Selasa, 15 Oktober 2013

“Pansil” Masuk UIN ?

Celana pensil merupakan sebutan untuk salah satu jenis skinny jeans atau jeans ketat. Disebut pensil karena memang bentuknya yang semakin kebawah semakin kecil. Jeans berasal dari Amerika pada abad ke-18, yang konon katanya pada masa itu jeans dipakai untuk para pekerja tambang yang menginginkan pakaian yang awet. Bahan jeans itu sendiri bernama denim, kasar, kaku dan ulet yang berasal dari Perancis. Oleh karena itu jeans sendiri bisa sampai dua minggu tahan tidak dicuci, bisa bayangkan bagaimana keadaan baju Anda jika dua minggu tidak dicuci ?.
Menurut survei terbaru dari 2.000 remaja mengatakan mengapa masih menggunakan skinny Jeans, karena mereka bangga bisa menunjukkan badan mereka muat pada jeans ketat. Sekarang pikiran mereka hanya modis, keren, gaul seperti yang ditawarkan diberbagai media massa. Mereka berfikir dengan memakai celana ketat bisa memberikan bentuk ideal tubuh mereka. Karena anggapan pensil dirancang untuk memberikan bentuk tubuh yang tidak mereka miliki, padahal inilah titik masalahnya Namun, inilah celana favorit hampir seluruh remaja dan bahkan jadi tren di Universitas Islam.
Fenomena kedatangan jeans didunia para remaja, disambut dengan fanatik oleh mereka. Bahkan secara tidak langsung juga telah menjadi budaya baru yang sudah menjamur dimanapun. Bagaimana jadinya kalo seluruh penerus bangsa kita mewariskan budaya pensil pada anak cucunya, bukan malah mengajarkan budaya santun berpakaian warisan nenek moyang ini. Maindset mereka pun telah diubah dengan campur tangan media massa di jaman globalisasi ini. Menjadi pribadi yang konsumerisme dan modis, pola pikir yang sama sekali tidak mencerminkan budaya kita, yang sudah terlanjur dibodohi oleh para londo yang kepengen menjajah negeri kita secara halus untuk kedua kalinya.
Terus siapa yang salah kalo mindset para pemuda bobrok ? pendidikanlah yang berperan penting terhadap perkembangan pola pikir mereka. Mereka yang berperan mendewasakan pola piker penerus bangsa ini, sehingga bisa membedakan mana yang benar dan yang salah. Tapi sayangnya faktor penting pendukung ini ternyata juga ikut-ikutan sistem pendidikan orang barat yang memisahkan agama dari ilmu pengetahuan. Yang menjadikan penerus bangsa ini semakin hancur moralnya. Sains dipisahkan dari agama, padahal seharusnya agama itu meyelubungi segala aspek. Akibatnya kecerdasan itu hanyalah pada pikiran namun tidak pada kecerdasan spiritual. Contoh real saja Gayus Tambunan, seorang lulusan Sekolah Tinggi Akutansi Negara, tidak ada yang memungkiri dia seorang yang cerdas, tapi hatinya buta akan harta, kecerdasan spiritualnya nol. Betapa bahayanya jika semua penerus bangsa seperti Gayus ?
Penanggulangan rusaknya sistem pendidikan ini dengan adanya integrasi islamisasi pendidikan yang dilakukan oleh semua Universitas Islam Negeri di seluruh Indonesia. Misi ini mengemban amanat untuk menyatukan kembali dunia pendidikan dengan unsur-unsur agama. Namun apa jadinya jika Universitas Islampun kehilangan unsur religinya. Pakaian muslimah sebagai ikon islami-pun berganti menjadi celana jeans, pensil pula, lalu kemana rok – rok itu dipensiunkan? Lalu apa bedanya Universitas Islam dengan Universitas barat ? mau dibawa kemana misi peng-islaman pendidikan ini jika Universitas saja tidak bisa mengatur gaya berpakaian mahasiswanya.
Apa ada ceritanya, kalau aturan yang paling dasar saja sudah tidak bisa ditegakkan, aturan-aturan yang lebih tinggi akan ditaati ? Apalagi menjalankan misi seberat itu. Ibarat seorang anak kecil yang belum sekolah diberi uang berjuta-juta untuk pembangunan jalan, mustahil bukan ?. Peraturan – peraturan hanyalah dijadikan hiasan majalah dinding. Dipasang di baliho ukuran super besar dan hanya menjadi sampah pemandangan.
Bagaimana mau ditaati jika memakai pensil ternyata sudah menjadi warisan budaya nenek moyang kakak-kakak kelas mereka. Ini menunjukkan betapa lemahnya aturan itu hingga menjadi sebuah kebiasaan. Aturan dibuat hanya untuk pelengkap, tanpa memikirkan untuk menjalankannya. Yang lebih ironis, celana legging atau celana panjang dari kain yang sangat ketat dan biasanya dipakai ketika memakai rok-pun  dipakai begitu saja dengan setelan kaos. Dengan warna cokelat sehingga terkesan seperti telanjang. Betapa rusaknya moral – moral mereka.
Namun apa yang dilakukan Dekan Universitas Islam itu sendiri ? menurut seorang mahasiswi dari sebuah Universitas Islam Negeri di Jawa Tengah, Dekan hanya memberi penyuluhan kepada dosen-dosen tertentu untuk memperingatkan mahasiswinya yang memakai celana tak senonoh itu. Dan itu sama sekali tidak membuahkan hasil, tentunya. Wong yang diajari dengan langsung diberi contoh didepan mata mereka, tanggapannya saja  “anak jaman sekarang itu beda sama anak jaman dulu”, apalagi hanya dengan teguran super lembut macam itu. Cara mendidik anak muda jaman sekarang kok masih di samakan dengan cara mendidik anak – anak seratus tahun yang lalu. Yang belum kenal dengan berbagai media dan tekhnologi.
Akhirnya Dekan menyerah. Dosen – dosen-pun mengeluh karena pemandangan yang tidak nyaman dimata. Dari dosen ke dosen, dari dosen ke mahasiswa hingga mahasiswa-ke mahasiswa hanya membicarakan ini. Jadilah buah bibir hingga keluar Universitas. Apalagi mulut masyarakat lebih tajam daripada samurai, jadi bisa dipastikan tanpa hitungan minggu gossip itu sudah menyebar dan berdampak citra buruk terhadap Universitas bersangkutan. Padahal tidak semua mahasiswi yang mengenakannya, hanya dari beberapa fakultas tertentu, tapi dampaknya merata untuk semua fakultas. Kejam bukan ?
Seperti halnya Tuhan, dibalik sebuah larangan pasti ada sesuatu yang melatar-belakanginya. Selain untuk menjadikan seorang muslimah yang baik dalam berpakaian, ternyata celana jeans model skinny ini menyebabkan berbagai bahaya. Mulai dari meralgia paresthetica, gangguan pada salah satu saraf di luar paha karena tekanan sehingga menjadikan kesemutan dan rasa nyeri. Sindrom celana ketat dengan indikasi ketidaknyamanan perut, mulas dan sering bersendawa, infeksi kandung kemih, infeksi jamur vagina, dermatitis kontak, dan bahkan pembekuan darah di kaki dan masih banyak lagi.
Padahal banyak cara-cara yang mungkin cukup efektif untuk memberantas virus pensil yang sudah mendarah daging itu. Jangan langsung meniadakan dan membabat habis, karena itu mungkin tidak akan berhasil, bagaimanapun budaya atau kebiasaan itu akan sangat sulit dirubah. Mulai saja dengan penyuluhan dari dokter-dokter terkenal tentang masalah-masalah yang ditimbulkan jeans. Lalu dengan diadakannya satu hari khusus dalam seminggu untuk mahasiswi memakai rok, jika masih ada yang memakai pensil, beri hukuman yang tegas dengan rampas pensilnya dan diganti dengan rok dari Universitas dengan model yang sangat kuno sehingga mahasiswi tersebut malu menggenakannya dan akhirnya jera. Atau mungkin, perbanyak intensitas lomba-lomba fashion show pakaian-pakaian muslimah, untuk menunjukan tanpa pensilpun mahasiswi masih bisa tampil cantik dan modis.
Sekarang terserah keputusan para petinggi Universitas Islam, mau melakukan penindak tegasan terhadap para mahasiswi pensil, menegakkan aturan yang telah dibuat dan menjalankan misi besarnya, atau tetap berputus asa ria membiarkan generasi muda Indonesia penyakitan, tak patuh aturan dan bermoral bobrok. Karena sesungguhnya, masih banyak jalan menuju Roma, jadi masih banyak pintu menuju generasi sehat dan berbudaya.

Tidak ada komentar: