A. PENDAHULUAN
Makkah, Ka’bah dan
Quraisy adalah kata yang tidak asing di telinga kita. Ketiga hal ini sangat
berhubungan erat dengan sejarah Rasulullah SAW. Bisa dipastikan hampir seluruh
umat muslim tahu mengenai ketiga hal ini. Makkah itu sendiri merupakan tempat
dimana Nabi dilahirkan. Ka’bah merupakan sebuah rumah peribadatan yang dibangun
sejak zaman Nabi Ibrahim, dan sekarang menjadi pusat peribadatan seluruh umat
muslim dunia. Sedangkan Quraisy adalah sebuah suku ternama di Makkah, yang
menjadi penguasa terkuat dan merupakan moyang dari Rasulullah.
Sebelum kita mempelajari
lebih lanjut sejarah Nabi, maka kurang afdhol jika kita tidak mengetahui
asal-usul Beliau. Sehingga dalam makalah ini, akan sedikit dibahas tentang awal
kota Makkah, dibangunya Ka’bah hingga perjalanan Quraisy sampai menjadi suku
terkuat waktu itu.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana asal-usul kota
Makkah ?
2. Bagaimana asal-usul
Ka’bah ?
3. Bagaimana asal-usul suku
Quraisy ?
C. MAKKAH
a. Lokasi dan Asal-usul Kota
Makkah
Makkah adalah salah satu
kota bagian dari jazirah Arab. Tepatnya terletak di tengah-tengah rentetan
bukit yang membentang sejauh delapan puluh kilometer dari pantai Laut Merah.
Dan dibuka oleh tiga buah jalan, pertama jalan menuju Yaman, kedua sebuah jalan
dekat Laut Merah dipelabuhan Jedah, dan ketiga jalan menuju Palestina.
Lembah tandus ini digunakan sebagai tempat pemberhentian kafilah untuk beristirahat
karena adanya sumber mata air. Diperkirakan orang pertama yang menempati daerah
ini sebagai tempat tinggal adalah Ismail anak Ibrahim. Sebelumnya tempat ini hanya
sebagai tempat perdagangan secara tukar-menukar para pedagang dari arah utara
dan selatan. Jika memang Ismail adalah penghuni pertama tempat ini, maka kisah ini akan dimulai dari sejarah Nabi Ibrahim a.s.[1]
Ibrahim lahir di Irak (Chaldea) dari ayah seorang tukang kayu
pembuat berhala. Ketika ia dewasa, ia pernah bertanya kepada ayahnya bagaimana
hasil kerajinan tangannya itu sampai disembah orang ? Ayahnya sangat khawatir
anaknya akan menghancurkan semua berhala buatannya. Ketika orang sedang lengah,
Ibrahim pergi menghampiri sang Dewa lalu menghancurkannya kecuali berhala yang
paling besar. Setelah diketahui orang, mereka bertanya “Engkaukah yang
melakukan itu terhadap dewa-dewa kami hai Ibrahim ?”, jawab Ibrahim “ya, bahkan
dilakukan oleh dewa yang paling besar diantara mereka. Tanyakanlah kepada mereka,
kalau memang mereka bisa bicara ?”.
Ibrahim memikirkan siapakah yang seharusnya mereka sembah. Ketika
malam sudah gelap dilihatnya bintang, ia berkata : “inilah Tuhanku !”. Tetapi
saat bintang terbenam, ia berkata : “aku tidak menyukai segala sesuatu yang
terbenam”. Setelah dilihatnya bulan terbit, ia kembali berkata : “inilah
Tuhanku !”. Seketika bulan terbenam ia berkata : “kalau Tuhan tidak memberi
petunjuk kepadaku, pastilah aku akan jadi sesat”. Melihat matahari terbit, ia
berkata : “ini Tuhanku, ini yang lebih besar”. Waktu matahari terbenam ia lalu
berkata : “oh, kaumku. Aku lepas tangan terhadap apa yang kamu persekutukan
itu. Aku mengarahkan wajahku hanya kepada yang telah menciptakan semesta langit
dan bumi ini. Aku tidak termasuk mereka yang mempersekutukan Tuhan”.
Karena gagal mengajak kaumnya beriman, akhirnya ia dan istrinya
Sarah pergi ke Palestina lalu meneruskan perjalanannya ke Mesir. Disanalah
Ibrahim mendapatkan budak wanita bernama Hajar, hadiah dari raja Amalekit. Setelah
bertahun-tahun Ibrahim tidak mendapatkan keturunan dari Sarah, akhirnya ia
diijinkan menikahi budaknya, lalu lahirlah Ismail. Baru setelahnya lahir pula
Ishaq dari Sarah.
Karena adanya kecemburuan Sarah terhadap Hajar, akhirnya Ibrahim
mengajak Hajar bersama bayi Ismail ke arah selatan, ke sebuah lembah tandus
bernama Bakkah, letak Makkah sekarang.[2]
Disanalah Hajar ditinggalkan Ibrahim. Setelah kehabisan perbekalan dan air,
anaknya terus menangis karena kehausan. Hajar berlari dari bukit Shafa ke bukit
Marwa mencari air hingga tujuh kali. Setelah hampir putus asa, ia menggendong
putranya yang sedang meregang nyawa itu. Lalu tiba-tiba muncullah air (mata air
zam-zam) dari gundukan pasir yang disentuh tumit Ismail tadi. Segera Hajar dan
anaknya melepaskan dahaga. Dengan air itulah mereka membantu para kafilah yang
lewat dan menjamin kehidupan mereka berdua.
Setelah dewasa Ismail menikahi salah seorang gadis dari kabilah
Jurhum. Putri dari Ja’rub ibn Qahtan. Kabilah pertama yang tinggal bersama
Hajar dan Ismail. Karena ketidak-sopanan sang menantu ketika Ibrahim datang
menjenguk Ismail, akhirnya Ismail menceraikannya. Lalu menikah lagi dengan
wanita Jurhum lain, keturunan Mudzadz bin ‘Amr. Dari sinilah awal perkembangan
kota Makkah, mulai dari sebuah lembah tandus hingga menjadi perkampungan dengan
sumber air yang bagus dan menakjubkan.
D.
KA’BAH
a.
Pembangunan Ka’bah
Setelah Ibrahim meminta ijin kepada istrinya Sarah untuk menjenguk
Hajar dan anaknya, akhirnya Ibrahim pergi ke Makkah. Ibrahim dan Ismail
kemudian mengangkat sendi-sendi rumah suci itu dan “ bahwa rumah pertama dibuat
untuk manusia beribadah ialah yang di Makkah itu, sudah diberi berkah dan
bimbingan bagi semesta alam. Disitulah terdapat keterangan-keterangan yang
jelas sebagai maqam (tempat) Ibrahim : barang siapa memasukinya menjadi aman”. Sebagaimana
doa Ibrahim ketika mengangkat sendi-sendi rumah suci itu : “Tuhan terimalah ini
dari kami. Sesungguhnyalah Engkau maha mendengar, maha mengetahuinya”.
Di sebelah barat laut ka’bah terdapat daerah sempit dikelilingi
tembok pendek berbentuk setengah lingkaran. Kedua ujung tembok itu berhenti
disudut sebelah barat dan utara rumah suci, menyisakan lorong sempit untuk lalu
lintas para jama’ah haji. Ruang yang dibatasi tembok itu disebut Hijr Isma’il,
karena bekas ibu jari kaki isma’il dan Hajar berada didekat batu yang melapisi
ruang itu.[3]
Dalam bentuk awalnya, ka’bah hanyalah fondasi sebuah empat persegi
panjang. Bagian dindingnya sebelah timur laut yang sejajar dengan barat laut, panjangnya
sama, yaitu sekitar dua belas meter. Dindingnya bagian utara dan selatan,
berukuran panjang sepuluh meter. Dikala banjir, fondasi yang terletak didasar lembah
(bathan) Makkah ini menjadi arah aliran air yang datang dari perbukitan
sekitarnya. Arah sudutnya tidak persis menunjuk ke mata angin. Keempat pojok
ini kemudian diberi nama : utara bernama rukn al-‘iraqi, sebelah barat rukn
al-syami, sebelah selatan rukn al-yamani dan timur rukn al-aswad,
sesuai dengan tempat letak batu hitam, hajar al-aswad. Menurut sebagian
cerita batu hitam ini yang menjadi bahan bangunan Ka’bah, tetapi dalam kurun
waktu ribuan tahun, kebanyakan telah dibangun nomaden yang memujanya didalam
kemah.[4]
b.
Perkembangan agama
Tujuan awal Ibrahim membangun rumah suci itu adalah tempat ibadah
untuk menyembah hanya kepada Allah semata serta membangun tempat yang aman. Asal
mula perubahan kepercayaan itu terjadi ketika kaum Sabian yang
menyembah bintang dan berpengaruh besar ditanah Arab. Pada
mulanya mereka tidak menyembah bintang, melainkan hanya menyembah Allah dan
mengagungkan bintang-bintang itu sebagai ciptaan dan manifestasi kebesaran Allah. Karena
banyak yang tidak memahami arti ketuhanan yang lebih tinggi, maka diartikan
bintang-bintang itu sebagai tuhan.
Bahkan mereka tidak cukup hanya menyembah hajar aswad (batu hitam)
yang berada dalam ka’bah, sampai beberapa macam batu gunung diibaratkan sebagai
benda yang jatuh dari langit, yang berasal dari bintang. Selain untuk disembah,
mereka mengambil batu apa saja dari ka’bah untuk dimintai keputusan saat
melakukan perjalanan. Dengan cara-cara tersebut menjadi kuatlah kepercayaan
paganisme (penyembah
berhala) itu, patung-patung dikuduskan dan dibawakan sesajen-sesajaen sebagai
korban. Inilah suatu gambaran perkembangan agama sejak Ibrahim membangun rumah
tempat beribadah hanya kepada tuhan yang kemudian berbalik menjadi pusat
berhala.[5]
E.
QURAISY
a.
Sejarah berdirinya Quraisy
Sejak didirikannya ka’bah ditempat itu sudah terdapat
jabatan-jabatan penting seperti, hijaba, siqaya, rifada, nadwa, liwa dan
riyada. Hijaba adalah penjaga pintu ka’bah atau yang memegang pintu
kuncinya. Siqaya adalah yang menyediakan air tawar untuk para peziarah
yang waktu itu sangat sulit, dan juga menyediakan minuman keras yang terbuat
dari kurma. Rifada adalah memberi makanan kepada semua peziarah.
Nadwa adalah pimpinan rapat setiap tahun. Liwa adalah panci yang
dipancangkan pada tombak lalu ditancapkan sebagai lambang tentara yang sedang
menghadapi musuh. Dan qiyada adalah pimpinan pasukan saat menuju perang.
Itulah jabatan-jabatan yang sangat terpandang yang nantinya akan dipegang oleh
penguasa Quraisy.[6]
Pada saat kekuasaan Makkah ditangan
Jurhum yaitu
Mudzadz bin ‘Amr ibn Harith terjadi perkembangan perdagangan yang sangat pesat,
sehingga orang-orang terbiasa hidup mewah, lalu mereka lupa hidup didaerah yang
tandus dan gersang, karena kelalaian mereka, sehingga zamzam menjadi kering padahal
Mudzadz sudah berkali-kali memperingatkan kepada masyarakatnya tetapi tidak
berhasil. Lalu Mudzdaz menggali sumur zamzam dan diambilnya dua buah pangkal
pelana emas dari dalam
ka’bah beserta harta yang dijadikan sesajen didalam rumah suci itu. Agar suatu saat bisa digali lagi oleh kaum Jurhum. Kekuasaan
sesudah itu dipegang oleh khuza’ah.[7][8]
Sekitar empat ratus tahun setelah masehi, seorang lelaki suku
Quraisy bernama Qushayi bin Kilab dari kabilah tersingkir dan mendiami
lereng-lereng gunung,
celah-celah bukit, dan sudut-sudut wilayah Makkah. Lalu
menikahi Hubba putri Halil bin Habbasyiyah
al-Khaza’i pemimpin Khuza’ah serta
pemegang kunci ka’bah, sepeninggalan Halil, kunci diwariskan kepada putrinya
tetapi ia merasa keberatan; “aku tidak mampu membuka dan menutup pintunya”,
lalu Hubba menyerahkan kunci ka’bah
kepada Ghabsyam si pemabuk (al-Muhtarasy bin Halil).
Ketika Ghabsyam kehabisan
minuman keras, kunci itu dijualnya kepada Qushayi. Khuza’ah sudah menduga
ketika kekuasaan ditangan Qushayi maka ia akan mudah mengeluarkan Khuza’ah dari
Makkah. Ketika
Qushayi mengambil alih kunci Ka’bah, orang-orang Khuza’ah
menentangnya dan sepakat untuk memerangi Qushayi dan keluarga Quraisy-nya. Peperangan-pun
terjadi antara Khuza’ah dibantu
Bani Bakar melawan Quraisy dibantu Bani Shuffah. Kemenangan berada di pihak
Quraisy. Untuk mendamaikan kedua kubu ini dipanggillah Ya’mar bin Auf yang
terkenal sebagai asy-Syaddakh (pemecah persoalan). Keputusannya adalah
Qushayi menempati wilayah sekitar Ka’bah, dan semua urusan Makkah diserahkan
kepada Khuza’ah. Jika orang Khuza’ah dan Bani
Bakar membunuh Quraisy maka diwajibkan membayar denda sebesar 510 diyat, 30
tawanan, dan meninggalkan Ka’bah.
Lalu Qushayi
membawa anggota Quraisy, keluarga terdekatnya untuk tinggal di Makkah dekat
tempat suci. Ketika Qushayi memimpin, ia mengumpulkan masyarakat Quraisy lalu
berkata,” apakah dengan berkumpul ditanah suci ini, kalian hendak bermukim di
sekitar ka’bah?”. Mereka menjawab, ‘kau adalah tuan kami, kami tunduk pada
pendapatmu”. Jadi Qushayi adalah orang yang pertama membangun rumah disekitar Ka’bah.
Diantaranya Yaitu rumah untuk diskusi (Dar an-Nadwah), sebuah tempat
untuk berkumpul, bermusyawarah, dan untuk menikahkan anak-anak keturunan mereka
maupun membuat kesepakatan untuk berperang.[9]
b.
Pemimpin Keturunan
Quraisy
Qushayi memiliki karakter bahwa pada saat generasinya harus ada seorang
pemimpin untuk semua, dari keempat
puteranya Abd Manaf adalah yang paling dihormati tetapi Qushayi memilih Abd Al-Dar anaknya
yang paling tidak cakap. Menjelang kematiannya Qushayi berwasiat,”anakku, aku
akan menetapkan siapa yang bakal menjadi pemimpin yang harus ditaati oleh semua
orang. Tidak ada yang dapat memasuki ka’bah kecuali engkau yang membukakannya.
Selain tanganmu, tak ada yang boleh menandai peperangan bagi kaum Quraisy. Tak
ada yang boleh meminum air di Makkah dalam
perjalanan hajinya kecuali engkau yang memberikannya. Tak ada yang boleh makan
kecuali engkau yang memberinya. Tak ada yang boleh mengubah segala urusan
Quraisy kecuali didalam rumahmu.”
Pada generasi berikutnya, separuh kaum Quraisy
mendukung Hasyim (putra Abd Manaf) dan separuh kaum Quraisy mendukung Abd Dar.
Kaum wanita dari Abd Manaf membawa secawan minyak wangi dan diletakan disebelah
ka’bah. Hasyim, saudara-saudaranya serta seluruh pengikutnya mencelupkan tangan
meraka kedalam cawan itu dan mengikrarkan sumpah bersama untuk tidak saling
mengganggu. Lalu mereka menggosokkan tangannya yang harum diatas batu ka’bah
sebagai tanda tercapainya suatu kesepakatan. Kelompok ini disebut kelompok
harum (al-muthayyibun). Pengikut Abd Dar juga mengangkat sumpah dan
kelompok ini dikenal sebagai
kelompok sekutu (Al-ahlaf). Kedua pihak harus mematuhi perjanjian untuk
menghindari pertumpahan darah. Perjanjian itu menghasilkan keturunan Abd Manaf
yang menetapkan pajak dan menyediakan makanan dan minuman bagi jama’ah haji.
Sedangkan keturunan Abd Dar berhak memegang kunci ka’bah, tempat tinggal mereka
harus diteruskan fungsinya sebagai rumah majlis serta hak-hak mereka yang lain.[10]
Hasyim berkata dimajlis;” wahai kaum Quraisy! Kamu sekalian adalah
tetangga Tuhan, penjaga rumahNya dan tanah suci. Mereka yang datang berziarah
adalah tamu Tuhan, pengunjung rumahNya. Mereka itulah para tamu yang patut
dihormati. Pada musim haji sediakan makanan dan minuman sampai mereka pulang
kembali. Bila harta saya sendiri mencukupi, saya tidak akan membebani kalian
semua.” Selain mengurusi kebutuhan para jama’ah haji dia juga membangun dua
rute perjalanan kafilah besar dari Makkah. Kafilah
pada musim dingin ke Yaman dan kafilah pada musim panas ke barat laut Arab.[11]
c. Abd al-Muththalib
Suatu hari ketika Hasyim dalam
perjalanan pulang, ia mampir di Yatsrib. Dipasar ia melihat seorang perempuan
cantik dikelilingi beberapa orang yang mendengarkan perintah-perintahnya.[12]
Yaitu Salmah binti Umar bin Zaid seorang janda pemimpin bani ‘Adi bin an-Najar
dari Khazraj di Yatsrib. Dari pernikahan ini Hasyim memiliki seorang putra
bernama Syaibah, tak lama kemudian Hasyim meninggal dalam usia yang relatif
muda. Syaibah pun diasuh oleh ibunya hingga berumur kira-kira empat
belas tahun.
Dari beberapa anak Hasyim, Syaibahlah yang paling berbakat dalam
hal kepemimpinan. Muththalib mendengar tentang kehebatan keponakannya itu.
Akhirnya Muththalib pergi kepada Salmah untuk memohon agar mempercayakan
pengasuh keponakannya itu padanya. Salmah menolak, namun Muththalib berhasil
meyakinkannya dengan kehidupan anaknya yang lebih baik di Makkah. Setelah
diizinkan Muththalib
membawa keponakannya memasuki kota Makkah. Masyarakat mengira anak itu adalah
budak Muththalib, sehingga dipanggil ‘Abd al-Muththalib (budak muththalib).
Lalu Muththalib berkata; bersuka rialah kalian, karena ia adalah putera
saudaraku, Hasyim”. Anak itu disambut gembira oleh masyarakat.
Tak lama setelah kedatangannya, Abd Muththalib terlibat
perselisihan warisan ayahnya (Hasyim) yang diwakilkan Naufal (adik Hasyim).
Naufal tidak rela menyerahkan kekuasaan Hasyim kepada Abd Muththalib. Dan ia baru
menyerahkannya ketika Abd Muththalib meminta bantuan delapan puluh orang
anggota keluarga ibunya. Setelah pamannya meninggal ia memegang tanggung jawab
menyediakan makanan dan minuman bagi jama’ah haji.[13]
[14]
Abd Muththalib disegani oleh kaum Quraisy atas kedermawanan,
kemampuan, kebijaksanaan dan ketampanannya. Suatu malam Abd Muththalib ketika
sedang tidur di sekitar Hijr isma’il datang sosok
bayangan dan berkata, “galilah sumber air yang manis. “apa itu” ia bertanya,
namun bayangan itu segera lenyap. Malam berikutnya, ia tidur kembali disana.
Sosok bayangan itu datang kembali dan
berkata,”galilah keberuntungan.” Dan sosok itu menghilang lagi. Dimalam ketiga
ia diperintahkan, ”galilah timbunan harta karun”. Pada malam ke empat sosok
itu berkata galilah zamzam, disebuah tempat lembab penuh darah, penuh kotoran,
tempat semut-semut bersarang dan burung gagak mematuk-matuknya.[15]
[16]
Keesokan harinya, ia berjalan sepanjang dinding sebelah timur laut
yang berujung di pintu ka’bah. Setelah ia mencium Hajar Aswad dan Thawaf. Abd
Muththalib melihat lembah gelap Abu Qubays dan diseberangnya perbukitan timur
tampak dipancari cahaya kemuning. Ketika ia menuju pintu ka’bah, tiba-tiba
mendengar kepakan sayap dan seekor burung yang bergerak menuju dua batu patung
besar bernama Isaf dan Na’ilah, tempat dimana biyasanya kaum Quraisy
menyembelih qurban. tempat berpasir itu selalu basah oleh darah, juga ada
kotoran burung dan diatasnya terlihat sarang semut.
Ia dan Harits anak
satu-satunya, pulang dan mengambil dua linggis untuk menggali. Ketika menggali
tiba-tiba linggisnya menyentuh logam yaitu pedang emas milik Mudzadz bim Amr.
Kedua kalinya ia menemukan pelana emas yang dulunya menjadi sesajen di ka’bah.
Tak lama disusul menyemburmya air. Mengetahui adanya harta karun, masyarakat
meminta bagian. Diadakanlah panah dewata (kidh) untuk menentukan
pembagian harta karun tersebut, hasilnya adalah sebagian harta karun disimpan
di ka’bah, sebagian diberikan kepada Abd Muththalib, sementara tidak sedikitpun
yang diberikan kepada kaum Quraisy.
d. Kelahiran dan Peristiwa
Pengorbanan Abdullah
Suatu ketika Abd Muththalib merasa cemas karena kekurangan tenaga
untuk menjalankan tanggung jawabnya. Maka dengan berbesar hati, ia memohon
kepada Tuhan agar
dikaruniai sepuluh anak laki-laki, bila permohonannya terkabulkan ia akan mengorbankan
seorang anaknya. Selang beberapa tahun, do’anya dikabulkan. Abdul Muththalib
adalah orang yang selalu menepati janji. Ia sangat berat menentukan siapa
diantara putra-putranya yang akan dikorbankan, setelah semuanya dewasa ia
menyatakan janjinya kepada Tuhan dan
meminta mereka mendukung pelaksaannya.
Tiba saatnya mengumpulkan anak-anaknya dan berangkat menemui dewa
patung Hubbal, penjaga patung menuliskan
nama kesepuluh putranya lalu mengocoknya didepan Hubbal. Ketika tangannya
merogoh,nama yang tertulis adalah : Abdullah. Ia mengiring Abdullah ke dekat
sumur zam-zam, antara patung Isaf dan Na’ilah tempat
menyembelih kurban, banyak hadirin gelisah dan mengusulkan supaya diganti
dengan kurban harta, kemudian Abdul Muththalib berembuk dengan dewa dan
memutuskan untuk segera menemui kahin ( juru ramal ) wanita masyhur di
Yatsrib.
Peramal menyimpulkan bahwa boleh mengganti kurban anak dengan
harta. Caranya, dengan mengundi lagi di depan Hubal dengan menuliskan unta dan
Abdullah. Jika tetap yang muncul nama Abdullah, jumlah untanya ditambah lagi, sampai kata unta yang keluar.
Setelah genap seratus unta, akhirnya kata ‘unta’ muncul. Abd Muththalib masih
penasaran dan minta diundi lagi sampai tiga kali. [17]
[18]
Setelah pengorbanan unta bagi Abdullah
diterima, Abd Muththalib berencana untuk mencarikan anak kesayangannya seorang istri.
Akhirnya pilihannya jatuh pada Aminah binti Wahab, cucu Zuhrah saudara Qushayi.
Karena ditinggal ayahnya, Aminah diasuh oleh pamannya Wuhayb. Ketika melamarkan
Aminah untuk putranya, ia juga melamar Halah putri Wuhayb yang seumuran dengan
Aminah. Wuhayb setuju, pernikahan-pun diadakan pada waktu dan tempat yang sama.
Pada hari yang telah ditentukan, Abd Muththalib menggandeng putranya menuju
rumah Wuhayb. Pernikahanpun dilaksanakan sesuai rencana. Dua pasangan pengantin
itu tinggal beberapa hari di kediaman Wuhayb. Pernikahan itu berlangsung tahun
569 M atau yang disebut tahun gajah.[19]
e. Peristiwa Penyerangan Abrahah
Yaman berada dibawah kekuasaan Abrahah. ia membangun sebuah katedral megah
di Shan’a untuk menyaingi Ka’bah. Katedral
itu dibangun dengan pualam yang diambil dari bekas istana ratu Saba’ dan dihiasi
dengan emas dan perak. Mimbarnya dibuat dari gading dan kayu hitam. Ia tidak
merahasiakan sedikitpun niatnya itu, sehingga suku kinanah
keturunan Quraisy pergi ke Syan’a untuk
merubuhkan gereja itu dalam waktu satu malam.
Mendengar itu Abrahah bersumpah akan
membalas dendam dengan menghancurkan ka’bah sampai rata dengan tanah. Beberapa
suku arab di utara Syan’a berusaha untuk menghalanginya. Tetapi pasukan tersebut kalah, dan
ditangkaplah Nufail sang pemimpin sebagai petunjuk jalan. Sesampainya di Mughammiz pasukan
berkuda Abrahah menuju daerah pinggiran Makkah untuk merampas apa saja termasuk dua
ratus unta milik Abd Muththalib. Abrahah mengirim seorang utusan ke Makkah
untuk menemui pimpinan mereka dan berpesan bahwa mereka datang bukan untuk
berperang, melainkan untuk menghancurkan ka’bah. Untuk menghindari pertumpahan
darah maka pemimpin Makkah harus menemuinya di kemah pasukan Abrahah. Abrahah terkesan
melihat kedatangan Abd Muththalib hingga ia turun dari singgasana dan duduk
diatas karpet. Abd Muththalib meminta agar dua ratus ekor untanya dikembalikan.
Abrahah sangat kecewa, ia menganggap Abd Muththalib lebih mementingkan untanya
dari pada agamanya. Lalu Abd Muththalib menjawab, “aku adalah pemilik unta-unta
itu, sementara ka’bah ada pemiliknya sendiri yang akan melindunginya”. “tapi
sekarang ini, dia tidak akan mampu melawanku ”kata Abrahah. “kita lihat saja
nanti “kata Abd Muththalib.
Keesokan harinya, Abrahah bersiap
memasuki Makkah untuk menghancurkan ka’bah. Dengan gajah dibarisan paling depan
bersama pemandunya Unays. Tapi Nufail mengacaukan komando gajah, sehingga gajah
tidak mau bergerak lagi. Ketika pasukan berbalik, gajah itu pun mau berdiri,
namun ketika mengarah ke Makkah gajah itu kembali berlutut. Sebenarnya itu
adalah pertanda bahwa Abrahah tidak akan berhasil. Namun mereka telah
terlambat, langit di ufuk barat menghitam pekat dan suara bergemuruh terdengar.
Sepanjang mata memandang langit dipenuhi beribu-ribu burung yang membawa tiga
batu kecil lalu dijatuhkan pada pasukan Abrahah. Tak semua orang terluka, namun
semua terkena wabah kolera termasuk Abrahah yang mati begitu sampai
ditempat. Sementara Nufail menyelinap pergi dan menyelamatkan diri ke lereng
bukit dekat Makkah ketika para tentara sibuk dengan gajah yang membangkang,
setelah peristiwa itu Quraisy dikenal sebagai keluarga Tuhan.
Ketika peristiwa itu terjadi Abdullah
sedang berdagang ke Palestina dan Syiria. Ketika perjalanan pulang ia jatuh
sakit dan akhirnya meninggal dunia di rumah neneknya di Yatsrib. Kota Makkah
diselimuti duka yang mendalam. Namun pelipur lara Aminah adalah putra Abdullah
yang masih didalam kandungannya dan yang sebentar lagi akan lahir. Ia menyadari
pada suatu cahaya ajaib yang memancar dari dalam tubuhnya. Lalu ia mendengar
suara, “engkau mengandung seorang pemimpin di seluruh ummat manusia dan
namailah ia Muhammad”. Beberapa minggu itu bayinya lahir, Abdul Muththalib datang dan
menggendongnya lalu membawanya ke ka’bah dan masuk bersamanya
kedalam rumah suci itu. Ia memanjatkan do’a rasa syukur kepada Allah atas
karuniaNya.[20]
F. KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat
disimpulkan bahwa dulunya Makkah adalah sebuah lembah tandus yang tanpa
penghuni, dan hanya dipergunakan para kafilah untuk berstirahat, namun setelah
kedatangan Ismail dan Hajar, dan dengan munculnya mata air zamzam Makkah
menjadi sebuah pemukiman bagi para kafilah, dan menjadi Kota bagi para penguasa
Ka’bah.
Ka’bah dibangun oleh
Ibrahim dan Ismail yang menjadi pusat peribadahan bagi masyarakat waktu itu, namun seiring berjalannya
waktu, ketauhidan yang diajarkan Ibrahim kepada umatnya mulai luntur, dan
beralih kepada kepercayaan paganisme (penyembah berhala).
Banyak kaum yang ingin
memiliki kunci Ka’bah, karena barang siapa yang memegang kunci Ka’bah, dialah
yang akan menguasai Makkah. Intrik antar kaum-pun mewarnai sejarah Ka’bah
dengan bergantinya para penguasa. Hingga akhirnya kunci Ka’bah jatuh pada
tangan kaum Quraisy.
Dulunya Quraisy adalah
suku tersingkir yang mendiami lereng-lereng bukit, kemajuan suku quraisy
menjadi bangsa yang kuat dan berkuasa di Makkah dirintis oleh Qushay. Diawali
dengan pernikahan Qushay dan Hubba,
putri seorang pemegang kunci ka’bah. Yang pada akhirnya menjadikan Qushay
mendapatkan kunci ka’bah.
Selanjutnya kekuasaan
Makkah berada di tangan Qushay. Lalu ia membawa suku Quraisy untuk bertempat
tinggal disekitar ka’bah, dan dialah yang perama kali mendirikan bangunan
disekitar Ka’bah. Yang menjadikan Ka’bah menjadi sebuah kota maju, tanpa
jasanya Makkah tidak akan menjadi kota seperti yang kita lihat sekarang.
Qushay melahirkan anak-anak
yang akhirnya menjadi penerus kekuasaanya. Mulai dari Abd ‘Dar, Hasyim (putra
Abd Manaf), hingga Abd al-Muththalib kakek Rasulullah.
G. DAFTAR PUSTAKA
H. Fuad Hashem. SIRAH
MUHAMMAD RASULULLAH Suatu Penafsiran baru. Bandung: Mizan, 1992.
M.
Quraish Shihab. MEMBACA SIRAH NABI MUHAMMAD SAW. DALAM SOROTAN AL-QUR’AN DAN
HADITS-HADITS SHAHIH. Tangerang: Lentera Hati, 2011.
Martin
Lings (Abu Bakar Siraj al-Din). Muhammad. cetakan VII. Jakarta: GEMALA
ILMU & HIKMAH ISLAM, 2009.
MUHAMMAD
HUSAIN HAEKAL. Sedjarah Hidup Muhammad. Translated by ALI AUDAH.
Jakarta: Tintomas, 1972.
[1]
MUHAMMAD
HUSAIN HAEKAL, Sedjarah Hidup Muhammad, trans. ALI AUDAH (Jakarta:
Tintomas, 1972), 23.
[2]
Martin
Lings (Abu Bakar Siraj al-Din), Muhammad, cetakan VII (Jakarta: GEMALA
ILMU & HIKMAH ISLAM, 2009), 11.
[3]
Ibid., 23.
[4]
H.
Fuad Hashem, SIRAH MUHAMMAD RASULULLAH Suatu Penafsiran baru (Bandung:
Mizan, 1992), 104.
[5]
MUHAMMAD
HUSAIN HAEKAL, Sedjarah Hidup Muhammad, 31–32.
[6]
Ibid.,
33–34.
[7]
Ibid., 35.
[9]
MUHAMMAD
HUSAIN HAEKAL, Sedjarah Hidup Muhammad.
[11]
Ibid.,
19–20.
[12]
H.
Fuad Hashem, SIRAH MUHAMMAD RASULULLAH Suatu Penafsiran baru, 48.
[14]
H.
Fuad Hashem, SIRAH MUHAMMAD RASULULLAH Suatu Penafsiran baru, 50–51.
[16]
H.
Fuad Hashem, SIRAH MUHAMMAD RASULULLAH Suatu Penafsiran baru, 51.
[18]
H.
Fuad Hashem, SIRAH MUHAMMAD RASULULLAH Suatu Penafsiran baru, 51–52.
[20]
M.
Quraish Shihab, MEMBACA SIRAH NABI MUHAMMAD SAW. DALAM SOROTAN AL-QUR’AN DAN
HADITS-HADITS SHAHIH (Tangerang: Lentera Hati, 2011), 167–176.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar