Minggu, 27 Oktober 2013

PENGAPLIKASIAN TEORI IBNU KHALDUN TERHADAP RUNTUHNYA DUA KERAJAAN BESAR ISLAM


A.    PENDAHULUAN
Sejarah menuliskan bahwa perkembangan islam sejak Rasulullah wafat berkembang begitu pesat. Dibuktikan dengan banyaknya kerajaan – kerajaan islam yang tumbuh dan menyebar ke hampir seluruh benua Asia, Eropa  bahkan Afrika. Mulai dari kerajaan kecil sampai kerajaan yang besar. Namun sekarang kita tidak akan membahas proses semua kerajaan islam bisa berkembang, tapi bagaimana kerajaan islam terbesar dan terkuat seperti Dinasti Abbasiyah dan Dinasti Ustmaniyah dapat runtuh ?
Seperti yang kita ketahui, kerajaan islam sangat berperan penting terhadap peradapan maupun penyebaran agama islam diseluruh penjuru dunia. Ketika kerajaan Islam sedang dalam masa kejayaan, masa depan islam begitu gemilang. Dan otomatis, masa depan itu turut hilang ketika kerajaan – kerajaan itu mulai runtuh. Untuk menumbuhkan kembali semangat pembangunan umat muslim yang hilang setelah runtuhnya kerajaan terbesar islam sehingga melenyapkan hampir seluruh peradapan islam. Maka akan dibahas bagaimana masa kejayaan Dinasti Abbasiyah maupun Dinasti Ustmaniyah. Dan adakah sebab turun-temurun  jatuhnya kerajaan ini, sebagai pelajaran bagi generasi muda islam untuk tidak mengulangi kesalahan masa lalu dalam realitas sekarang.
Setelah kita membaca sedikit tentang teori Ibnu Khaldun, mengenai jatuhnya sebuah Negara terdapat tiga tahapan. Pertama, jika sebuah negara itu sudah menghendaki pemusatan kekuasaan dan kemegahan pada satu tangan. Kedua, ketika sifat kekuasaan itu mulai tercium bau kemewahan. Dan ketiga, saat sebuah negara berwatak kekuasaan negara itu ingin ketenangan dan kestabilan.[1] Dan begitu juga di Muqodimahnya Ibnu Khaldun disebutkan, jika sebuah Negara itu sudah menurunkan sifat hidup bermegah-megahan, dan sifat bermalas-malasan maka ini sudah dekat waktu ajal Negara itu akan hancur.[2]
Untuk membuktikan kebenaran teori ini, selanjutnya akan kita bahas secara singkat mulai dari berdirinya dua kerajaan islam Abbasiyah dan Ustmaniyah, kajayaan hingga runtuhnya dinasti ini.
B.     KERAJAAN ABBASIYAH
a.       Berdirinya Kerajaan Abbasiyah
Dinasti ini bisa dikatakan pelanjut Imperium dari dinasti Ummayah. Diperkirakan landasan utamanya sudah dipersiapkan oleh Dinasti Umayyah dan Abbasiyah memanfaatkannya. Inilah wakil dari kekhilafahan islam yang terbesar dan terpanjang dalam sejarah islam klasik.[3]
Beberapa dasar yang dijadikan landasan berdirinya Dinasti Abbasiyah, pertama dasar kesatuan untuk menghadapi perpecahan dinasti sebelumnya. Kedua, dasar universal atau tidak berdasarkan kesukuan. Ketiga, dasar politik dan administrasi, pengangkatan tidak berdasarkan keningratan. Keempat, dasar kesamaan hukum untuk seluruh masyarakat muslim. Kelima, pemerintahan bersifat Moderat, ras selain Arab juga berpengaruh dalam pemerintahan. Dan keenam, hak-hak waris nabi tidak dicampuri.[4]
            Dinasti ini didirikan oleh Abdullah al-Abbas al-Saffah alias Abul al-Abbas, sebagai pemimpin serta khalifah pertamanya, keturunan dari Al-Abbas paman Rasulullah SAW di Baghdad pada tahun 750 M sampai keruntuhannya 1258 M. Jadi masa keberlansungan kerajaan ini selama 508 tahun. Merupakan reaksi dari merosotnya Kerajaan Umayyah dimata rakyat. Ketidakpuasan kaum muslimin non-Arab juga berperan besar terhadap jatuhnya Ummayah. Kaum mawali ini mengharapkan kesamaan dengan orang Arab asli dalam bidang pemerintahan. Oleh karena itu obsesi dinasti ini adalah mengganti system pemerintahan Umayyah yang bercorak Arab, militeristik dan sekularistik menjadi pluralistic-etnis, saintifik dan religius.
Faktor pendukung serta upaya yang dilakukan demi berdirinya kekhilafahan Abbas ini terdiri dari empat segi. Pertama, Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas (pelopor utama) membentuk kekuatan bawah tanah untuk melawan Umayyah. Kedua, dilakukannya propaganda rahasia secara terus-menerus untuk merebut hak Bani Hasyim dari tangan Bani Umayyah. Ketiga, memanfaatkan kaum muslim non-Arab (mawali) dengan ide persamaan antara orang Arab dan non-Arab, sebagai kekuatan pendukung.[5] Keempat, dilakukannya propaganda terang-terangan dengan diangkatnya bendera hitam simbol pemberontakan terhadap Bani Umayyah yang dipimpin oleh Abu Muslim al-Hurasani (kaum Bani Abbas) pada tahun 120 H/732M.[6]

b.      Periode Perkembangan Dinasti Abbasiyah
Selama dinasti ini berdiri terdapat 37 pergantian khalifah. Pembagian periode perkembangan dinasti ini, para ahli sejarah saling berbeda pendapat. Namun pada pembahasan kali ini akan dipakai pembagian dengan dua periode. Periode pertama (750-950M) terus berkembangnya kebudayaan serta peradaban hingga mencapai puncak. Periode kedua (950-1050M) atau periode disintegrasi, wilayah-wilayah kekuasaan mulai meminta otonomisasi dan mulai melepaskan diri, juga berkuasanya dinasti Buwaih dari Persia. Periode ketiga (1050-1258M) periode ini Bani Saljuk dari Turki sangat berpengaruh di pemerintahan, sehingga khalifah tidak mempunyai peran yang signifikan.
Periode pertama dimulai dari kepemerintahan Abu Abbas as-Saffah sampai Abul-Fadhl Ja’far al-Mutawakkil. Pada masa awal setelah berdirinya kerajaan muda ini, dimulailah pembentukkan serta konsolidasi orientasi pemerintahan oleh Abu Ja’far al-Masur. Dengan mengambil strategi berbeda dari dinasti Umayyah, yaitu dengan menjalin hubungan dengan Persia dan mulai melengkapi pemerintahannya. Pertama, ia memindahkan ibukota dari Damaskus ke Baghdad. Kedua, pengawal diambil dari orang-orang Persia. Ketiga, meniru sistem administrasi Persia, dengan mengangkat wazir (menteri) yang membawahi kepala-kepala departemen. Keempat, mengangkat Muhammad bin Abd al-Rahman sebagai Hakim Tinggi Negara serta memperbaiki system komunikasi antar wilayah dengan menambah fungsi Jawatan Pos.[7]
Dan menurut sejarah, masa puncak kejayaan Abbasiyah dicatat saat kepemimpinan dibawah tangan khalifah Harun al-Rasyid, khususnya pada bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan dan perekonomian. Hasil dari perkembagan ekonomi, digunakan olehnya untuk membangun berbagai infrastuktur seperti rumah sakit umum, pendidikan dokter dan sekolah farmasi. Setelah itu perjuangannya diteruskan oleh putranya Al-Ma’mun yang kemudian didirikanlah Bait al-Hikmah sebagai pusat studi, perpustakaan, penerjemahan serta penelitian berbagai ilmu pengetahuan terbesar waktu itu.
Akibat dari keberhasilannya menyebarkan islam di berbagai wilayah, tercampuralah kebudayaan baru seperti Persia dan Yunani yang menyebabkan ketertarikan mengkaji filsafat dan hazanah pengetahuan baru. Dari sinilah mulai lahir filosof muslim seperti Al Kindi, Al Farabi, Abn Rusd, dan Ibn Sina. Mereka membicarakan masalah logika, jiwa, etika, negara, agama maupun manusia.
Eksistensi bahasa Arab sejak diturunkannya Al-Qur’an, akhirnya dijadikan bahasa resmi negara, penyebaran berbagai ilmu pengetahuan serta bahasa sehari-hari masyarakat. Sehingga manggantikan bahasa nasional lain wilayah seperti Yunani, Persia, Mesir, Afrika, dll. Dan berkembanglah ilmu-ilmu bahasa dan sastera Arab seperti ilmu nahwu, sharaf, arudl dan balaghah.
     
c.       Kemunduran dan Kehancuran Dinasti Abbasiyah
                        Periode kedua ini dimulai dari pemerintahan Abu Ja’far Muhammad al-Muntasir. Wilayah-wilayah kekuasaan mulai tercerai-berai dan melepaskan diri lalu mendirikan dinasti-dinasti kecil tersendiri. Disintegrasi ini disebabkan karena luasnya wilayah dinasti Abbsiyah dan lambatnya komunikasi[8]. Di Afrika Utara Syiah Ismailiah bangkit dan mendirikan dinasti Fatimiah, lalu disusul dengan munculnya dinasti-dinasti lain seperti dinasti Idris di Maroko, dinasti Aghlabi di Tunisia, dinasti Thuluni di Mesir dll.
                        Faktor kemunduran ini disebabkan karena kepribadian khalifah sudah tidak diperhatikan lagi. Padahal kepribadian sangat berpengaruh pada kebersihan pemerintahannya. Akibat pengaruh sisa-sisa kejayaan, mereka terlena dalam kehidupan serba mewah, sehingga urusan  negara dinomor-duakan. Setelah itu kekacauan mulai merembet kesemua aspek.
                        Kesulitan ekonomi mulai terjadi, mulai dari terganggunya pertanian karena rusaknya irigasi dan tidak adanya upaya perbaikan dari pemerintah, selain itu penghasilan utama Abbasiyah adalah pajak dari wilayah, karena banyaknya wilayah yang melepaskan diri akhirnya pendapatan menurun. Keadaan itu diperparah karena ternyata para petugas pajak memonopoli pajak. Disini mulai terlihat kebenaran teori Ibnu Khaldun, pemerintah mulai memonopoli kekayaan.
                        Setelah itu, dalam rangka mempertahankan kekuasaan perdana menteri sembarangan mengambil keputusan, yaitu dengan memasukkan kekuatan dari luar seperti Persia dan Turki, yang akhirnya malah balik menghianati dan ikut menghancurkan negara itu sendiri dengan cara menggerogoti kekuasaan sedikit demi sedikit dan menjadikan khalifah hanya sebagai bonekanya.
Periode ketiga adalah masa kehancuran dinasti Abbasiyah. Yaitu ketika kekuasaan sudah ditangan Bani Buwaih dari Persia, sehingga khalifah hanya dijadikan boneka. Khalifah tidak memiliki peran yang signifikan. Sebanyak dua belas khalifah setelah al-Mutawakkil dipermainkan oleh para pengawal istana dari Turki. Mulai dari melarikan diri karena tidak kuat menahan siksaan dari para pengawalnya, dipaksa turun tahta, dipecat, disingkirkan, dipenjarakan bahkan ada yang dibunuh. Pada waktu genting seperti inilah pasukan Hulaghu Khan dengan tentara Tartar-nya suruhan dari raja Mongolia datang menyerang dan berhasil menembus benteng pertahanan Baghdad pada 10 Februari 1258 M.
C.     KERAJAAN USTMANIYAH
a.       Berdirinya Kerajaan Utsmaniyah
Kerajaan ini bernama Utsman diambil dari nama pendirinya yaitu Ustman bin Arthogrol bin Sulaiman Syah dari suku Qayigh, cabang dari keturunan Oghuz Turki.[9] Utsman lahir pada tahun yang sama ketika pasukan Hulagu menyerang Abbasiyah yaitu 1258 M.
Awalnya kakek Utsman, Sulaiman Syah adalah seorang pemimpin sukunya yang sedang mengembara ke Turkistan. Ketika pasukan Mongol menyerang Turkistan mereka lalu mengembara ke Persia untuk meminta pertolongan kepada saudara mereka orang-orang Turki Saljuk. Ditengah perjalanan Sulaiman meninggal dan digantikan oleh Arthogrol putranya. Sebagian pasukannya ada yang kembali dan ada yang ikut dengannya ke Anatolia. Sesampainya disana mereka diterima baik penguasa Seljuk dan mengabdikan diri pada Sultan Alauddin II dengan membantunya melawan Bizantium.
Atas bantuannya, Saljuk menang. Lalu Sultan memberi hadiah sebuah lahan diperbatasan Bizantium bernama Syugyat untuk membendung kekuatan Bizantium[10] dan memerintahkan untuk melakukan ekspansi. Tiba-tiba pasukan Mongol menyerang dan mampu mengalahkan Kesultanan Saljuk. Dengan kesempatan ini, Utsman segera memproklamirkan kemerdekaan wilayahnya, karena Sultan juga telah meninggal tanpa meninggalkan seorang putrapun. Ini yang menyebabkan para pembesar Saljuk datang dan meminta perlindungan. Inilah awal mula masa kejayaan Kesultanan Utsmani mulai ditapaki.
Faktor-faktor yang menyebabkan Utsmani mudah melebarkan sayapnya dalam membangun sebuah kerajaan baru adalah, secara geografis kerajaan ini terletak di perbatasan Bizantium, seringnya terjadi konfrontasi antara keduanya menarik perhatian kaum muslim Turki lainnya, sehingga semakin banyaklah pendukung Utsmani. Selain itu Bizantium juga masih berada pada masa instabilitas bidang politik yang melemahkannya serta merugikannya.


b.      Periode Perkembangan Kesultanan Utsmani
Pada pembahasan kali ini akan dibagi periodisasi perkembangan kesultanan Turki Utsmani dalam lima periode. Periode pertama, (1299-1402M) dari masa Utsmani I sampai Bayazid I, mencakup awal penaklukan-penaklukan wilayahnya. Periode kedua, (1403-1566M) dari Muhammad I hingga Sulaiman I (al-Qanuni), pada masa ini Turki Utsmani mencapai puncak masa kejayaannya. Periode ketiga, (1566-1703M) dari Sultan Salim II sampai Musthafa II, awal kemerosotan Turki Utsmani ditandai dengan adanya penaklukan-penaklukan dan jatuhnya Hongaria pada musuh. Periode keempat, (1703-1839M), dimulai dari masa Ahmad II sampai Mahmud II, bertambah mundurnya Kesultanan Turki Utsmani dengan terjadinya perjanjian-perjanjian dengan raja-raja lain yang tidak menguntungkan Turki Utsmani. Dan periode kelima, (1839-1922M) dari masa Abd al-Majid I sampai Muhammad VI, bangkitnya kebudayaan dan administrasi dengan masuknya pengaruh dari Barat.[11]
Periode pertama diawali oleh kepemimpinan Utsmani I, seperti yang sudah dijelaskan diatas. Lalu Arthogrol, setelah ayahnya wafat tampuk kekuasaan dipegang oleh Arkhan putranya. Selain menaklukan beberapa wilayah seperti Izmir, beberapa daerah pinggiran konstatinopel, Ankara, serta Galipoli, Arkhan juga membentuk pasukan tambahan yang diberi nama Yenisari atau Inkisyariyah (Arab). Pasukan yang terkenal dengan kesuksesannya menaklukan banyak wilayah. Banyak pendapat mengatakan tentara Inkisyariyah diambil dari anak-anak Kristen yang kemudian dipaksa masuk islam, tapi sesungguhnya mereka adalah anak-anak yang kehilangan orang tua akibat perang yang kemudian dipelihara oleh penguasa Utsmani. Dan dengan sendirinya mereka masuk islam lalu diajarkan jihad dalam medan perang.[12]
Sepeninggalan Arkhan, kesultanan dipegang oleh Murad I anaknya. Pada masanya beliau yang telah memindahkan ibukota pemerintahan Utsmani ke Adrianpole (Edirne). Pada zamannya pula terdapat kesepakatan pertama antara kaum muslimin dengan orang-orang Kristen, yaitu Republik Regusa bersedia membayar upeti tahunan sebanyak 500 keping uang secara kontan. Setelah kepergian Sultan Murad I karena terbunuh pada perang Pantellaria, kekuasaan dilimpahkan kepada Bayazid I. Dibawah kepemimpinannya dia berhasil melakukan ekspansi di negara-negara Kristen Anatolia hanya dalam waktu setahun dan berhasil mengepung konstatinopel.
Sekarang pembahasan memasuki periode kedua. Pada periode ini diawali dengan putra Bayazid yaitu Muhammad I yang berhasil membangun kembali kesultanan akibat adanya perang saudara ketiga putra Bayazid. Hemat penulis, kesultanan dipegang Muhammad al-Fatih. Pada masa inilah kejayaan Turki Utsmani mencapai puncak karena Konstatinopel berhasil dikuasai, yang membuka peluang besar untuk menaklukan bangsa-bangsa Eropa. Kemajuan dibidang arsitektur pada masa ini juga mewarnai gereja St. Sophia yang kemudian diubah menjadi masjid Aya Sophia yang dihiasi dengan kaligrafi menggunakan tinta emas yang mengagumkan. Selain itu, pada masa Sultan Sulaiman al-Qanuni wilayah kekuasaan hingga ke Eropa, Afrika serta Asia.

c.       Permulaan Perpecahan Kesultanan Turki Utsmaniyah
Masuk ke periode tiga, dimulai dengan Sultan Salim II. Setelah kematian Sulaiman al-Qanuni Turki Utsmani mulai mengalami perpecahan akibat perang saudara anak-anak Sulaiman. Sudah terjadi beberapa peperangan, namun masih bisa menaklukan beberapa wilayah seperti Tunisia, Cyprus, dan Don Joan. Diteruskan Sultan Murad III, disini mulai tampak ketidak-berdayaan seorang Sultan. Karena pada masa pemerintahannya beliau tidak mampu menerapkan kebijakannya untuk melarang segala minuman keras. Kehidupan megah juga mulai muncul, Murad III mengadakan resepsi khitan putranya yang berlangsung selama 45 hari, dengan berbagai kemegahan yang belum pernah dilakukan khalifah-khalifah sebelumnya. Periode inilah muncul gerakan-gerakan separatis, adanya perjanjian-perjanjian dengan bangsa Eropa yang banyak merugikan pemerintah, juga banyaknya Sultan yang tak berkualitas sehingga menjadi peluang besar Eropa melakukan berbagai aliansi untuk memporak-porandakan kesultanan ini.
Diteruskan ke periode keempat, diawali oleh Sultan Ahmad III. Wilayah-wilayah kekusaan mulai memisahkan diri. Tentara Inkisyariyah juga mulai terlena dengan kemewahan sehingga membuat mereka mulai malas dan membangkang. Padahal kekuatan Turki Utsmani adalah tentara ini. Karena mereka merasa banyak berjasa terhadap kejayaan Turki Utsmani, mereka mulai mengambil alih kekuasaan dari Sultan-sultan yang lemah. Di Eropa, persenjataan juga mencapai perkembangan yang signifikan. Selain itu pada masa ini juga bersamaan dengan meledaknya Perang Dunia Pertama. Diperparah lagi, sekutu Turki Utsmani adalah Jerman yang mengalami kekalahan.
Pada periode kedua ini pula unsur-unsur Barat mulai masuk. Ketika sultan Mahmud II memangku kekuasaan, beliau mengambil kebijakan dengan mengganti tarbusy Romawi dengan sorban, serta menjadikan pakaian Eropa pakaian resmi untuk semua pegawai pemerintahan. Disusul dengan periode kelima. Dimana pengaruh Barat sudah dijadikan naungan untuk gerakan freemansory musuh Turki Utsmani. Dimulai dari Mesir, akibat menyebarnya gerakan perusak ini menghasilkan Muhammad Ali, Gubernur Mesir menjadi bonekanya untuk merealisasikan ambisi-ambisinya menghancurkan kesultanan Turki Utsmani.
Muhammad Ali membuka pintu seluas-luasnya untuk para ilmuwan non-Muslim mengeksplorasi seluruh peninggalan kuno dengan studi secara detail. Ini yang akan mengirimkan sinyal sampai mana kelemahan Turki Utsmani sehingga negeri-negeri Eropa bersiap menyiapkan strategi untuk mendepak kesultanan ini. Beliau mengembangkan ilmu pengetahuan, ekonomi, militer namun dengan menghilangkan syar’i keislaman.
Memang peradaban mengalami peningkatan. Seperti dalam hal intelektual, munculnya berita harian Takvini Veka (1831) dan Jurnal Tasviri Evkyar (1862) serta Terjumani Ahval (1860). Didirikannya sekolah dasar dan menengah (1861) dan perguruan tinggi (1869) serta pengiriman para siswa berprestasi ke Perancis untuk melanjutkan studinya. Sehingga berpengaruh pula dalam bidang sastra dan bahasa dari siswa-siswa jebolan luar negeri seperti, The Poets Wedding karya Ibrahim Shinasi, Fatherland atau Silistria oleh Namik Kemal, Entertaining Tales oleh Ahmad Midhat, dan Year in Istambul dari Mehmed Taufiq.[13] Namun Turki Utsmani sedang mengalami sakartul maut yang sebentar lagi merenggut kekhalifahan terbesar islam ini.
Sultan-sultan berikutnya sudah memperbaiki keadaan, seperti halnya Sultan Abdul Hamid II dengan pemikirannya Pan-islamisme. Tapi apa daya, ternyata pasukan pendukungnya sudah terkena hasutan sang musuh. Kemudian muncullah Mustofa Kemal at-Taturk sebagai serigala yang menyerupai seorang penyelamat kehormatan pemerintah, yang wajah aslinya adalah sekutu bangsa Eropa. Dia disambut hangat, hingga akhirnya menjadi terkenal dan dengan begitu mudah menurunkan sultan Turki Utsmani ataupun mengusirnya. Selanjutnya Majlis Kebangsaan Turki menetapkan Turki sebagai Negara Republik dengan Mustofa Kemal sebagai Presiden. Inilah akhir kekhalifahan terakhir umat islam.
D.    ANALISIS
Setelah melihat sekilas sejarah kejayaan dua dinasti terbesar islam dapat kita lihat begitu besarnya semangat para khalifah untuk menyebarkan agama islam sampai ke seluruh pelosok dunia. Dari pembahasan diatas, penulis menangkap bahwa awal berdirinya suatu kerajaan itu dipimpin oleh seorang khalifah yang alim, taqwa, ikhlas dan pemberani. Bisa dipastikan khalifah-khalifah setelahnya yang sudah merasakan kenikmatan kejayaan pasti akan mulai lemah. Sehingga merekalah yang nantinya menentukan sakaratul maut dinasti yang mereka pimpin.
Mengenai teori Ibnu Khaldun tentang jatuhnya sebuah Negara seperti yang sudah penulis kemukakan di awal, bisa dikatakan mendekati kebenaran. Mulai dari dinasti Abbasiyah yang mengalami kemerosotan perekonomian, setelah ditelisik penyebabnya bukan hanya banyak terjadi kerusakan di bidang pertanian yang tak kunjung diperbaiki tapi juga kelakuan para pejabat pajak yang ternyata memonopoli uang pajak untuk keperluannya sendiri. Bisa diperkirakan, kurangnya hasil gaji mereka yang kemudian mendorong mereka melakukan korupsi uang pajak, tak lain adalah keperluan mereka yang semakin lama semakin bermacam-macam. Keperluan yang bermacam-macam ini disebabkan oleh pola hidup mereka yang bermegah-megahan. Sesuatu yang tadinya hanya menjadi kebutuhan sekunder, berubah menjadi kebutuhan primer yang harus dipenuhi. Jadi, dari gaji awal mereka yang semula cukup menjadi serba kekurangan dan akhirnya timbul masalah korupsi diantara mereka. Seperti yang terdapat dalam Muqimahnya Ibnu Khaldun :
Sudah termasuk watak Negara menimbulkan kemewahan. Sebabnya ialah apabila mengalahkan dan merampas penduduk suatu negeri, maka kekayaan dan kemakmuran bangsa itu akan bertambah. Tapi bersamaan dengan itu, kebutuhan mereka juga bertambah, sehingga keperluan hidup yang pokok saja tidak lagi memuaskan. Mereka membutuhkan barang-barang kesenangan dan kemewahan, yang sekunder, yang enak-enak dan yang tampak menarik.[14]
Dari sudut pandang kesultanan Utsmaniyah, dapat dilihat kemewahan mulai muncul pada masa Murad III. Sultan yang memerintah pada periode ketiga, atau awal kemunduran imperium ini. Jika kemewahan sudah tercium, maka tidak jauh dari situ kehancuran mulai mengintai. Karena setelah kemewahan itu terbiasa, sifat-sifat keberanian mereka bergeser dengan adanya kemakmuran yang menjamin adanya ketenangan dan kemanan. Sehingga ketika mereka memegang kekuasaan, mereka menjadi lemah karena sudah terbiasa dengan keadaan yang tenang dan aman. Bisa dipastikan setelah kepemimpinan Sultan Murad III tidak ada kenaikan perkembangan yang signifikan seperti sebelum kejayaan itu diraih.
Sudah termasuk watak Negara menumbuhkan sifat menurut dan malas. Sebabnya ialah, suatu golongan umat manusia hanya bisa mendapatkan kekuasaan dengan berjuang, yaitu perjuangan yang membawa kemenangan, dan berdirinya suatu Negara. Apabila tujuan itu telah tercapai, perjuangan akan berhenti.[15]
Teori ketiga ciri-ciri jatuhnya negara Ibnu Khaldun juga benar, ketika negara sudah terbiasa hidup dalam keadaan aman, tenang dan tentram hingga meresap menjadi watak mereka. Sehingga sifat ketegaran keberanian, ketabahan telah hilang. Oleh karena itu mereka membutuhkan perlindungan dari golongan lain. Seperti yang terjadi pada masa dinasti Abbasiyah, para menteri dengan gampangnya mengambil kebijakan untuk memasukkan kekuatan dari luar yaitu Persia dan Turki, yang kemudian kekuatan ini pula yang menghancurkan kerajaan ini.
“Barangkali berdasarkan apa yang terjadi dalam sejarah islam, terutama dimasa dinasti Abbasiyah, Ibnu Khaldun memperhatikan bahwa karena penguasa negara tidak dapat mengaharapkan dukungan dari kelompok solidaritasnya yang lama, yang telah tenggelam dalam kemewahan dan sifat ketegaran dan keperkasaan mereka telah dapat dikatakan habis sama sekali, ada usaha dari pihak penguasa itu untuk mencari pendukung-pendukung baru yang tidak berasal dari suku atau bangsa mereka sendiri.”[16]
Dari analisis diatas, bisa diambil kesimpulan teori Ibnu Khaldun tentang jatuhnya negara di tandai dengan tiga factor adalah benar. Dibuktikan dengan kesamaan sebab jatuhnya dua kerajaan besar Islam yaitu dengan adanya kehidupan para pemimpin yang bermewah-mewahan. Setelah itu mulai munculnya berbagai kasus yang melemahkan pemerintahan, baik itu berebutnya tahta diantara anak para sultan, munculnya pemberontak, menurunnya perekonomian hingga masuknya orang luar kedalam pemerintahan yang sangat membahayakan rahasia-rahasi sebuah kerajaan itu sendiri.


E.     DAFTAR PUSTAKA
Abdul Rahman Zainuddin. KEKUASAAN DAN NEGARA Pemikiran Politik Ibnu Khaldun. Edited by Suwandi S. Brata. Cetakan ke-I. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1992.
Ajid Thohir. Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam. Cetakan ke-1. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004.
Al-Allamah Abdurrahman bin Muhammad bin Khaldun. Mukaddimah Ibnu Khaldun. Translated by Masturi Irham, LC, Malik Supar, LC, and Abidin Zuhri. Cetakan ke-1. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2011.
Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi. Bangkit Dan Runtuhnya KHILAFAH UTSMANIYAH. Translated by Samson Rahman, MA. Cetakan ke-II. Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2004.
Imam Fuadi. SEJARAH PERADABAN ISLAM. Edited by Muhammad Ridho. Cetakan ke-I. Yogyakarta: TERAS, 2002.
Moh. Nurhakim. Jatuhnya Sebuah Tamadun. Cetakan ke-I. Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia, 2012.
W. Montgomery Watt. KEJAYAAN ISLAM : Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis. Translated by Hartono Hadikusumo. Cetakan ke-I. Yogyakarta: TIARA WACANA YOGYA, 1990.



[1] Abdul Rahman Zainuddin, KEKUASAAN DAN NEGARA Pemikiran Politik Ibnu Khaldun, ed. Suwandi S. Brata, Cetakan ke-I (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1992), 233–236.
[2] Al-Allamah Abdurrahman bin Muhammad bin Khaldun, Mukaddimah Ibnu Khaldun, trans. Masturi Irham, LC, Malik Supar, LC, and Abidin Zuhri, Cetakan ke-1 (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2011), 283–284.
[3] Moh. Nurhakim, Jatuhnya Sebuah Tamadun, Cetakan ke-I (Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia, 2012), 71.
[4] Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam, Cetakan ke-1 (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2004), 44.
[5] Ibid., 47.
[6] Moh. Nurhakim, Jatuhnya Sebuah Tamadun, 71–72.
[7] Ibid., 72–73.
[8] W. Montgomery Watt, KEJAYAAN ISLAM : Kajian Kritis dari Tokoh Orientalis, trans. Hartono Hadikusumo, Cetakan ke-I (Yogyakarta: TIARA WACANA YOGYA, 1990), 165.
[9] Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam, 182.
[10] Imam Fuadi, SEJARAH PERADABAN ISLAM, ed. Muhammad Ridho, Cetakan ke-I (Yogyakarta: TERAS, 2002), 167.
[11] Ibid., 171–172.
[12] Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi, Bangkit Dan Runtuhnya KHILAFAH UTSMANIYAH, trans. Samson Rahman, MA, Cetakan ke-II (Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar, 2004), 56–57.
[13] Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban Di Kawasan Dunia Islam, 187–188.
[14] Al-Allamah Abdurrahman bin Muhammad bin Khaldun, Mukaddimah Ibnu Khaldun, 283.
[15] Ibid., 284.
[16] Abdul Rahman Zainuddin, KEKUASAAN DAN NEGARA Pemikiran Politik Ibnu Khaldun, 236.