Celana pensil merupakan sebutan untuk salah satu jenis
skinny jeans atau jeans ketat. Disebut pensil karena memang bentuknya yang
semakin kebawah semakin kecil. Jeans berasal
dari Amerika pada abad ke-18, yang konon katanya pada masa itu jeans dipakai
untuk para pekerja tambang yang menginginkan pakaian yang awet. Bahan jeans itu
sendiri bernama denim, kasar, kaku dan ulet yang berasal dari Perancis. Oleh
karena itu jeans sendiri bisa sampai dua minggu tahan tidak dicuci, bisa
bayangkan bagaimana keadaan baju Anda jika dua minggu tidak dicuci ?.
Menurut survei
terbaru dari 2.000 remaja mengatakan mengapa masih menggunakan skinny Jeans,
karena mereka bangga bisa menunjukkan badan mereka muat pada jeans ketat. Sekarang
pikiran mereka hanya modis, keren, gaul seperti yang ditawarkan diberbagai
media massa. Mereka berfikir dengan memakai celana ketat bisa memberikan bentuk ideal tubuh mereka. Karena
anggapan pensil dirancang untuk memberikan bentuk tubuh yang tidak mereka
miliki, padahal inilah titik masalahnya Namun, inilah celana favorit hampir seluruh remaja dan bahkan jadi tren di Universitas Islam.
Fenomena kedatangan jeans didunia para remaja, disambut dengan fanatik oleh mereka. Bahkan secara tidak langsung juga
telah menjadi budaya baru yang sudah menjamur dimanapun. Bagaimana jadinya kalo seluruh penerus bangsa kita mewariskan budaya
pensil pada anak cucunya, bukan malah mengajarkan budaya santun berpakaian
warisan nenek moyang ini. Maindset mereka pun telah diubah dengan campur tangan media massa di jaman
globalisasi ini. Menjadi pribadi yang konsumerisme dan modis, pola pikir yang sama
sekali tidak mencerminkan budaya kita, yang sudah terlanjur dibodohi oleh para londo
yang kepengen menjajah negeri kita secara halus untuk kedua kalinya.
Terus siapa
yang salah kalo mindset para pemuda bobrok ? pendidikanlah yang berperan
penting terhadap perkembangan pola pikir mereka. Mereka yang
berperan mendewasakan pola piker penerus bangsa ini, sehingga bisa membedakan
mana yang benar dan yang salah. Tapi sayangnya faktor penting
pendukung ini ternyata juga ikut-ikutan sistem pendidikan orang barat yang
memisahkan agama dari ilmu pengetahuan. Yang menjadikan penerus bangsa ini
semakin hancur moralnya. Sains dipisahkan dari agama, padahal seharusnya agama
itu meyelubungi segala aspek. Akibatnya kecerdasan itu hanyalah pada pikiran
namun tidak pada kecerdasan spiritual. Contoh real saja Gayus Tambunan, seorang
lulusan Sekolah Tinggi Akutansi Negara, tidak ada yang memungkiri dia seorang
yang cerdas, tapi hatinya buta akan harta, kecerdasan spiritualnya nol. Betapa bahayanya
jika semua penerus bangsa seperti Gayus ?
Penanggulangan
rusaknya sistem pendidikan ini dengan adanya integrasi islamisasi pendidikan
yang dilakukan oleh semua Universitas Islam
Negeri di seluruh Indonesia. Misi ini mengemban amanat untuk menyatukan kembali dunia pendidikan dengan unsur-unsur agama. Namun apa jadinya jika Universitas
Islampun kehilangan unsur religinya. Pakaian muslimah sebagai ikon islami-pun berganti menjadi celana jeans, pensil
pula, lalu kemana rok – rok itu dipensiunkan? Lalu apa bedanya Universitas
Islam dengan Universitas barat ? mau dibawa kemana misi peng-islaman pendidikan
ini jika Universitas saja tidak bisa mengatur gaya berpakaian mahasiswanya.
Apa ada ceritanya,
kalau aturan yang paling dasar saja sudah tidak bisa ditegakkan, aturan-aturan
yang lebih tinggi akan ditaati ? Apalagi menjalankan misi seberat itu. Ibarat seorang
anak kecil yang belum sekolah diberi uang berjuta-juta untuk pembangunan jalan,
mustahil bukan ?. Peraturan – peraturan hanyalah dijadikan hiasan majalah dinding.
Dipasang di baliho ukuran super besar dan hanya menjadi sampah pemandangan.
Bagaimana mau ditaati
jika memakai pensil ternyata sudah menjadi warisan budaya nenek moyang kakak-kakak
kelas mereka. Ini menunjukkan betapa lemahnya aturan itu hingga menjadi sebuah kebiasaan.
Aturan dibuat hanya untuk pelengkap, tanpa memikirkan untuk menjalankannya. Yang
lebih ironis, celana legging atau celana panjang dari kain yang sangat ketat dan
biasanya dipakai ketika memakai rok-pun dipakai begitu saja dengan setelan kaos. Dengan
warna cokelat sehingga terkesan seperti telanjang. Betapa rusaknya moral – moral mereka.
Namun apa yang
dilakukan Dekan Universitas Islam itu sendiri ? menurut seorang mahasiswi dari sebuah
Universitas Islam Negeri di Jawa Tengah, Dekan hanya memberi penyuluhan kepada dosen-dosen
tertentu untuk memperingatkan mahasiswinya yang memakai celana tak senonoh itu.
Dan itu sama sekali tidak membuahkan hasil, tentunya. Wong yang diajari dengan langsung
diberi contoh didepan mata mereka, tanggapannya saja “anak jaman sekarang itu beda sama anak jaman dulu”, apalagi hanya dengan teguran super lembut macam itu. Cara mendidik anak muda jaman sekarang kok masih di samakan dengan cara
mendidik anak – anak seratus tahun yang lalu. Yang belum kenal dengan berbagai
media dan tekhnologi.
Akhirnya Dekan
menyerah. Dosen – dosen-pun mengeluh karena pemandangan yang tidak nyaman dimata.
Dari dosen ke dosen, dari dosen ke mahasiswa hingga mahasiswa-ke mahasiswa hanya
membicarakan ini. Jadilah buah bibir hingga keluar Universitas. Apalagi mulut masyarakat
lebih tajam daripada samurai, jadi bisa dipastikan tanpa hitungan minggu gossip
itu sudah menyebar dan berdampak citra buruk terhadap Universitas bersangkutan.
Padahal tidak semua mahasiswi yang mengenakannya, hanya dari beberapa fakultas tertentu,
tapi dampaknya merata untuk semua fakultas. Kejam bukan ?
Seperti halnya
Tuhan, dibalik sebuah larangan pasti ada sesuatu yang melatar-belakanginya. Selain
untuk menjadikan seorang muslimah yang baik dalam berpakaian, ternyata celana
jeans model skinny ini menyebabkan berbagai bahaya. Mulai dari meralgia paresthetica,
gangguan pada salah satu saraf di luar paha karena tekanan sehingga menjadikan kesemutan
dan rasa nyeri. Sindrom celana ketat dengan indikasi ketidaknyamanan perut,
mulas dan sering bersendawa, infeksi kandung kemih, infeksi jamur vagina,
dermatitis kontak, dan bahkan pembekuan darah di kaki dan masih banyak lagi.
Padahal banyak
cara-cara yang mungkin cukup efektif untuk memberantas virus pensil yang sudah
mendarah daging itu. Jangan langsung meniadakan dan membabat habis, karena itu
mungkin tidak akan berhasil, bagaimanapun budaya atau kebiasaan itu akan sangat
sulit dirubah. Mulai saja dengan penyuluhan dari dokter-dokter terkenal tentang
masalah-masalah yang ditimbulkan jeans. Lalu dengan diadakannya satu hari
khusus dalam seminggu untuk mahasiswi memakai rok, jika masih ada yang memakai
pensil, beri hukuman yang tegas dengan rampas pensilnya dan diganti dengan rok
dari Universitas dengan model yang sangat kuno sehingga mahasiswi tersebut malu
menggenakannya dan akhirnya jera. Atau mungkin, perbanyak intensitas
lomba-lomba fashion show pakaian-pakaian muslimah, untuk menunjukan tanpa
pensilpun mahasiswi masih bisa tampil cantik dan modis.
Sekarang terserah
keputusan para petinggi Universitas Islam, mau melakukan penindak
tegasan terhadap para mahasiswi pensil, menegakkan aturan yang telah dibuat dan
menjalankan misi besarnya, atau tetap berputus asa ria membiarkan generasi muda
Indonesia penyakitan, tak patuh aturan dan bermoral bobrok. Karena sesungguhnya,
masih banyak jalan menuju Roma, jadi masih banyak pintu menuju generasi sehat dan berbudaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar