Kamis, 17 Oktober 2013

Perkembangan Kerajaan Islam di Jawa





BAB I
PENDAHULUAN
A.    Pendahuluan
Jawa adalah wilayah yang dahulunya banyak terdapat kerajaan-kerajaan. Mulai dari kerajaan hindu sampai budha. Kehadiran dan penyebaran islam di pesisir utara pulau Jawa dapat dibuktikan berdasarkan arkeologi dan sumber-sumber babad, hikayat, legenda, serta berita-berita asing. Kehadiran islam baik para pedagang maupun mubalig muslim melalui kota-kota sejak semula sudah berfungsi sebagai pelabuhan dibawah kekuasaan kerajaan-kerajaan Hindu-Budha.
Berita asing dari China yang ditulis oleh Ma-Huan 1433 M dan berita Tom Pires 1512-1515 dari Portugis menggambarkan kedatangan para pedagang dan ulama di pesisir pantai Jawa. Berita H.J. de Graaf dan Th. G. Th Pigeaud, sangat membantu baik untuk masa islamisai maupun perkembagannya. Islamisasi yang terjadi di daerah pesisir utara Jawa dari bagian timur-barat  lambat laun menghasilkan munculnya kerajaan-kerajaan islam, mulai dari kerajaan Demak ke barat Cirebon dan Banten, dari Demak ke pedalaman muncul Kerajaan Pajang dan Mataram dll. Namun disini akan dijelaskan mengenai kerajaan Demak, Mataram, dan Surakarta.
B.     Latar Belakang
1.      Bagaimana perkembangan Kesultanan Demak ?
2.      Bagaimana perkembangan Kesultanan Mataram ?
3.      Bagaimana perkembangan Kesultanan Surakarta ?


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Perkembangan Kesultanan Demak
Cerita-cerita babad pada abad-abad sebelum munculnya raja Mataram pertama dipenuhi dengan legenda yang menghubungkan munculnya Kerajaan Demak denga runtuhnya Majapahit dari zaman pra-islam. Raden Patah, atau Fattah atau Victor menjadi pahlawan besar dalam legenda ini.
Kesultanan Demak ini adalah kesultanan/kerajaan Islam pertama terbesar di pesisir utara Jawa. Ini adalah pelopor utama penyebaran islam pada umumnya. Menurut cerita tradisi Mataram Jawa Timur, raja Demak yang pertama adalah Raden Patah, seorang putra dari raja Majapahit yang terakhir ( Brawijaya). Yang kemudian diteruskan oleh Pangeran Sabrang Lor, yang diambil dari tempat tinggalnya “seberang lor” atau yang disebut Pate Rodim sr, atau menurut Hikayat Hasanuddin disebut Aria Sumangsang yang meninggal sekitar tahun 1504.
Penguasa ketiga Demak dalam buku-buku cerita Serat Kandha dan cerita babad adalah Trenggana. Ia adalah saudara Pangeran Saberang Lor atau anak dari Raden Patah. Yang konon pada tahun 1504 sudah memegang kekuasaan sampai 1518, kemudian dari tahun 1521 dan berakhir 1546 karena dia gugur dalam ekspedisi ke Panarukan, untuk menggabungkan kota pelabuhan “kafir” kewilayahnya dengan cara kekerasan yang ternyata gagal. Dalam kurun waktu ini wilayah kerajaan telah diperluas ke barat dan ke timur, dan Masjid Demak telah dibangun sebagai lambang kekuatan islam.
Di antara kedua masa itu, 1519-1521  yang bertahta adalah Raja Yunus (Pati Unus) dari Jepara, setelah menikahi putri Pangeran Sabrang Lor. Demak di bawah Pati Unus adalah Demak yang berwawasan nusantara. Visi besarnya adalah menjadikan Demak sebagai kerajaan maritim yang besar. Pada tahun 1512-1513 melancarkan perang laut melawan orang-orang Portugis di Malaka, masa pemerintahannya kira-kira sampai meninggalnya 1521.[1]
Menurut Mendez Pinto, setelah meninggalnya Trenggana, kesultanan dipimpin oleh Susuhunan Prawata. Yaitu seorang alim yang tinggal di daerah Prawata.
Masjid Agung Demak jelaslah mendapat nama harum karena merupakan masjid agung pertama dari kerajaan islam pertama di Jawa, oleh sebab itu, dibangunlah Jemaah beserta masjid yang merupakan permulaan pengislaman pulau Jawa. Dan para imam biasanya di panggil “penghulu” berarti “kepala”. Dalam Hikayat Hasanuddin terdapat sebagian yang berisi tentang kelima imam Masjid Demak.
Imam yang pertama adalah Sunan Bonang atau Pangeran Makdum Ibrahim atau Sunan Wadat Anyakra Wati, putra Pangeran Rahmat dari Ngampel Denta (Surabaya). Ia dipanggil oleh “Ratu” (putra kedua Sultan Trenggana) atau penguasa Demak untuk memangku jabatan tersebut dari tahun 1490-1506. Pada akhir hidupnya ia pergi ke Surabaya, tempat ia wafat dan dimakamkan disampinh makam ayah mertuannya.
Imam yang kedua menurut Hikayat Hasanuddin adalah Makdum Sampang. Konon dia bertempat tinggal di Undung (sekarang Kudus), ia juga dipanggil oleh “Ratu” Demak untuk menjadi seorang imam di masjid Demak dari tahun 1506-1515. Ia pindah dari daerah asalnya Tuban karena merasa tidak nyaman bekerja dibawah kekuasaan seorang adipati kafir. Setelah wafat pada usia lanjut, Ia lalu dimakamkan disebelah barat masjid Demak.
Setelah itu posisinya digantikan oleh anaknya yaitu Kiai Gedeng Pambayun seperti dalam Hikayat Hasanuddin. Namun, hanya dalam kurun 1515-1521, karena tidak lama kemudian Ia pindah bersama Ibunya ke Jepara dan menjadi imam disana. Ia bersama sanak saudaranya dimakamkan di gunung keramat Danareja.
Dan imam yang keempat menurut Hikayat Hasanuddin adalah sepupu dari pihak ibu imam pendahulunya. Anak Nyai Pembarep, ipar Makdum Sampang dengan gelar Penghulu Rahmatullah. Ia dipanggil Adipati Sabrang Lor untuk menduduki jabatan ini, mulai 1524. Kematiannya dimakamkan disamping makam Makdum Sampang.
Imam terakhir seperti yang disebutkan dalam Hikayat Hasanuddin ialah Pangeran Kudus atau Pandita Rabani, berasal dari Kudus. Ia merupakan putra dari Penghulu Rahmatullah. Dan Ia ditetapkan oleh Syekh Nurullah sebagai Sunan Gunungjati.[2]
Menurut cerita tradisional sejarah Jawa, bangunan masjid Demak didirikan oleh para wali bersama-sama dalam satu malam. Atap tengahnya ditopang seperti lazimnya bangunan masjid dalam arsitektur kayu di jawa, yaitu dengan 4 tiang kayu raksasa. Namun, salah satunya bukanlah satu batang kayu yang utuh, melainkan tersusun dari beberapa balok yang diikat menjadi satu, yang konon itu adalah sumbangan dari Sunan Kalijogo. Ia menduduki tempat yang penting dalam cerita-cerita tentang masjid demak, karena dialah yang berjasa membenarkan arah kiblat masjid, dan dia pula yang memperoleh baju wasiat “Antakusuma” yang jatuh dari langit-langit masjid yang konon baju itu membuat kebal bagi yang mengenakannya.
Legenda yang lain menyebutkan bahwa Ki Gedhe Sesela, tokoh yang menangkap petir lalu dibawalah kepada Sultan Demak. Sebuah relief yang dibuat di atas pintu gerbang utara bangunan yang sekarang, disisi kubur, untuk mengingatkan kita tentang peristiwa ini. Pintu iti bernama Pintu Bledeg ‘Kilat’ yang merupakan pintu gerbang utama masjid Demak. Sesela disini adalah suatu tempat yang penuh dengan gejala-gejala vulkanis, yang berada di timur Demak. Dan ini sangatlah dimuliakan sebagai moyang keturunan keluarga raja Mataram. Hingga abad ke-20, dua kali dalam setahun Susuhunan Surakarta menyuruh mengambil api dari atas makam Ki Gede Sesela, untuk menyalakan lampu dimuka ruang sucinya. Mukjizat penangkapan petir ini dihubungkan dengan suatu keputusan politik penting. Dan penghormatan kepada Ki Gede sesela ini merupakan tradisi bagi wangsa Mataram yang dapat dihubungkan dengan cerita api surga pada zaman Hindu-Budha, mengenai “asas Kekuasaan Syiwa yang berkilauan” dan “Lingga Syiwa yang memancarkan sinar”.
Menurut S. Wardi, didekat pengimaman (mihrab) masjid Demak terdapat sebuah tableau yang disemen dalam tembok. Yang itu menunjukan candra sangkala, yaitu berwujud lukisan-lukisan konkret, namanya mempunyai nilai angka, terdiri dari lukisan kepala, kaki, tubuh, dan ekor yang keseluruhan itu menunjukan angka Jawa 1401 atau 1479 M. dan di pintu gerbang utama tertera pada kayu tahun 1428 atau 1506 M. menunjukan tahun didirikannya masjid Demak, dan tahun ini cocok ketika Sultan Trenggana (raja Demak) dating menghadiri peresmian masjid.[3] [4]
Cerita – cerita Jawa memberitakan adanya “kunjungan menghadap raja” ke Keraton Majapahit sebagai kewajiban tahunan. Ini menunjukan kesetiaannya, juga untuk menjalin hubungan dengan para pejabat Keraton Majapahit. Waktu raja Demak sudah menjadi raja islam merdeka dan sultan, tidak ada jalan lain untuk tidak meniru tata cara yang sudah dikenal baik itu dalam hal pemerintahan Negara dan upacara keraton.[5]
Bagian-bagian penting peradaban Jawa Islam sekarang seperti wayang orang, wayang topeng, gamelan, tembang mecapat, dan pembuatan keris dipandang sebagai penemuan para wali yang hidup sezaman dengan Kesultanan Demak. Penemuan tersebut mendapat kedudukan penting dalam peradaban Jawa sebelum islam terutama dalam bidang peribadatan. Pada waktu abad ke-15 dan ke-16 kebanyakan daerah di Jawa menggunakan tata cara ‘kafir’ dan harus diganti dengan upacara keagamaan islam. Seni seperti wayang, gamelan itu telah kehilangan dari sifat sakralnya dan menjadi sekuler. Oleh karena pengislaman yang dilakukan para wali membawa sekularisme dalam kesenian berakibat pada berkembangnya kesenian jawa modern.
Berdirinya kerajaan Demak yang mendapatkan dukungan dari guru-guru pesantren, yang dikenal dengan para wali dari pulau Jawa. Keadaan yang demikian itu menjadikan tempat pertemuan para cendekiawan Jawa dan para guru pesantren. Dari uraian Poerbatjaraka menunjukan bahwa pertumbuhan islam kejawen / kitab-kitab Jawa yang memuat tentang keislaman, merupakan hasil karya penulis-penulis Jawa. Kitab-kitab tua terkenal dengan nama Het Boek van Bonang ( Buku Sunan Bonang) dan Een Javaanse Primbon Uit De Zestiende Eeuw ( Primbon Jawa Abad Enam Belas). [6]
Keruntuhan yang cepat pada Kesultanan Demak ini karena banyak pembunuhan pada masa raja keempat Susuhunan Prawata. Menurut cerita-cerita babad dan buku-buku cerita (serat kadha), Pangeran Seda Lepen telah dibunuh atas suruhan Susuhunan Prawata, lalu abdi dalem pangeran membunuh orang yang telah menghabisi nyawa majikannya itu. selanjutnya cerita-cerita babad dan tambo Jawa Tengah memuat cerita romantic tentang pembunuhan Susuhunan Prawata dan istrinya yang konon dibunuh oleh suruhan kemenakannya sendiri Aria Penangsang sebagai balas dendam atas kematian ayahnya. Aria Penangsang juga mengusahakan kematian Pangeran Kalinyamat karena masih mempunyai hubungan keluarga dengan raja Demak. Dan Ia juga berencana membunuh Jaka Tingkir yang kelak akan menjadi Sultan Pajang. Inilah yang membuat Jaka Tingkir memerangi Aria Penangsang. Aria Penangsangpun gugur, demikianlah berakhirnya keluarga raja Demak.[7]
B.     Perkembangan Kesultanan Mataram
 Ki Ageng Pemanahan dihadiahi wilayah Mataram oleh Sultan Pajang Adiwijaya atas jasanya mengalahkan Arya Penangsang. Kemudian  Ki Ageng Pemanahan membangun istananya di Pasargede atau Kotagede. Ki Ageng Pemanahan meninggal tahun 1584. Sultan Pajang mengangkat Sutawijaya (Panembahan Senopati) (1575-1601), putra Ki Ageng Pemanahan sebagai penguasa baru di Mataram, yang sebelumnya sebagai putra angkat Sultan Pajang bergelar "Mas Ngabehi Loring Pasar" (karena rumahnya di sebelah utara pasar).  Mataram menjadi kerajaan dengan Sutawijaya sebagai Sultan, bergelar "Senapati Ing Alaga Sayidin Panatagama" artinya Panglima Perang dan Ulama Pengatur Kehidupan Beragama.
Pada tahun 1601  Panembahan Senopati wafat dan digantikan putranya, Mas Jolang yang bergelar Panembahan Hanyakrawati  (1601-1613) dan kemudian dikenal sebagai "Panembahan Seda ing Krapyak" karena wafat saat berburu di Krapyak sebuah cagar alam binatang taman berburu tahun 1613. Ia memberi dorongan bagi pengembangan kebudayaan, yaitu dengan memerintahkan penyusunan sejarah negeri Demak.[8] Pada masa pemerintahannya muncul berbagai serat suluk yang mempertemukan tradisi jawa dengan ajaran mistik jawa.  Seperti Serat Suluk Wujil, yang berisi wejangan Sunan Bonang kepada Wujil seorang bujang bekas budah raja Majapahit.[9]
Kemudian digantikan oleh putranya Pangeran Aryo Martoputro. Karena sering sakit, kemudian digantikan oleh kakaknya Raden Mas Rangsang. Gelar pertama yang digunakan adalah Panembahan Hanyakrakusuma atau "Prabu Pandita Hanyakrakusuma". Setelah Menaklukkan Madura beliau menggunakan gelar "Susuhunan Hanyakrakusuma". Terakhir setelah 1640-an beliau menggunakan gelar bergelar "Sultan Agung Senapati Ing Alaga Abdurrahman" (1613-1645) . pada masa inilah mulai berusaha menaikan keraton dibidang kebudayaan, sesuai dengan kedudukannya sebagai sebuah istana. Pada tahun 1633 ia berhasil menyusun dan mengumumkan berlakunya system perhitungan yang baru bagi seluruh kerajaan Mataram. Yakni perhitungan tahun Jawa, yang menyesuaikan tahun hijriah, namun awal perhitungan tetap menggunakan tahun satu Saka atau 78 Masehi.[10]
Tahun 1645 Sultan Agung wafat dan digantikan putranya Susuhunan Amangkurat I. kerajaan Mataram segera mengalami kemuduran sesudah wafatnya Sultan Agung. VOC perlahan-lahan merampas daerah kekuasaan kerajaan Mataram. Bermula semenjak timbulnya pemberontakan Trunajaya pada masa pemerintahan ini, yaitu pemberontakan pasukan Makassar dan orang-orang Mataram sendiri yang tidak suka dengan tindakan-tindakan Amangkurat I, yang sangat patuh pada VOC.  Amangkurat I tidak mampu mengatasi pemberontakan ini, meskipun sudah meminta bantuan dari pihak Belanda. Akhirnya Amangkurat II turun tangan dan berhasil meredamkan pemberontakan dengan bayaran yang amat tinggi, dan akhirnya terpaksa menyerahkan daerah Kerawang, Semarang, dan sebagian daerah Priyangan kepada Belanda. Lalu ia membangun ibu kota baru Kartasura di sebelah barat Pajang.
Karena kekecewaan hatinya terhadap Belanda, akhirnya dia diam-diam membela Surapati. Begitu pula penggantinya Amangkurat III (1703-1704) yang terkenal kejam dan kasar. Pangeran Puger merasa tidak suka dengan tindakannya lalu meminta bantuan Belanda  dan berhasil merebut Kartasura dan dinobatkan menjadi raja dengan gelar Paku Buwana I (1703-1719). Setelah itu diganti oleh Paku Buwana II (1726-1749), disini juga terjadi pemberontakan oleh orang-orang Cina. Akhirnya Kartasurapun dibakar oleh para pemberontak karena Paku Buwana II tidak memihak mereka.  Pada tahun 1746 terjadi perang saudara antara Pangeran Mangkubumi (adik Paku Buwana I) dengan Paku Buwana II karena tidak setuju dengan  adanya perjanjian Belanda bahwa bea cukai akan dilakukan oleh mereka. Perang ini dapat diselesaikan oleh Paku Buwana III dengan perjanjian Giyanti tanggal 13 Februari 1755. Dan pada tahun ini pertama kalinya Mataram dipecah menjadi  Kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan Surakarta. Inilah akhir dari kerajaan Mataram sebagai satu kesatuan politik dan wilayah.[11] [12]
Mataram merupakan kerajaan berbasis agraris/pertanian dan relatif lemah secara maritim. Ia meninggalkan beberapa jejak sejarah yang dapat dilihat hingga kini, seperti kampung Matraman di Batavia/Jakarta, sistem persawahan di Pantura Jawa Barat, penggunaan hanacaraka dalam literatur bahasa Sunda, politik feodal di Pasundan, serta beberapa batas administrasi wilayah yang masih berlaku hingga sekarang.

C.     Perkembangan Kesultanan Surakarta
Kasunanan Surakarta adalah sebuah kerajaan di Jawa Tengah yang berdiri tahun 1755 sebagai hasil dari perjanjian Giyanti 13 Februari 1755. Yaitu pembagian wilayah Mataram menjadi Kesultanan Yogyakarta di bawah pimpinan Hamengku Buwana I dan Kesultanan Surakarta dibawah pimpinan Paku Buwana III. [13]
Kerajaan Mataram yang berpusat di Surakarta sebagai ibukota pemerintahan kemudian dihadapkan pada pemberontakan yang besar karena Pangeran Mangkubumi adik Pakubuwana II tahun 1746 yang meninggalkan keraton menggabungkan diri dengan Raden Mas Said. Di tengah ramainya peperangan, Pakubuwana II meninggal karena sakit tahun 1749. Namun, ia sempat menyerahkan kedaulatan negerinya kepada VOC, yang diwakili oleh Baron von Hohendorff. Sejak saat itu, VOC lah yang dianggap berhak melantik raja-raja keturunan Mataram.
Selanjutnya wilayah Kasunanan Surakarta semakin berkurang, karena Perjanjian Salatiga 17 Maret 1757 menyebabkan Raden Mas Said diakui sebagai seorang pangeran merdeka dengan wilayah kekuasaan berstatus kadipaten. Sebagai penguasa, Raden Mas Said bergelar Adipati Arya Mangkunegara. Wilayah Surakarta berkurang lebih jauh lagi setelah usainya Perang Diponegoro pada tahun 1830, di mana daerah-daerah mancanegara diberikan kepada Belanda sebagai ganti rugi atas biaya peperangan.[14]

Raja berikutnya adalah Paku Buwana IV (1788-1820), Pada era pemerintahan Pakubuwana IV terjadi perundingan bersama yang isinya menerangkan bahwa Kasunanan Surakarta, Kesultanan Yogyakarta, serta Praja Mangkunegaran memiliki kedudukan dan kedaulatan yang setara sehingga tidak boleh saling menyerang. Diteruskan oleh Pakubuwana V dan VI, dijuluki sebagai Sunan Ngabehi, karena baginda yang sangat kaya, baik kaya harta maupun kesaktian. Setelah wafat, pengganti Pakubuwana V adalah Sri Susuhunan Pakubuwana VI. Pakubuwana VI adalah pendukung perjuangan Pangeran Diponegoro, yang memberontak terhadap Kesultanan Yogyakarta dan pemerintah Hindia Belanda. Setelah menangkap Pangeran Diponegoro, Belanda tetap saja menangkap Pakubuwana VI dan membuangnya ke Ambon. Takhta Surakarta kemudian jatuh kepada paman Pakubuwana VI, Pakubuwana VII.

Pakubuwana VII, masa pemerintahan Pakubuwana VII dianggap sebagai puncak kejayaan sastra di Kasunanan Surakarta dengan pujangga besar Ranggawarsita sebagai pelopornya. Pemerintahannya berakhir saat wafatannya dan karena tidak memiliki putra mahkota maka Pakubuwana VII digantikan oleh kakaknya (lain ibu) bergelar Pakubuwana VIII. Kabangkitan kepustakaan Jawa berlangsung selama 125 tahun, dari 1757-1873 (dengan wafatnya pujangga Ranggawarsita). Perkembangan ini didapat dengan jalan mengubah kitab-kitab Jawa kuno ke dalam bahasa Jawa baru, penyusunan karya-karya baru, dan memanfaatkan kebendaharaan yang terdapat dalam kepustakaan baru.[15]

Kekuasaan dipimpin oleh Pakubuwana VIII dan IX, Pemerintahan Pakubuwana VIII berjalan selama tiga tahun hingga akhir hayatnya. Pakubuwana VIII digantikan putra Pakubuwana VI. Pemerintahan Pakubuwana IX berakhir saat kematiannya pada tanggal 16 Maret 1893. Ia digantikan putranya sebagai raja Surakarta selanjutnya, bergelar Pakubuwana X, meninggal pada tahun i 1939. Dilanjutkan Pakubuwana XI sampai tahun 1942. Kemudian Pakubuwana XII smapai tahun 1945.



BAB III

PENUTUP

A.    Kesimpulan

Kerajaan Demak adalah kerajaan islam pertama terbesar di pesisir pantai utara Jawa. Kerajaan ini banyak mendapat dukungan dari para wali. Terdapat bagian penting dalam peradaban Jawa Islam yaitu perubahan upacara keagamaan dari ‘kafir’ menjadi islam. Seperti pengubahan makna gamelan, wayang dll dari benda sakral menjadi media dakwah para wali. Masa keemasan kerajaan ini dipimpin Pate Unus dan masa pemerintahan Trenggana yang pada masa itu didirikanlah Masjid Demak sebagai symbol kekuatan islam. Namun, kerajaan ini dengann cepat runtuh, karena banyaknya pembunuhan dari pihak keluarga kerajaan sendiri dengan modus kekuasaan maupun balas dendam.
Sedangkan pada masa kerajaan Mataram, mencaoai masa keemasan ketika dipimpin oleh Mas Jolang (1601-1613), yang dimasanya itu muncul berbagai serat suluk, yang mempertemukan islam dengan ajaran jawa. Dan ia juga memberi pengembangan kebudayaan yaitu dengan penyusunan  sejarah negeri Demak. Kerajaan ini berakhir karena adanya perang saudara yang mengakibatkan dipecahnya kerajaan Mataram menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kesultanan Surakarta seperti yang tertuang dalam perjanjian Gayanti. Kemunduran kerajaan ini, sedikit bnayak dipengaruhi oleh campur tangan Belanda. Jejak sejarah kerajaan ini yang masih bias dilihat sekarang adalah penggunaan hanacaraka dalam literature bahasa Sunda.
Yang terakhir adalah kerajaan Surakarta. Kerajaan ini adalah hasil pembagian wilayah dari kerajaan Mataram berdasarkan perjanjian Gayanti. Kerajaan inilah yang masih bias dijumpai sampai sekarang. Masa keemasan kerajaan ini sewajtu dipimpin raja kedua dan keempat yaitu Panembahan Senopati dan Sultan Agung yang pada masa ini kediaman raja merupakan pusat lalu lintas perdagangan, ilmu pengetahuan islam, pusat kesusastraan dan kesenian Jawa.


DAFTAR PUSTAKA

 

H.J. de Graaf dan Th. G. Th. Pigeaud. Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama Di Jawa. cetakan ketiga. Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti, 1989.
H.M. Darori Amin, Hj. Sri Suhanjati, and H.M. Amin Syukur. Islam & Kebudayaan Jawa. cetakan pertama. Yogyakarta: Gama Media, 2000.
Simuh. Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita. cetakan pertama. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press), 1988.
Wiyoso Yudoseputro. Pengantar Seni Rupa Islam Di Indonesia. cetakan ke-10. Bandung: Angkasa, n.d.

 

 

 





[1] Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama Di Jawa, cetakan ketiga (Jakarta: PT Pustaka Utama Grafiti, 1989), 38–52.
[2] Ibid., 52–55.
[3] Ibid., 35.
[4] Wiyoso Yudoseputro, Pengantar Seni Rupa Islam Di Indonesia, cetakan ke-10 (Bandung: Angkasa, n.d.), 46.
[5] H.J. de Graaf dan Th. G. Th. Pigeaud, Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama Di Jawa, 75.
[6] Simuh, Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita, cetakan pertama (Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press), 1988), 22–23.
[7] H.J. de Graaf dan Th. G. Th. Pigeaud, Kerajaan-Kerajaan Islam Pertama Di Jawa, 83–91.
[8] Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita, 10–11.
[9] Ibid., 23–24.
[10] Ibid., 12.
[11] H.M. Darori Amin, Hj. Sri Suhanjati, and H.M. Amin Syukur, Islam & Kebudayaan Jawa, cetakan pertama (Yogyakarta: Gama Media, 2000), 208.
[12] Simuh, Mistik Islam Kejawen Raden Ngabehi Ranggawarsita, 10–15.
[13] Ibid., 15.
[14] Ibid.
[15] Ibid., 25.

Tidak ada komentar: