BAB I
PENDAHULUAN
A. Pendahuluan
Jawa adalah wilayah yang dahulunya banyak terdapat kerajaan-kerajaan. Mulai
dari kerajaan hindu sampai budha. Kehadiran dan penyebaran islam di pesisir
utara pulau Jawa dapat dibuktikan berdasarkan arkeologi dan sumber-sumber
babad, hikayat, legenda, serta berita-berita asing. Kehadiran islam baik para
pedagang maupun mubalig muslim melalui kota-kota sejak semula sudah berfungsi
sebagai pelabuhan dibawah kekuasaan kerajaan-kerajaan Hindu-Budha.
Berita asing dari China yang ditulis oleh Ma-Huan 1433 M dan berita Tom
Pires 1512-1515 dari Portugis menggambarkan kedatangan para pedagang dan ulama
di pesisir pantai Jawa. Berita H.J. de Graaf dan Th. G. Th Pigeaud, sangat
membantu baik untuk masa islamisai maupun perkembagannya. Islamisasi yang
terjadi di daerah pesisir utara Jawa dari bagian timur-barat lambat laun menghasilkan munculnya
kerajaan-kerajaan islam, mulai dari kerajaan Demak ke barat Cirebon dan Banten,
dari Demak ke pedalaman muncul Kerajaan Pajang dan Mataram dll. Namun disini
akan dijelaskan mengenai kerajaan Demak, Mataram, dan Surakarta.
B. Latar Belakang
1. Bagaimana perkembangan Kesultanan Demak ?
2. Bagaimana perkembangan Kesultanan Mataram ?
3. Bagaimana perkembangan Kesultanan Surakarta ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. Perkembangan Kesultanan Demak
Cerita-cerita babad
pada abad-abad sebelum munculnya raja Mataram pertama dipenuhi dengan legenda
yang menghubungkan munculnya Kerajaan Demak denga runtuhnya Majapahit dari
zaman pra-islam. Raden Patah, atau Fattah atau Victor menjadi pahlawan besar
dalam legenda ini.
Kesultanan Demak ini
adalah kesultanan/kerajaan Islam pertama terbesar di pesisir utara Jawa. Ini
adalah pelopor utama penyebaran islam pada umumnya. Menurut cerita tradisi
Mataram Jawa Timur, raja Demak yang pertama adalah Raden Patah, seorang putra
dari raja Majapahit yang terakhir ( Brawijaya). Yang kemudian diteruskan oleh
Pangeran Sabrang Lor, yang diambil dari tempat tinggalnya “seberang lor” atau
yang disebut Pate Rodim sr, atau menurut Hikayat Hasanuddin disebut Aria
Sumangsang yang meninggal sekitar tahun 1504.
Penguasa ketiga
Demak dalam buku-buku cerita Serat Kandha dan cerita babad adalah
Trenggana. Ia adalah saudara Pangeran Saberang Lor atau anak dari Raden Patah. Yang
konon pada tahun 1504 sudah memegang kekuasaan sampai 1518, kemudian dari tahun 1521 dan
berakhir 1546 karena dia gugur dalam ekspedisi ke Panarukan, untuk
menggabungkan kota pelabuhan “kafir” kewilayahnya dengan cara kekerasan yang
ternyata gagal. Dalam kurun waktu ini wilayah kerajaan telah diperluas ke barat
dan ke timur, dan Masjid Demak telah dibangun sebagai lambang kekuatan islam.
Di antara kedua masa
itu, 1519-1521 yang bertahta adalah Raja
Yunus (Pati Unus) dari Jepara, setelah menikahi putri Pangeran Sabrang Lor. Demak di bawah Pati Unus adalah
Demak yang berwawasan nusantara. Visi besarnya adalah menjadikan Demak sebagai kerajaan maritim yang
besar. Pada tahun 1512-1513 melancarkan perang laut melawan orang-orang
Portugis di Malaka, masa pemerintahannya kira-kira sampai meninggalnya 1521.[1]
Menurut Mendez
Pinto, setelah meninggalnya Trenggana, kesultanan dipimpin oleh Susuhunan
Prawata. Yaitu seorang alim yang tinggal di daerah Prawata.
Masjid Agung Demak jelaslah mendapat nama harum karena merupakan masjid
agung pertama dari kerajaan islam pertama di Jawa, oleh sebab itu, dibangunlah
Jemaah beserta masjid yang merupakan permulaan pengislaman pulau Jawa. Dan para
imam biasanya di panggil “penghulu” berarti “kepala”. Dalam Hikayat
Hasanuddin terdapat sebagian yang berisi tentang kelima imam Masjid Demak.
Imam yang pertama adalah Sunan Bonang atau Pangeran Makdum Ibrahim atau
Sunan Wadat Anyakra Wati, putra Pangeran Rahmat dari Ngampel Denta (Surabaya).
Ia dipanggil oleh “Ratu” (putra kedua Sultan Trenggana) atau penguasa Demak
untuk memangku jabatan tersebut dari tahun 1490-1506. Pada akhir hidupnya ia
pergi ke Surabaya, tempat ia wafat dan dimakamkan disampinh makam ayah
mertuannya.
Imam yang kedua menurut Hikayat Hasanuddin adalah Makdum Sampang.
Konon dia bertempat tinggal di Undung (sekarang Kudus), ia juga dipanggil oleh “Ratu”
Demak untuk menjadi seorang imam di masjid Demak dari tahun 1506-1515. Ia
pindah dari daerah asalnya Tuban karena merasa tidak nyaman bekerja dibawah
kekuasaan seorang adipati kafir. Setelah wafat pada usia lanjut, Ia lalu
dimakamkan disebelah barat masjid Demak.
Setelah itu posisinya digantikan oleh anaknya yaitu Kiai Gedeng Pambayun
seperti dalam Hikayat Hasanuddin. Namun, hanya dalam kurun 1515-1521,
karena tidak lama kemudian Ia pindah bersama Ibunya ke Jepara dan menjadi imam
disana. Ia bersama sanak saudaranya dimakamkan di gunung keramat Danareja.
Dan imam yang keempat menurut Hikayat Hasanuddin adalah sepupu
dari pihak ibu imam pendahulunya. Anak Nyai Pembarep, ipar Makdum Sampang
dengan gelar Penghulu Rahmatullah. Ia dipanggil Adipati Sabrang Lor untuk
menduduki jabatan ini, mulai 1524. Kematiannya dimakamkan disamping makam
Makdum Sampang.
Imam terakhir seperti yang disebutkan dalam Hikayat Hasanuddin
ialah Pangeran Kudus atau Pandita Rabani, berasal dari Kudus. Ia merupakan
putra dari Penghulu Rahmatullah. Dan Ia ditetapkan oleh Syekh Nurullah sebagai
Sunan Gunungjati.[2]
Menurut cerita tradisional sejarah Jawa, bangunan masjid Demak didirikan
oleh para wali bersama-sama dalam satu malam. Atap tengahnya ditopang seperti
lazimnya bangunan masjid dalam arsitektur kayu di jawa, yaitu dengan 4 tiang
kayu raksasa. Namun, salah satunya bukanlah satu batang kayu yang utuh,
melainkan tersusun dari beberapa balok yang diikat menjadi satu, yang konon itu
adalah sumbangan dari Sunan Kalijogo. Ia menduduki tempat yang penting dalam
cerita-cerita tentang masjid demak, karena dialah yang berjasa membenarkan arah
kiblat masjid, dan dia pula yang memperoleh baju wasiat “Antakusuma” yang jatuh
dari langit-langit masjid yang konon baju itu membuat kebal bagi yang
mengenakannya.
Legenda yang lain menyebutkan bahwa Ki Gedhe Sesela, tokoh yang menangkap
petir lalu dibawalah kepada Sultan Demak. Sebuah relief yang dibuat di atas
pintu gerbang utara bangunan yang sekarang, disisi kubur, untuk mengingatkan
kita tentang peristiwa ini. Pintu iti bernama Pintu Bledeg ‘Kilat’ yang
merupakan pintu gerbang utama masjid Demak. Sesela disini adalah suatu tempat
yang penuh dengan gejala-gejala vulkanis, yang berada di timur Demak. Dan ini
sangatlah dimuliakan sebagai moyang keturunan keluarga raja Mataram. Hingga
abad ke-20, dua kali dalam setahun Susuhunan Surakarta menyuruh mengambil api
dari atas makam Ki Gede Sesela, untuk menyalakan lampu dimuka ruang sucinya.
Mukjizat penangkapan petir ini dihubungkan dengan suatu keputusan politik
penting. Dan penghormatan kepada Ki Gede sesela ini merupakan tradisi bagi
wangsa Mataram yang dapat dihubungkan dengan cerita api surga pada zaman
Hindu-Budha, mengenai “asas Kekuasaan Syiwa yang berkilauan” dan “Lingga Syiwa
yang memancarkan sinar”.
Menurut S. Wardi, didekat pengimaman (mihrab) masjid Demak terdapat
sebuah tableau yang disemen dalam tembok. Yang itu menunjukan candra
sangkala, yaitu berwujud lukisan-lukisan konkret, namanya mempunyai nilai
angka, terdiri dari lukisan kepala, kaki, tubuh, dan ekor yang keseluruhan itu
menunjukan angka Jawa 1401 atau 1479 M. dan di pintu gerbang utama tertera pada
kayu tahun 1428 atau 1506 M. menunjukan tahun didirikannya masjid Demak, dan
tahun ini cocok ketika Sultan Trenggana (raja Demak) dating menghadiri
peresmian masjid.[3]
[4]
Cerita – cerita Jawa memberitakan adanya “kunjungan menghadap raja” ke
Keraton Majapahit sebagai kewajiban tahunan. Ini menunjukan kesetiaannya, juga
untuk menjalin hubungan dengan para pejabat Keraton Majapahit. Waktu raja Demak
sudah menjadi raja islam merdeka dan sultan, tidak ada jalan lain untuk tidak
meniru tata cara yang sudah dikenal baik itu dalam hal pemerintahan Negara dan
upacara keraton.[5]
Bagian-bagian penting peradaban Jawa Islam sekarang seperti wayang orang,
wayang topeng, gamelan, tembang mecapat, dan pembuatan keris dipandang sebagai
penemuan para wali yang hidup sezaman dengan Kesultanan Demak. Penemuan
tersebut mendapat kedudukan penting dalam peradaban Jawa sebelum islam terutama
dalam bidang peribadatan. Pada waktu abad ke-15 dan ke-16 kebanyakan daerah di
Jawa menggunakan tata cara ‘kafir’ dan harus diganti dengan upacara keagamaan
islam. Seni seperti wayang, gamelan itu telah kehilangan dari sifat sakralnya
dan menjadi sekuler. Oleh karena pengislaman yang dilakukan para wali membawa
sekularisme dalam kesenian berakibat pada berkembangnya kesenian jawa modern.
Berdirinya kerajaan Demak yang mendapatkan dukungan dari guru-guru
pesantren, yang dikenal dengan para wali dari pulau Jawa. Keadaan yang demikian
itu menjadikan tempat pertemuan para cendekiawan Jawa dan para guru pesantren.
Dari uraian Poerbatjaraka menunjukan bahwa pertumbuhan islam kejawen /
kitab-kitab Jawa yang memuat tentang keislaman, merupakan hasil karya
penulis-penulis Jawa. Kitab-kitab tua terkenal dengan nama Het Boek van
Bonang ( Buku Sunan Bonang) dan Een Javaanse Primbon Uit De Zestiende Eeuw
( Primbon Jawa Abad Enam Belas). [6]
Keruntuhan yang cepat pada Kesultanan Demak ini karena banyak pembunuhan
pada masa raja keempat Susuhunan Prawata. Menurut cerita-cerita babad dan
buku-buku cerita (serat kadha), Pangeran Seda Lepen telah dibunuh atas
suruhan Susuhunan Prawata, lalu abdi dalem pangeran membunuh orang yang telah
menghabisi nyawa majikannya itu. selanjutnya cerita-cerita babad dan tambo Jawa
Tengah memuat cerita romantic tentang pembunuhan Susuhunan Prawata dan istrinya
yang konon dibunuh oleh suruhan kemenakannya sendiri Aria Penangsang sebagai
balas dendam atas kematian ayahnya. Aria Penangsang juga mengusahakan kematian
Pangeran Kalinyamat karena masih mempunyai hubungan keluarga dengan raja Demak.
Dan Ia juga berencana membunuh Jaka Tingkir yang kelak akan menjadi Sultan
Pajang. Inilah yang membuat Jaka Tingkir memerangi Aria Penangsang. Aria
Penangsangpun gugur, demikianlah berakhirnya keluarga raja Demak.[7]
B. Perkembangan Kesultanan Mataram
Ki Ageng Pemanahan dihadiahi wilayah Mataram oleh Sultan Pajang Adiwijaya atas jasanya mengalahkan Arya Penangsang.
Kemudian Ki Ageng Pemanahan membangun
istananya di Pasargede atau Kotagede. Ki Ageng Pemanahan meninggal tahun 1584.
Sultan Pajang mengangkat Sutawijaya
(Panembahan Senopati) (1575-1601), putra Ki Ageng Pemanahan sebagai penguasa
baru di Mataram, yang sebelumnya sebagai putra angkat Sultan Pajang bergelar
"Mas Ngabehi Loring Pasar" (karena rumahnya di sebelah utara pasar). Mataram menjadi kerajaan dengan Sutawijaya sebagai Sultan, bergelar "Senapati Ing Alaga Sayidin Panatagama" artinya Panglima Perang dan Ulama Pengatur
Kehidupan Beragama.
Pada tahun 1601 Panembahan Senopati wafat dan digantikan putranya, Mas Jolang yang
bergelar Panembahan Hanyakrawati (1601-1613) dan kemudian dikenal sebagai
"Panembahan Seda ing Krapyak" karena wafat saat berburu di Krapyak
sebuah cagar alam binatang taman berburu tahun 1613. Ia memberi dorongan bagi
pengembangan kebudayaan, yaitu dengan memerintahkan penyusunan sejarah negeri
Demak.[8]
Pada masa pemerintahannya muncul berbagai serat suluk yang mempertemukan
tradisi jawa dengan ajaran mistik jawa.
Seperti Serat Suluk Wujil, yang berisi wejangan Sunan Bonang kepada
Wujil seorang bujang bekas budah raja Majapahit.[9]
Kemudian digantikan oleh putranya Pangeran Aryo
Martoputro. Karena sering sakit, kemudian
digantikan oleh kakaknya Raden Mas Rangsang. Gelar
pertama yang digunakan adalah Panembahan Hanyakrakusuma atau "Prabu
Pandita Hanyakrakusuma". Setelah Menaklukkan Madura beliau menggunakan
gelar "Susuhunan Hanyakrakusuma". Terakhir setelah 1640-an beliau
menggunakan gelar bergelar "Sultan Agung Senapati Ing Alaga
Abdurrahman" (1613-1645) . pada masa inilah mulai berusaha menaikan
keraton dibidang kebudayaan, sesuai dengan kedudukannya sebagai sebuah istana. Pada
tahun 1633 ia berhasil menyusun dan mengumumkan berlakunya system perhitungan
yang baru bagi seluruh kerajaan Mataram. Yakni perhitungan tahun Jawa, yang
menyesuaikan tahun hijriah, namun awal perhitungan tetap menggunakan tahun satu
Saka atau 78 Masehi.[10]
Tahun 1645 Sultan Agung wafat
dan digantikan putranya Susuhunan Amangkurat I.
kerajaan Mataram segera mengalami kemuduran sesudah wafatnya Sultan Agung. VOC
perlahan-lahan merampas daerah kekuasaan kerajaan Mataram. Bermula semenjak
timbulnya pemberontakan Trunajaya pada masa pemerintahan ini, yaitu
pemberontakan pasukan Makassar dan orang-orang Mataram sendiri yang tidak suka
dengan tindakan-tindakan Amangkurat I, yang sangat patuh pada VOC. Amangkurat I tidak mampu mengatasi pemberontakan
ini, meskipun sudah meminta bantuan dari pihak Belanda. Akhirnya Amangkurat II
turun tangan dan berhasil meredamkan pemberontakan dengan bayaran yang amat
tinggi, dan akhirnya terpaksa menyerahkan daerah Kerawang, Semarang, dan
sebagian daerah Priyangan kepada Belanda. Lalu ia membangun ibu kota baru
Kartasura di sebelah barat Pajang.
Karena kekecewaan hatinya terhadap Belanda, akhirnya dia diam-diam
membela Surapati. Begitu pula penggantinya Amangkurat III (1703-1704) yang
terkenal kejam dan kasar. Pangeran Puger merasa tidak suka dengan tindakannya
lalu meminta bantuan Belanda dan
berhasil merebut Kartasura dan dinobatkan menjadi raja dengan gelar Paku Buwana
I (1703-1719). Setelah itu diganti oleh Paku Buwana II (1726-1749), disini juga
terjadi pemberontakan oleh orang-orang Cina. Akhirnya Kartasurapun dibakar oleh
para pemberontak karena Paku Buwana II tidak memihak mereka. Pada tahun 1746 terjadi perang saudara antara
Pangeran Mangkubumi (adik Paku Buwana I) dengan Paku Buwana II karena tidak
setuju dengan adanya perjanjian Belanda
bahwa bea cukai akan dilakukan oleh mereka. Perang ini dapat diselesaikan oleh
Paku Buwana III dengan perjanjian Giyanti tanggal 13 Februari 1755. Dan pada
tahun ini pertama kalinya Mataram dipecah menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan
Surakarta. Inilah akhir dari kerajaan Mataram sebagai satu kesatuan politik dan
wilayah.[11]
[12]
Mataram merupakan
kerajaan berbasis agraris/pertanian dan relatif lemah secara maritim. Ia
meninggalkan beberapa jejak sejarah yang dapat dilihat hingga kini, seperti
kampung Matraman di Batavia/Jakarta, sistem persawahan
di Pantura Jawa Barat, penggunaan hanacaraka dalam literatur bahasa Sunda, politik feodal di
Pasundan, serta beberapa batas administrasi wilayah yang masih berlaku hingga
sekarang.
C. Perkembangan Kesultanan Surakarta
Kasunanan Surakarta
adalah sebuah kerajaan di Jawa Tengah yang
berdiri tahun 1755 sebagai
hasil dari perjanjian Giyanti 13 Februari 1755. Yaitu pembagian wilayah Mataram menjadi Kesultanan
Yogyakarta di bawah pimpinan Hamengku Buwana I dan Kesultanan Surakarta dibawah
pimpinan Paku Buwana III. [13]
Kerajaan Mataram yang berpusat di Surakarta sebagai
ibukota pemerintahan kemudian dihadapkan pada pemberontakan yang besar karena Pangeran Mangkubumi adik Pakubuwana II tahun 1746 yang meninggalkan keraton menggabungkan diri dengan
Raden Mas Said. Di tengah ramainya peperangan, Pakubuwana II
meninggal karena sakit tahun 1749. Namun, ia sempat
menyerahkan kedaulatan negerinya kepada VOC, yang diwakili oleh Baron von Hohendorff. Sejak saat itu, VOC lah yang dianggap berhak
melantik raja-raja keturunan Mataram.
Selanjutnya wilayah Kasunanan Surakarta semakin
berkurang, karena Perjanjian Salatiga 17 Maret 1757 menyebabkan Raden Mas Said
diakui sebagai seorang pangeran merdeka dengan wilayah kekuasaan berstatus
kadipaten. Sebagai penguasa, Raden Mas Said bergelar Adipati Arya Mangkunegara. Wilayah Surakarta
berkurang lebih jauh lagi setelah usainya Perang Diponegoro pada tahun 1830, di mana daerah-daerah mancanegara diberikan kepada Belanda sebagai ganti rugi
atas biaya peperangan.[14]
Raja berikutnya adalah Paku Buwana IV (1788-1820), Pada era pemerintahan Pakubuwana IV terjadi perundingan bersama yang isinya menerangkan bahwa Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, serta Praja Mangkunegaran memiliki kedudukan dan kedaulatan yang setara sehingga tidak boleh saling menyerang. Diteruskan oleh Pakubuwana V dan VI, dijuluki sebagai Sunan Ngabehi, karena baginda yang sangat kaya, baik kaya harta maupun kesaktian. Setelah wafat, pengganti Pakubuwana V adalah Sri Susuhunan Pakubuwana VI. Pakubuwana VI adalah pendukung perjuangan Pangeran Diponegoro, yang memberontak terhadap Kesultanan Yogyakarta dan pemerintah Hindia Belanda. Setelah menangkap Pangeran Diponegoro, Belanda tetap saja menangkap Pakubuwana VI dan membuangnya ke Ambon. Takhta Surakarta kemudian jatuh kepada paman Pakubuwana VI, Pakubuwana VII.
Pakubuwana VII, masa pemerintahan Pakubuwana VII dianggap sebagai puncak kejayaan sastra di Kasunanan Surakarta dengan pujangga besar Ranggawarsita sebagai pelopornya. Pemerintahannya berakhir saat wafatannya dan karena tidak memiliki putra mahkota maka Pakubuwana VII digantikan oleh kakaknya (lain ibu) bergelar Pakubuwana VIII. Kabangkitan kepustakaan Jawa berlangsung selama 125 tahun, dari 1757-1873 (dengan wafatnya pujangga Ranggawarsita). Perkembangan ini didapat dengan jalan mengubah kitab-kitab Jawa kuno ke dalam bahasa Jawa baru, penyusunan karya-karya baru, dan memanfaatkan kebendaharaan yang terdapat dalam kepustakaan baru.[15]
Kekuasaan dipimpin oleh Pakubuwana VIII dan IX, Pemerintahan Pakubuwana VIII berjalan selama tiga tahun hingga akhir hayatnya. Pakubuwana VIII digantikan putra Pakubuwana VI. Pemerintahan Pakubuwana IX berakhir saat kematiannya pada tanggal 16 Maret 1893. Ia digantikan putranya sebagai raja Surakarta selanjutnya, bergelar Pakubuwana X, meninggal pada tahun i 1939. Dilanjutkan Pakubuwana XI sampai tahun 1942. Kemudian Pakubuwana XII smapai tahun 1945.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kerajaan Demak adalah kerajaan islam pertama
terbesar di pesisir pantai utara Jawa. Kerajaan ini banyak mendapat dukungan
dari para wali. Terdapat bagian penting dalam peradaban Jawa Islam yaitu
perubahan upacara keagamaan dari ‘kafir’ menjadi islam. Seperti pengubahan
makna gamelan, wayang dll dari benda sakral menjadi media dakwah para wali.
Masa keemasan kerajaan ini dipimpin Pate Unus dan masa pemerintahan Trenggana
yang pada masa itu didirikanlah Masjid Demak sebagai symbol kekuatan islam.
Namun, kerajaan ini dengann cepat runtuh, karena banyaknya pembunuhan dari
pihak keluarga kerajaan sendiri dengan modus kekuasaan maupun balas dendam.
Sedangkan pada masa kerajaan Mataram, mencaoai masa
keemasan ketika dipimpin oleh Mas Jolang (1601-1613), yang dimasanya itu muncul
berbagai serat suluk, yang mempertemukan islam dengan ajaran jawa. Dan ia juga
memberi pengembangan kebudayaan yaitu dengan penyusunan sejarah negeri Demak. Kerajaan ini berakhir
karena adanya perang saudara yang mengakibatkan dipecahnya kerajaan Mataram
menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan Surakarta seperti yang tertuang
dalam perjanjian Gayanti. Kemunduran kerajaan ini, sedikit bnayak dipengaruhi
oleh campur tangan Belanda. Jejak sejarah kerajaan ini yang masih bias dilihat
sekarang adalah penggunaan hanacaraka dalam literature bahasa Sunda.
Yang terakhir adalah kerajaan Surakarta. Kerajaan
ini adalah hasil pembagian wilayah dari kerajaan Mataram berdasarkan perjanjian
Gayanti. Kerajaan inilah yang masih bias dijumpai sampai sekarang. Masa
keemasan kerajaan ini sewajtu dipimpin raja kedua dan keempat yaitu Panembahan
Senopati dan Sultan Agung yang pada masa ini kediaman raja merupakan pusat lalu
lintas perdagangan, ilmu pengetahuan islam, pusat kesusastraan dan kesenian
Jawa.
DAFTAR PUSTAKA
H.J. de Graaf dan Th. G. Th. Pigeaud. Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama
Di Jawa. cetakan ketiga. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti, 1989.
H.M. Darori Amin, Hj. Sri Suhanjati, and H.M. Amin Syukur. Islam &
Kebudayaan Jawa. cetakan pertama. Yogyakarta: Gama Media, 2000.
Simuh. Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita. cetakan
pertama. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press), 1988.
Wiyoso Yudoseputro. Pengantar Seni Rupa Islam Di Indonesia.
cetakan ke-10. Bandung: Angkasa, n.d.
[1]
Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama
Di Jawa,
cetakan ketiga (Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti, 1989), 38–52.
[2]
Ibid., 52–55.
[3]
Ibid., 35.
[4]
Wiyoso Yudoseputro, Pengantar
Seni Rupa Islam Di Indonesia, cetakan ke-10 (Bandung: Angkasa, n.d.), 46.
[5]
H.J. de Graaf dan Th. G. Th.
Pigeaud, Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama Di Jawa, 75.
[6]
Simuh, Mistik Islam Kejawen
Raden Ngabehi Ranggawarsita, cetakan pertama (Jakarta: Universitas
Indonesia (UI-Press), 1988), 22–23.
[7]
H.J. de Graaf dan Th. G. Th.
Pigeaud, Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama Di Jawa, 83–91.
[8]
Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi
Ranggawarsita,
10–11.
[9]
Ibid., 23–24.
[10]
Ibid., 12.
[11]
H.M. Darori Amin, Hj. Sri
Suhanjati, and H.M. Amin Syukur, Islam & Kebudayaan Jawa, cetakan
pertama (Yogyakarta: Gama Media, 2000), 208.
[12]
Simuh, Mistik Islam Kejawen
Raden Ngabehi Ranggawarsita, 10–15.
[13]
Ibid., 15.
[14]
Ibid.
[15]
Ibid., 25.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar