolongan kepada saudara mereka orang-orang Turki
Saljuk. Ditengah perjalanan Sulaiman meninggal dan digantikan oleh Arthogrol
putranya. Sebagian pasukannya ada yang kembali dan ada yang ikut dengannya ke
Anatolia. Sesampainya disana mereka diterima baik penguasa Seljuk dan
mengabdikan diri pada Sultan Alauddin II dengan membantunya melawan Bizantium.
Atas bantuannya, Saljuk menang. Lalu Sultan memberi hadiah sebuah lahan diperbatasan Bizantium
bernama Syugyat untuk membendung kekuatan Bizantium dan
memerintahkan untuk melakukan ekspansi. Tiba-tiba pasukan Mongol
menyerang dan mampu mengalahkan Kesultanan Saljuk. Dengan kesempatan ini, Utsman
segera memproklamirkan kemerdekaan wilayahnya, karena Sultan juga telah
meninggal tanpa meninggalkan seorang putrapun. Ini yang menyebabkan para
pembesar Saljuk datang dan meminta perlindungan. Inilah awal mula masa kejayaan
Kesultanan Utsmani mulai ditapaki.
Faktor-faktor yang
menyebabkan Utsmani mudah melebarkan sayapnya dalam membangun sebuah kerajaan
baru adalah, secara geografis kerajaan ini terletak di perbatasan Bizantium,
seringnya terjadi konfrontasi antara keduanya menarik perhatian kaum muslim
Turki lainnya, sehingga semakin banyaklah pendukung Utsmani. Selain itu
Bizantium juga masih berada pada masa instabilitas bidang politik yang
melemahkannya serta merugikannya.
b.
Periode Perkembangan Kesultanan
Utsmani
Pada pembahasan kali ini akan dibagi
periodisasi perkembangan kesultanan Turki Utsmani dalam lima periode. Periode
pertama, (1299-1402M) dari masa Utsmani I sampai Bayazid I, mencakup awal
penaklukan-penaklukan wilayahnya. Periode kedua, (1403-1566M) dari
Muhammad I hingga Sulaiman I (al-Qanuni), pada masa ini Turki Utsmani mencapai
puncak masa kejayaannya. Periode ketiga, (1566-1703M) dari Sultan Salim
II sampai Musthafa II, awal kemerosotan Turki Utsmani ditandai dengan adanya
penaklukan-penaklukan dan jatuhnya Hongaria pada musuh. Periode keempat,
(1703-1839M), dimulai dari masa Ahmad II sampai Mahmud II, bertambah mundurnya
Kesultanan Turki Utsmani dengan terjadinya perjanjian-perjanjian dengan
raja-raja lain yang tidak menguntungkan Turki Utsmani. Dan periode kelima,
(1839-1922M) dari masa Abd al-Majid I sampai Muhammad VI, bangkitnya kebudayaan
dan administrasi dengan masuknya pengaruh dari Barat.
Periode pertama diawali
oleh kepemimpinan Utsmani I, seperti yang sudah dijelaskan diatas. Lalu
Arthogrol, setelah ayahnya wafat tampuk kekuasaan dipegang oleh Arkhan
putranya. Selain menaklukan beberapa wilayah seperti Izmir, beberapa daerah pinggiran konstatinopel, Ankara, serta
Galipoli, Arkhan juga membentuk pasukan tambahan yang diberi nama Yenisari atau
Inkisyariyah (Arab). Pasukan yang terkenal dengan kesuksesannya menaklukan
banyak wilayah. Banyak pendapat mengatakan tentara Inkisyariyah diambil dari
anak-anak Kristen yang kemudian dipaksa masuk islam, tapi sesungguhnya mereka
adalah anak-anak yang kehilangan orang tua akibat perang yang kemudian
dipelihara oleh penguasa Utsmani. Dan dengan sendirinya mereka masuk islam lalu
diajarkan jihad dalam medan perang.
Sepeninggalan Arkhan, kesultanan
dipegang oleh Murad I anaknya. Pada masanya beliau yang telah memindahkan
ibukota pemerintahan Utsmani ke Adrianpole (Edirne). Pada zamannya pula
terdapat kesepakatan pertama antara kaum muslimin dengan orang-orang Kristen, yaitu
Republik Regusa bersedia membayar upeti tahunan sebanyak 500 keping uang secara
kontan. Setelah kepergian Sultan Murad I karena terbunuh pada perang
Pantellaria, kekuasaan dilimpahkan kepada Bayazid I. Dibawah kepemimpinannya
dia berhasil melakukan ekspansi di negara-negara Kristen Anatolia hanya dalam
waktu setahun dan berhasil mengepung konstatinopel.
Sekarang pembahasan
memasuki periode kedua. Pada periode ini diawali dengan putra Bayazid yaitu
Muhammad I yang berhasil membangun kembali kesultanan akibat adanya perang
saudara ketiga putra Bayazid. Hemat penulis, kesultanan dipegang Muhammad
al-Fatih. Pada masa inilah kejayaan Turki Utsmani mencapai puncak karena
Konstatinopel berhasil dikuasai, yang membuka peluang besar untuk menaklukan
bangsa-bangsa Eropa. Kemajuan dibidang arsitektur pada masa ini juga mewarnai
gereja St. Sophia yang kemudian diubah menjadi masjid Aya Sophia yang dihiasi
dengan kaligrafi menggunakan tinta emas yang mengagumkan. Selain itu,
pada masa Sultan Sulaiman al-Qanuni wilayah kekuasaan hingga ke Eropa, Afrika
serta Asia.
c.
Permulaan Perpecahan Kesultanan
Turki Utsmaniyah
Masuk ke periode tiga, dimulai dengan Sultan
Salim II. Setelah kematian Sulaiman al-Qanuni Turki Utsmani mulai mengalami
perpecahan akibat perang saudara anak-anak Sulaiman. Sudah terjadi beberapa
peperangan, namun masih bisa menaklukan beberapa wilayah seperti Tunisia,
Cyprus, dan Don Joan. Diteruskan Sultan Murad III, disini mulai tampak
ketidak-berdayaan seorang Sultan. Karena pada masa pemerintahannya beliau tidak
mampu menerapkan kebijakannya untuk melarang segala minuman keras. Kehidupan
megah juga mulai muncul, Murad III mengadakan resepsi khitan putranya yang
berlangsung selama 45 hari, dengan berbagai kemegahan yang belum pernah
dilakukan khalifah-khalifah sebelumnya. Periode inilah muncul gerakan-gerakan
separatis, adanya perjanjian-perjanjian dengan bangsa Eropa yang banyak
merugikan pemerintah, juga banyaknya Sultan yang tak berkualitas sehingga menjadi
peluang besar Eropa melakukan berbagai aliansi untuk memporak-porandakan
kesultanan ini.
Diteruskan ke periode keempat, diawali oleh
Sultan Ahmad III. Wilayah-wilayah kekusaan mulai memisahkan diri. Tentara
Inkisyariyah juga mulai terlena dengan kemewahan sehingga membuat mereka mulai
malas dan membangkang. Padahal kekuatan Turki Utsmani adalah tentara ini.
Karena mereka merasa banyak berjasa terhadap kejayaan Turki Utsmani, mereka
mulai mengambil alih kekuasaan dari Sultan-sultan yang lemah. Di Eropa,
persenjataan juga mencapai perkembangan yang signifikan. Selain itu pada masa
ini juga bersamaan dengan meledaknya Perang Dunia Pertama. Diperparah lagi,
sekutu Turki Utsmani adalah Jerman yang mengalami kekalahan.
Pada periode kedua ini pula unsur-unsur Barat
mulai masuk. Ketika sultan Mahmud II memangku kekuasaan, beliau mengambil
kebijakan dengan mengganti tarbusy Romawi dengan sorban, serta menjadikan
pakaian Eropa pakaian resmi untuk semua pegawai pemerintahan. Disusul dengan
periode kelima. Dimana pengaruh Barat sudah dijadikan naungan untuk gerakan
freemansory musuh Turki Utsmani. Dimulai dari Mesir, akibat menyebarnya gerakan
perusak ini menghasilkan Muhammad Ali, Gubernur Mesir menjadi bonekanya untuk
merealisasikan ambisi-ambisinya menghancurkan kesultanan Turki Utsmani.
Muhammad Ali membuka pintu seluas-luasnya
untuk para ilmuwan non-Muslim mengeksplorasi seluruh peninggalan kuno dengan
studi secara detail. Ini yang akan mengirimkan sinyal sampai mana kelemahan
Turki Utsmani sehingga negeri-negeri Eropa bersiap menyiapkan strategi untuk
mendepak kesultanan ini. Beliau mengembangkan ilmu pengetahuan, ekonomi,
militer namun dengan menghilangkan syar’i keislaman.
Memang peradaban mengalami peningkatan.
Seperti dalam hal intelektual, munculnya berita harian Takvini Veka
(1831) dan Jurnal Tasviri Evkyar (1862) serta Terjumani Ahval
(1860). Didirikannya sekolah dasar dan menengah (1861) dan perguruan tinggi
(1869) serta pengiriman para siswa berprestasi ke Perancis untuk melanjutkan
studinya. Sehingga berpengaruh pula dalam bidang sastra dan bahasa dari
siswa-siswa jebolan luar negeri seperti, The Poets Wedding karya Ibrahim
Shinasi, Fatherland atau Silistria oleh Namik Kemal, Entertaining
Tales oleh Ahmad Midhat, dan Year in Istambul dari Mehmed Taufiq.
Namun Turki Utsmani sedang mengalami sakartul maut yang sebentar lagi merenggut
kekhalifahan terbesar islam ini.
Sultan-sultan berikutnya sudah memperbaiki
keadaan, seperti halnya Sultan Abdul Hamid II dengan pemikirannya
Pan-islamisme. Tapi apa daya, ternyata pasukan pendukungnya sudah terkena hasutan
sang musuh. Kemudian muncullah Mustofa Kemal at-Taturk sebagai serigala yang
menyerupai seorang penyelamat kehormatan pemerintah, yang wajah aslinya adalah
sekutu bangsa Eropa. Dia disambut hangat, hingga akhirnya menjadi terkenal dan
dengan begitu mudah menurunkan sultan Turki Utsmani ataupun mengusirnya.
Selanjutnya Majlis Kebangsaan Turki menetapkan Turki sebagai Negara Republik
dengan Mustofa Kemal sebagai Presiden. Inilah akhir kekhalifahan terakhir umat
islam.
D.
ANALISIS
Setelah melihat sekilas sejarah kejayaan dua dinasti terbesar islam
dapat kita lihat begitu besarnya semangat para khalifah untuk menyebarkan agama
islam sampai ke seluruh pelosok dunia. Dari pembahasan diatas, penulis
menangkap bahwa awal berdirinya suatu kerajaan itu dipimpin oleh seorang
khalifah yang alim, taqwa, ikhlas dan pemberani. Bisa dipastikan
khalifah-khalifah setelahnya yang sudah merasakan kenikmatan kejayaan pasti
akan mulai lemah. Sehingga merekalah yang nantinya menentukan sakaratul maut
dinasti yang mereka pimpin.
Mengenai teori Ibnu Khaldun tentang jatuhnya
sebuah Negara seperti yang sudah penulis kemukakan di awal, bisa dikatakan
mendekati kebenaran. Mulai dari dinasti Abbasiyah yang mengalami kemerosotan
perekonomian, setelah ditelisik penyebabnya bukan hanya banyak terjadi
kerusakan di bidang pertanian yang tak kunjung diperbaiki tapi juga kelakuan
para pejabat pajak yang ternyata memonopoli uang pajak untuk keperluannya
sendiri. Bisa diperkirakan, kurangnya hasil gaji mereka yang kemudian mendorong
mereka melakukan korupsi uang pajak, tak lain adalah keperluan mereka yang
semakin lama semakin bermacam-macam. Keperluan yang bermacam-macam ini
disebabkan oleh pola hidup mereka yang bermegah-megahan. Sesuatu yang tadinya
hanya menjadi kebutuhan sekunder, berubah menjadi kebutuhan primer yang harus
dipenuhi. Jadi, dari gaji awal mereka yang semula cukup menjadi serba
kekurangan dan akhirnya timbul masalah korupsi diantara mereka. Seperti yang
terdapat dalam Muqimahnya Ibnu Khaldun :
Sudah termasuk watak Negara menimbulkan
kemewahan. Sebabnya ialah apabila mengalahkan dan merampas penduduk suatu
negeri, maka kekayaan dan kemakmuran bangsa itu akan bertambah. Tapi bersamaan
dengan itu, kebutuhan mereka juga bertambah, sehingga keperluan hidup yang pokok
saja tidak lagi memuaskan. Mereka membutuhkan barang-barang kesenangan dan
kemewahan, yang sekunder, yang enak-enak dan yang tampak menarik.
Dari sudut pandang kesultanan Utsmaniyah,
dapat dilihat kemewahan mulai muncul pada masa Murad III. Sultan yang
memerintah pada periode ketiga, atau awal kemunduran imperium ini. Jika
kemewahan sudah tercium, maka tidak jauh dari situ kehancuran mulai mengintai.
Karena setelah kemewahan itu terbiasa, sifat-sifat keberanian mereka bergeser
dengan adanya kemakmuran yang menjamin adanya ketenangan dan kemanan. Sehingga ketika
mereka memegang kekuasaan, mereka menjadi lemah karena sudah terbiasa dengan
keadaan yang tenang dan aman. Bisa dipastikan setelah kepemimpinan Sultan Murad
III tidak ada kenaikan perkembangan yang signifikan seperti sebelum kejayaan
itu diraih.
Sudah termasuk watak Negara menumbuhkan
sifat menurut dan malas. Sebabnya ialah, suatu golongan umat manusia hanya bisa
mendapatkan kekuasaan dengan berjuang, yaitu perjuangan yang membawa
kemenangan, dan berdirinya suatu Negara. Apabila tujuan itu telah tercapai,
perjuangan akan berhenti.
Teori ketiga ciri-ciri
jatuhnya negara Ibnu Khaldun juga benar, ketika
negara sudah terbiasa hidup dalam keadaan aman, tenang dan tentram hingga
meresap menjadi watak mereka. Sehingga sifat ketegaran keberanian, ketabahan
telah hilang. Oleh karena itu mereka membutuhkan perlindungan dari golongan
lain. Seperti yang terjadi pada masa dinasti Abbasiyah, para menteri dengan
gampangnya mengambil kebijakan untuk memasukkan kekuatan dari luar yaitu Persia
dan Turki, yang kemudian kekuatan ini pula yang menghancurkan kerajaan ini.
“Barangkali berdasarkan apa yang terjadi dalam sejarah
islam, terutama dimasa dinasti Abbasiyah, Ibnu Khaldun memperhatikan bahwa
karena penguasa negara tidak dapat mengaharapkan dukungan dari kelompok
solidaritasnya yang lama, yang telah tenggelam dalam kemewahan dan sifat
ketegaran dan keperkasaan mereka telah dapat dikatakan habis sama sekali, ada
usaha dari pihak penguasa itu untuk mencari pendukung-pendukung baru yang tidak
berasal dari suku atau bangsa mereka sendiri.”
Dari analisis diatas, bisa diambil kesimpulan
teori Ibnu Khaldun tentang jatuhnya negara di tandai dengan tiga factor adalah
benar. Dibuktikan dengan kesamaan sebab jatuhnya dua kerajaan besar Islam yaitu
dengan adanya kehidupan para pemimpin yang bermewah-mewahan. Setelah itu mulai
munculnya berbagai kasus yang melemahkan pemerintahan, baik itu berebutnya
tahta diantara anak para sultan, munculnya pemberontak, menurunnya perekonomian
hingga masuknya orang luar kedalam pemerintahan yang sangat membahayakan rahasia-rahasi
sebuah kerajaan itu sendiri.
E.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Rahman Zainuddin. KEKUASAAN DAN NEGARA
Pemikiran Politik Ibnu Khaldun. Edited by Suwandi S. Brata. Cetakan ke-I.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1992.
Ajid Thohir. Perkembangan
Peradaban Di Kawasan Dunia Islam. Cetakan ke-1. Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2004.
Al-Allamah Abdurrahman
bin Muhammad bin Khaldun. Mukaddimah Ibnu Khaldun. Translated by Masturi
Irham, LC, Malik Supar, LC, and Abidin Zuhri. Cetakan ke-1. Jakarta: Pustaka
Al-Kautsar, 2011.
Dr. Ali Muhammad
Ash-Shalabi. Bangkit Dan Runtuhnya KHILAFAH UTSMANIYAH. Translated by
Samson Rahman, MA. Cetakan ke-II. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2004.
Imam Fuadi. SEJARAH
PERADABAN ISLAM. Edited by Muhammad Ridho. Cetakan ke-I. Yogyakarta: TERAS,
2002.
Moh. Nurhakim. Jatuhnya
Sebuah Tamadun. Cetakan ke-I. Jakarta: Kementerian Agama Republik
Indonesia, 2012.
W. Montgomery Watt. KEJAYAAN
ISLAM : Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis. Translated by Hartono
Hadikusumo. Cetakan ke-I. Yogyakarta: TIARA WACANA YOGYA, 1990.