Kamis, 17 Oktober 2013

MAKKAH, KA’BAH & QURAISY


A.    PENDAHULUAN
Makkah, Ka’bah dan Quraisy adalah kata yang tidak asing di telinga kita. Ketiga hal ini sangat berhubungan erat dengan sejarah Rasulullah SAW. Bisa dipastikan hampir seluruh umat muslim tahu mengenai ketiga hal ini. Makkah itu sendiri merupakan tempat dimana Nabi dilahirkan. Ka’bah merupakan sebuah rumah peribadatan yang dibangun sejak zaman Nabi Ibrahim, dan sekarang menjadi pusat peribadatan seluruh umat muslim dunia. Sedangkan Quraisy adalah sebuah suku ternama di Makkah, yang menjadi penguasa terkuat dan merupakan moyang dari Rasulullah.
Sebelum kita mempelajari lebih lanjut sejarah Nabi, maka kurang afdhol jika kita tidak mengetahui asal-usul Beliau. Sehingga dalam makalah ini, akan sedikit dibahas tentang awal kota Makkah, dibangunya Ka’bah hingga perjalanan Quraisy sampai menjadi suku terkuat waktu itu.

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana asal-usul kota Makkah ?
2.      Bagaimana asal-usul Ka’bah ?
3.      Bagaimana asal-usul suku Quraisy ?
     


C.     MAKKAH
a.       Lokasi dan Asal-usul Kota Makkah
Makkah adalah salah satu kota bagian dari jazirah Arab. Tepatnya terletak di tengah-tengah rentetan bukit yang membentang sejauh delapan puluh kilometer dari pantai Laut Merah. Dan dibuka oleh tiga buah jalan, pertama jalan menuju Yaman, kedua sebuah jalan dekat Laut Merah dipelabuhan Jedah, dan ketiga jalan menuju Palestina.
Lembah tandus ini digunakan sebagai tempat pemberhentian kafilah untuk beristirahat karena adanya sumber mata air. Diperkirakan orang pertama yang menempati daerah ini sebagai tempat tinggal adalah Ismail anak Ibrahim. Sebelumnya tempat ini hanya sebagai tempat perdagangan secara tukar-menukar para pedagang dari arah utara dan selatan. Jika memang Ismail adalah penghuni pertama tempat ini, maka kisah ini akan dimulai dari sejarah Nabi Ibrahim a.s.[1]
Ibrahim lahir di Irak (Chaldea) dari ayah seorang tukang kayu pembuat berhala. Ketika ia dewasa, ia pernah bertanya kepada ayahnya bagaimana hasil kerajinan tangannya itu sampai disembah orang ? Ayahnya sangat khawatir anaknya akan menghancurkan semua berhala buatannya. Ketika orang sedang lengah, Ibrahim pergi menghampiri sang Dewa lalu menghancurkannya kecuali berhala yang paling besar. Setelah diketahui orang, mereka bertanya “Engkaukah yang melakukan itu terhadap dewa-dewa kami hai Ibrahim ?”, jawab Ibrahim “ya, bahkan dilakukan oleh dewa yang paling besar diantara mereka. Tanyakanlah kepada mereka, kalau memang mereka bisa bicara ?”.
Ibrahim memikirkan siapakah yang seharusnya mereka sembah. Ketika malam sudah gelap dilihatnya bintang, ia berkata : “inilah Tuhanku !”. Tetapi saat bintang terbenam, ia berkata : “aku tidak menyukai segala sesuatu yang terbenam”. Setelah dilihatnya bulan terbit, ia kembali berkata : “inilah Tuhanku !”. Seketika bulan terbenam ia berkata : “kalau Tuhan tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku akan jadi sesat”. Melihat matahari terbit, ia berkata : “ini Tuhanku, ini yang lebih besar”. Waktu matahari terbenam ia lalu berkata : “oh, kaumku. Aku lepas tangan terhadap apa yang kamu persekutukan itu. Aku mengarahkan wajahku hanya kepada yang telah menciptakan semesta langit dan bumi ini. Aku tidak termasuk mereka yang mempersekutukan Tuhan”.
Karena gagal mengajak kaumnya beriman, akhirnya ia dan istrinya Sarah pergi ke Palestina lalu meneruskan perjalanannya ke Mesir. Disanalah Ibrahim mendapatkan budak wanita bernama Hajar, hadiah dari raja Amalekit. Setelah bertahun-tahun Ibrahim tidak mendapatkan keturunan dari Sarah, akhirnya ia diijinkan menikahi budaknya, lalu lahirlah Ismail. Baru setelahnya lahir pula Ishaq dari Sarah.
Karena adanya kecemburuan Sarah terhadap Hajar, akhirnya Ibrahim mengajak Hajar bersama bayi Ismail ke arah selatan, ke sebuah lembah tandus bernama Bakkah, letak Makkah sekarang.[2] Disanalah Hajar ditinggalkan Ibrahim. Setelah kehabisan perbekalan dan air, anaknya terus menangis karena kehausan. Hajar berlari dari bukit Shafa ke bukit Marwa mencari air hingga tujuh kali. Setelah hampir putus asa, ia menggendong putranya yang sedang meregang nyawa itu. Lalu tiba-tiba muncullah air (mata air zam-zam) dari gundukan pasir yang disentuh tumit Ismail tadi. Segera Hajar dan anaknya melepaskan dahaga. Dengan air itulah mereka membantu para kafilah yang lewat dan menjamin kehidupan mereka berdua.
Setelah dewasa Ismail menikahi salah seorang gadis dari kabilah Jurhum. Putri dari Ja’rub ibn Qahtan. Kabilah pertama yang tinggal bersama Hajar dan Ismail. Karena ketidak-sopanan sang menantu ketika Ibrahim datang menjenguk Ismail, akhirnya Ismail menceraikannya. Lalu menikah lagi dengan wanita Jurhum lain, keturunan Mudzadz bin ‘Amr. Dari sinilah awal perkembangan kota Makkah, mulai dari sebuah lembah tandus hingga menjadi perkampungan dengan sumber air yang bagus dan menakjubkan.

D.    KA’BAH
a.       Pembangunan Ka’bah
Setelah Ibrahim meminta ijin kepada istrinya Sarah untuk menjenguk Hajar dan anaknya, akhirnya Ibrahim pergi ke Makkah. Ibrahim dan Ismail kemudian mengangkat sendi-sendi rumah suci itu dan “ bahwa rumah pertama dibuat untuk manusia beribadah ialah yang di Makkah itu, sudah diberi berkah dan bimbingan bagi semesta alam. Disitulah terdapat keterangan-keterangan yang jelas sebagai maqam (tempat) Ibrahim : barang siapa memasukinya menjadi aman”. Sebagaimana doa Ibrahim ketika mengangkat sendi-sendi rumah suci itu : “Tuhan terimalah ini dari kami. Sesungguhnyalah Engkau maha mendengar, maha mengetahuinya”.
Di sebelah barat laut ka’bah terdapat daerah sempit dikelilingi tembok pendek berbentuk setengah lingkaran. Kedua ujung tembok itu berhenti disudut sebelah barat dan utara rumah suci, menyisakan lorong sempit untuk lalu lintas para jama’ah haji. Ruang yang dibatasi tembok itu disebut Hijr Isma’il, karena bekas ibu jari kaki isma’il dan Hajar berada didekat batu yang melapisi ruang itu.[3]  
Dalam bentuk awalnya, ka’bah hanyalah fondasi sebuah empat persegi panjang. Bagian dindingnya sebelah timur laut yang sejajar dengan barat laut, panjangnya sama, yaitu sekitar dua belas meter. Dindingnya bagian utara dan selatan, berukuran panjang sepuluh meter. Dikala banjir, fondasi yang terletak didasar lembah (bathan) Makkah ini menjadi arah aliran air yang datang dari perbukitan sekitarnya. Arah sudutnya tidak persis menunjuk ke mata angin. Keempat pojok ini kemudian diberi nama : utara bernama rukn al-‘iraqi, sebelah barat rukn al-syami, sebelah selatan rukn al-yamani dan timur rukn al-aswad, sesuai dengan tempat letak batu hitam, hajar al-aswad. Menurut sebagian cerita batu hitam ini yang menjadi bahan bangunan Ka’bah, tetapi dalam kurun waktu ribuan tahun, kebanyakan telah dibangun nomaden yang memujanya didalam kemah.[4]

b.      Perkembangan agama
Tujuan awal Ibrahim membangun rumah suci itu adalah tempat ibadah untuk menyembah hanya kepada Allah semata serta membangun tempat yang aman. Asal mula perubahan kepercayaan itu terjadi ketika kaum Sabian yang menyembah bintang dan berpengaruh besar ditanah Arab. Pada mulanya mereka tidak menyembah bintang, melainkan hanya menyembah Allah dan mengagungkan bintang-bintang itu sebagai ciptaan dan manifestasi kebesaran Allah. Karena banyak yang tidak memahami arti ketuhanan yang lebih tinggi, maka diartikan bintang-bintang itu sebagai tuhan.
Bahkan mereka tidak cukup hanya menyembah hajar aswad (batu hitam) yang berada dalam ka’bah, sampai beberapa macam batu gunung diibaratkan sebagai benda yang jatuh dari langit, yang berasal dari bintang. Selain untuk disembah, mereka mengambil batu apa saja dari ka’bah untuk dimintai keputusan saat melakukan perjalanan. Dengan cara-cara tersebut menjadi kuatlah kepercayaan paganisme (penyembah berhala) itu, patung-patung dikuduskan dan dibawakan sesajen-sesajaen sebagai korban. Inilah suatu gambaran perkembangan agama sejak Ibrahim membangun rumah tempat beribadah hanya kepada tuhan yang kemudian berbalik menjadi pusat berhala.[5]


E.     QURAISY
a.       Sejarah berdirinya Quraisy
Sejak didirikannya ka’bah ditempat itu sudah terdapat jabatan-jabatan penting seperti, hijaba, siqaya, rifada, nadwa, liwa dan riyada. Hijaba adalah penjaga pintu ka’bah atau yang memegang pintu kuncinya. Siqaya adalah yang menyediakan air tawar untuk para peziarah yang waktu itu sangat sulit, dan juga menyediakan minuman keras yang terbuat dari kurma. Rifada adalah memberi makanan kepada semua peziarah. Nadwa adalah pimpinan rapat setiap tahun. Liwa adalah panci yang dipancangkan pada tombak lalu ditancapkan sebagai lambang tentara yang sedang menghadapi musuh. Dan qiyada adalah pimpinan pasukan saat menuju perang. Itulah jabatan-jabatan yang sangat terpandang yang nantinya akan dipegang oleh penguasa Quraisy.[6]
Pada saat kekuasaan Makkah ditangan Jurhum yaitu Mudzadz bin ‘Amr ibn Harith terjadi perkembangan perdagangan yang sangat pesat, sehingga orang-orang terbiasa hidup mewah, lalu mereka lupa hidup didaerah yang tandus dan gersang, karena kelalaian mereka, sehingga zamzam menjadi kering padahal Mudzadz sudah berkali-kali memperingatkan kepada masyarakatnya tetapi tidak berhasil. Lalu Mudzdaz menggali sumur zamzam dan diambilnya dua buah pangkal pelana emas dari dalam ka’bah beserta harta yang dijadikan sesajen didalam rumah suci itu. Agar suatu saat bisa digali lagi oleh kaum Jurhum. Kekuasaan sesudah itu dipegang oleh khuza’ah.[7][8]
Sekitar empat ratus tahun setelah masehi, seorang lelaki suku Quraisy bernama Qushayi bin Kilab dari kabilah tersingkir dan mendiami lereng-lereng gunung, celah-celah bukit, dan sudut-sudut wilayah Makkah. Lalu menikahi Hubba  putri Halil bin Habbasyiyah al-Khaza’i pemimpin Khuza’ah serta pemegang kunci ka’bah, sepeninggalan Halil, kunci diwariskan kepada putrinya tetapi ia merasa keberatan; “aku tidak mampu membuka dan menutup pintunya”, lalu Hubba menyerahkan kunci ka’bah kepada Ghabsyam si pemabuk (al-Muhtarasy bin Halil).
Ketika Ghabsyam kehabisan minuman keras, kunci itu dijualnya kepada Qushayi. Khuza’ah sudah menduga ketika kekuasaan ditangan Qushayi maka ia akan mudah mengeluarkan Khuza’ah dari Makkah. Ketika Qushayi mengambil alih kunci Ka’bah, orang-orang Khuza’ah menentangnya dan sepakat untuk memerangi Qushayi dan keluarga Quraisy-nya. Peperangan-pun terjadi antara Khuza’ah dibantu Bani Bakar melawan Quraisy dibantu Bani Shuffah. Kemenangan berada di pihak Quraisy. Untuk mendamaikan kedua kubu ini dipanggillah Ya’mar bin Auf yang terkenal sebagai asy-Syaddakh (pemecah persoalan). Keputusannya adalah Qushayi menempati wilayah sekitar Ka’bah, dan semua urusan Makkah diserahkan kepada Khuza’ah. Jika orang Khuza’ah dan Bani Bakar membunuh Quraisy maka diwajibkan membayar denda sebesar 510 diyat, 30 tawanan, dan meninggalkan Ka’bah.
 Lalu Qushayi membawa anggota Quraisy, keluarga terdekatnya untuk tinggal di Makkah dekat tempat suci. Ketika Qushayi memimpin, ia mengumpulkan masyarakat Quraisy lalu berkata,” apakah dengan berkumpul ditanah suci ini, kalian hendak bermukim di sekitar ka’bah?”. Mereka menjawab, ‘kau adalah tuan kami, kami tunduk pada pendapatmu”. Jadi Qushayi adalah orang yang pertama membangun rumah disekitar Ka’bah. Diantaranya Yaitu rumah untuk diskusi (Dar an-Nadwah), sebuah tempat untuk berkumpul, bermusyawarah, dan untuk menikahkan anak-anak keturunan mereka maupun membuat kesepakatan untuk berperang.[9]

b.      Pemimpin Keturunan Quraisy
Qushayi memiliki karakter bahwa pada saat generasinya harus ada seorang pemimpin untuk semua, dari keempat puteranya Abd Manaf adalah yang paling dihormati tetapi Qushayi memilih Abd Al-Dar anaknya yang paling tidak cakap. Menjelang kematiannya Qushayi berwasiat,”anakku, aku akan menetapkan siapa yang bakal menjadi pemimpin yang harus ditaati oleh semua orang. Tidak ada yang dapat memasuki ka’bah kecuali engkau yang membukakannya. Selain tanganmu, tak ada yang boleh menandai peperangan bagi kaum Quraisy. Tak ada yang boleh meminum air di Makkah dalam perjalanan hajinya kecuali engkau yang memberikannya. Tak ada yang boleh makan kecuali engkau yang memberinya. Tak ada yang boleh mengubah segala urusan Quraisy kecuali didalam rumahmu.”
Pada generasi berikutnya, separuh kaum Quraisy mendukung Hasyim (putra Abd Manaf) dan separuh kaum Quraisy mendukung Abd Dar. Kaum wanita dari Abd Manaf membawa secawan minyak wangi dan diletakan disebelah ka’bah. Hasyim, saudara-saudaranya serta seluruh pengikutnya mencelupkan tangan meraka kedalam cawan itu dan mengikrarkan sumpah bersama untuk tidak saling mengganggu. Lalu mereka menggosokkan tangannya yang harum diatas batu ka’bah sebagai tanda tercapainya suatu kesepakatan. Kelompok ini disebut kelompok harum (al-muthayyibun). Pengikut Abd Dar juga mengangkat sumpah dan kelompok ini dikenal sebagai kelompok sekutu (Al-ahlaf). Kedua pihak harus mematuhi perjanjian untuk menghindari pertumpahan darah. Perjanjian itu menghasilkan keturunan Abd Manaf yang menetapkan pajak dan menyediakan makanan dan minuman bagi jama’ah haji. Sedangkan keturunan Abd Dar berhak memegang kunci ka’bah, tempat tinggal mereka harus diteruskan fungsinya sebagai rumah majlis serta hak-hak mereka yang lain.[10]
Hasyim berkata dimajlis;” wahai kaum Quraisy! Kamu sekalian adalah tetangga Tuhan, penjaga rumahNya dan tanah suci. Mereka yang datang berziarah adalah tamu Tuhan, pengunjung rumahNya. Mereka itulah para tamu yang patut dihormati. Pada musim haji sediakan makanan dan minuman sampai mereka pulang kembali. Bila harta saya sendiri mencukupi, saya tidak akan membebani kalian semua.” Selain mengurusi kebutuhan para jama’ah haji dia juga membangun dua rute perjalanan kafilah besar dari Makkah. Kafilah pada musim dingin ke Yaman dan kafilah pada musim panas ke barat laut Arab.[11]

c.       Abd al-Muththalib
Suatu hari ketika  Hasyim dalam perjalanan pulang, ia mampir di Yatsrib. Dipasar ia melihat seorang perempuan cantik dikelilingi beberapa orang yang mendengarkan perintah-perintahnya.[12] Yaitu Salmah binti Umar bin Zaid seorang janda pemimpin bani ‘Adi bin an-Najar dari Khazraj di Yatsrib. Dari pernikahan ini Hasyim memiliki seorang putra bernama Syaibah, tak lama kemudian Hasyim meninggal dalam usia yang relatif muda. Syaibah pun diasuh oleh ibunya hingga berumur kira-kira empat belas tahun.
Dari beberapa anak Hasyim, Syaibahlah yang paling berbakat dalam hal kepemimpinan. Muththalib mendengar tentang kehebatan keponakannya itu. Akhirnya Muththalib pergi kepada Salmah untuk memohon agar mempercayakan pengasuh keponakannya itu padanya. Salmah menolak, namun Muththalib berhasil meyakinkannya dengan kehidupan anaknya yang lebih baik di Makkah. Setelah diizinkan Muththalib membawa keponakannya memasuki kota Makkah. Masyarakat mengira anak itu adalah budak Muththalib, sehingga dipanggil ‘Abd al-Muththalib (budak muththalib). Lalu Muththalib berkata; bersuka rialah kalian, karena ia adalah putera saudaraku, Hasyim”. Anak itu disambut gembira oleh masyarakat.
Tak lama setelah kedatangannya, Abd Muththalib terlibat perselisihan warisan ayahnya (Hasyim) yang diwakilkan Naufal (adik Hasyim). Naufal tidak rela menyerahkan kekuasaan Hasyim kepada Abd Muththalib. Dan ia baru menyerahkannya ketika Abd Muththalib meminta bantuan delapan puluh orang anggota keluarga ibunya. Setelah pamannya meninggal ia memegang tanggung jawab menyediakan makanan dan minuman bagi jama’ah haji.[13] [14]
Abd Muththalib disegani oleh kaum Quraisy atas kedermawanan, kemampuan, kebijaksanaan dan ketampanannya. Suatu malam Abd Muththalib ketika sedang tidur di sekitar Hijr isma’il datang sosok bayangan dan berkata, “galilah sumber air yang manis. “apa itu” ia bertanya, namun bayangan itu segera lenyap. Malam berikutnya, ia tidur kembali disana. Sosok bayangan itu datang kembali dan berkata,”galilah keberuntungan.” Dan sosok itu menghilang lagi. Dimalam ketiga ia diperintahkan, ”galilah timbunan harta karun”. Pada malam ke empat sosok itu berkata galilah zamzam, disebuah tempat lembab penuh darah, penuh kotoran, tempat semut-semut bersarang dan burung gagak mematuk-matuknya.[15] [16]
Keesokan harinya, ia berjalan sepanjang dinding sebelah timur laut yang berujung di pintu ka’bah. Setelah ia mencium Hajar Aswad dan Thawaf. Abd Muththalib melihat lembah gelap Abu Qubays dan diseberangnya perbukitan timur tampak dipancari cahaya kemuning. Ketika ia menuju pintu ka’bah, tiba-tiba mendengar kepakan sayap dan seekor burung yang bergerak menuju dua batu patung besar bernama Isaf dan Na’ilah, tempat dimana biyasanya kaum Quraisy menyembelih qurban. tempat berpasir itu selalu basah oleh darah, juga ada kotoran burung dan diatasnya terlihat sarang semut.
  Ia dan Harits anak satu-satunya, pulang dan mengambil dua linggis untuk menggali. Ketika menggali tiba-tiba linggisnya menyentuh logam yaitu pedang emas milik Mudzadz bim Amr. Kedua kalinya ia menemukan pelana emas yang dulunya menjadi sesajen di ka’bah. Tak lama disusul menyemburmya air. Mengetahui adanya harta karun, masyarakat meminta bagian. Diadakanlah panah dewata (kidh) untuk menentukan pembagian harta karun tersebut, hasilnya adalah sebagian harta karun disimpan di ka’bah, sebagian diberikan kepada Abd Muththalib, sementara tidak sedikitpun yang diberikan kepada kaum Quraisy.

d.      Kelahiran dan Peristiwa Pengorbanan Abdullah
Suatu ketika Abd Muththalib merasa cemas karena kekurangan tenaga untuk menjalankan tanggung jawabnya. Maka dengan berbesar hati, ia memohon kepada Tuhan agar dikaruniai sepuluh anak laki-laki, bila permohonannya terkabulkan ia akan mengorbankan seorang anaknya. Selang beberapa tahun, do’anya dikabulkan. Abdul Muththalib adalah orang yang selalu menepati janji. Ia sangat berat menentukan siapa diantara putra-putranya yang akan dikorbankan, setelah semuanya dewasa ia menyatakan janjinya kepada Tuhan dan meminta mereka mendukung pelaksaannya.
Tiba saatnya mengumpulkan anak-anaknya dan berangkat menemui dewa patung Hubbal, penjaga patung menuliskan nama kesepuluh putranya lalu mengocoknya didepan Hubbal. Ketika tangannya merogoh,nama yang tertulis adalah : Abdullah. Ia mengiring Abdullah ke dekat sumur zam-zam, antara patung Isaf dan Na’ilah tempat menyembelih kurban, banyak hadirin gelisah dan mengusulkan supaya diganti dengan kurban harta, kemudian Abdul Muththalib berembuk dengan dewa dan memutuskan untuk segera menemui kahin ( juru ramal ) wanita masyhur di Yatsrib.
Peramal menyimpulkan bahwa boleh mengganti kurban anak dengan harta. Caranya, dengan mengundi lagi di depan Hubal dengan menuliskan unta dan Abdullah. Jika tetap yang muncul nama Abdullah, jumlah untanya ditambah lagi,  sampai kata unta yang keluar. Setelah genap seratus unta, akhirnya kata ‘unta’ muncul. Abd Muththalib masih penasaran dan minta diundi lagi sampai tiga kali. [17] [18]
Setelah pengorbanan unta bagi Abdullah diterima, Abd Muththalib berencana untuk mencarikan anak kesayangannya seorang istri. Akhirnya pilihannya jatuh pada Aminah binti Wahab, cucu Zuhrah saudara Qushayi. Karena ditinggal ayahnya, Aminah diasuh oleh pamannya Wuhayb. Ketika melamarkan Aminah untuk putranya, ia juga melamar Halah putri Wuhayb yang seumuran dengan Aminah. Wuhayb setuju, pernikahan-pun diadakan pada waktu dan tempat yang sama. Pada hari yang telah ditentukan, Abd Muththalib menggandeng putranya menuju rumah Wuhayb. Pernikahanpun dilaksanakan sesuai rencana. Dua pasangan pengantin itu tinggal beberapa hari di kediaman Wuhayb. Pernikahan itu berlangsung tahun 569 M atau yang disebut tahun gajah.[19]

e.       Peristiwa Penyerangan Abrahah
Yaman berada dibawah kekuasaan Abrahah. ia membangun sebuah katedral megah di Shan’a untuk menyaingi Ka’bah. Katedral itu dibangun dengan pualam yang diambil dari bekas istana ratu Saba’ dan dihiasi dengan emas dan perak. Mimbarnya dibuat dari gading dan kayu hitam. Ia tidak merahasiakan sedikitpun niatnya itu, sehingga suku kinanah keturunan Quraisy pergi ke Syan’a untuk merubuhkan gereja itu dalam waktu satu malam.
Mendengar itu Abrahah bersumpah akan membalas dendam dengan menghancurkan ka’bah sampai rata dengan tanah. Beberapa suku arab di utara Syan’a berusaha untuk menghalanginya. Tetapi pasukan tersebut kalah, dan ditangkaplah Nufail sang pemimpin sebagai petunjuk jalan. Sesampainya di Mughammiz pasukan berkuda Abrahah menuju daerah pinggiran Makkah untuk merampas apa saja termasuk dua ratus unta milik Abd Muththalib. Abrahah mengirim seorang utusan ke Makkah untuk menemui pimpinan mereka dan berpesan bahwa mereka datang bukan untuk berperang, melainkan untuk menghancurkan ka’bah. Untuk menghindari pertumpahan darah maka pemimpin Makkah harus menemuinya di kemah pasukan Abrahah. Abrahah terkesan melihat kedatangan Abd Muththalib hingga ia turun dari singgasana dan duduk diatas karpet. Abd Muththalib meminta agar dua ratus ekor untanya dikembalikan. Abrahah sangat kecewa, ia menganggap Abd Muththalib lebih mementingkan untanya dari pada agamanya. Lalu Abd Muththalib menjawab, “aku adalah pemilik unta-unta itu, sementara ka’bah ada pemiliknya sendiri yang akan melindunginya”. “tapi sekarang ini, dia tidak akan mampu melawanku ”kata Abrahah. “kita lihat saja nanti “kata Abd Muththalib.
Keesokan harinya, Abrahah bersiap memasuki Makkah untuk menghancurkan ka’bah. Dengan gajah dibarisan paling depan bersama pemandunya Unays. Tapi Nufail mengacaukan komando gajah, sehingga gajah tidak mau bergerak lagi. Ketika pasukan berbalik, gajah itu pun mau berdiri, namun ketika mengarah ke Makkah gajah itu kembali berlutut. Sebenarnya itu adalah pertanda bahwa Abrahah tidak akan berhasil. Namun mereka telah terlambat, langit di ufuk barat menghitam pekat dan suara bergemuruh terdengar. Sepanjang mata memandang langit dipenuhi beribu-ribu burung yang membawa tiga batu kecil lalu dijatuhkan pada pasukan Abrahah. Tak semua orang terluka, namun semua terkena wabah kolera termasuk Abrahah yang mati begitu sampai ditempat. Sementara Nufail menyelinap pergi dan menyelamatkan diri ke lereng bukit dekat Makkah ketika para tentara sibuk dengan gajah yang membangkang, setelah peristiwa itu Quraisy dikenal sebagai keluarga Tuhan.  
Ketika peristiwa itu terjadi Abdullah sedang berdagang ke Palestina dan Syiria. Ketika perjalanan pulang ia jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia di rumah neneknya di Yatsrib. Kota Makkah diselimuti duka yang mendalam. Namun pelipur lara Aminah adalah putra Abdullah yang masih didalam kandungannya dan yang sebentar lagi akan lahir. Ia menyadari pada suatu cahaya ajaib yang memancar dari dalam tubuhnya. Lalu ia mendengar suara, “engkau mengandung seorang pemimpin di seluruh ummat manusia dan namailah ia Muhammad”. Beberapa minggu itu bayinya lahir, Abdul Muththalib datang dan menggendongnya lalu membawanya ke ka’bah dan masuk bersamanya kedalam rumah suci itu. Ia memanjatkan do’a rasa syukur kepada Allah atas karuniaNya.[20]


F.      KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa dulunya Makkah adalah sebuah lembah tandus yang tanpa penghuni, dan hanya dipergunakan para kafilah untuk berstirahat, namun setelah kedatangan Ismail dan Hajar, dan dengan munculnya mata air zamzam Makkah menjadi sebuah pemukiman bagi para kafilah, dan menjadi Kota bagi para penguasa Ka’bah.
Ka’bah dibangun oleh Ibrahim dan Ismail yang menjadi pusat peribadahan bagi  masyarakat waktu itu, namun seiring berjalannya waktu, ketauhidan yang diajarkan Ibrahim kepada umatnya mulai luntur, dan beralih kepada kepercayaan paganisme (penyembah berhala).
Banyak kaum yang ingin memiliki kunci Ka’bah, karena barang siapa yang memegang kunci Ka’bah, dialah yang akan menguasai Makkah. Intrik antar kaum-pun mewarnai sejarah Ka’bah dengan bergantinya para penguasa. Hingga akhirnya kunci Ka’bah jatuh pada tangan kaum Quraisy.
Dulunya Quraisy adalah suku tersingkir yang mendiami lereng-lereng bukit, kemajuan suku quraisy menjadi bangsa yang kuat dan berkuasa di Makkah dirintis oleh Qushay. Diawali dengan  pernikahan Qushay dan Hubba, putri seorang pemegang kunci ka’bah. Yang pada akhirnya menjadikan Qushay mendapatkan kunci ka’bah.
Selanjutnya kekuasaan Makkah berada di tangan Qushay. Lalu ia membawa suku Quraisy untuk bertempat tinggal disekitar ka’bah, dan dialah yang perama kali mendirikan bangunan disekitar Ka’bah. Yang menjadikan Ka’bah menjadi sebuah kota maju, tanpa jasanya Makkah tidak akan menjadi kota seperti yang kita lihat sekarang.
Qushay melahirkan anak-anak yang akhirnya menjadi penerus kekuasaanya. Mulai dari Abd ‘Dar, Hasyim (putra Abd Manaf), hingga Abd al-Muththalib kakek Rasulullah.


G.    DAFTAR PUSTAKA
H. Fuad Hashem. SIRAH MUHAMMAD RASULULLAH Suatu Penafsiran baru. Bandung: Mizan, 1992.
M. Quraish Shihab. MEMBACA SIRAH NABI MUHAMMAD SAW. DALAM SOROTAN AL-QUR’AN DAN HADITS-HADITS SHAHIH. Tangerang: Lentera Hati, 2011.
Martin Lings (Abu Bakar Siraj al-Din). Muhammad. cetakan VII. Jakarta: GEMALA ILMU & HIKMAH ISLAM, 2009.
MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL. Sedjarah Hidup Muhammad. Translated by ALI AUDAH. Jakarta: Tintomas, 1972.



[1] MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL, Sedjarah Hidup Muhammad, trans. ALI AUDAH (Jakarta: Tintomas, 1972), 23.
[2] Martin Lings (Abu Bakar Siraj al-Din), Muhammad, cetakan VII (Jakarta: GEMALA ILMU & HIKMAH ISLAM, 2009), 11.
[3] Ibid., 23.
[4] H. Fuad Hashem, SIRAH MUHAMMAD RASULULLAH Suatu Penafsiran baru (Bandung: Mizan, 1992), 104.
[5] MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL, Sedjarah Hidup Muhammad, 31–32.
[6] Ibid., 33–34.
[7] Ibid., 35.
[8] Muhammad, 15–16.
[9] MUHAMMAD HUSAIN HAEKAL, Sedjarah Hidup Muhammad.
[10] Muhammad, 18–19.
[11] Ibid., 19–20.
[12] H. Fuad Hashem, SIRAH MUHAMMAD RASULULLAH Suatu Penafsiran baru, 48.
[13] Muhammad, 22–23.
[14] H. Fuad Hashem, SIRAH MUHAMMAD RASULULLAH Suatu Penafsiran baru, 50–51.
[15] Muhammad, 23–24.
[16] H. Fuad Hashem, SIRAH MUHAMMAD RASULULLAH Suatu Penafsiran baru, 51.
[17] Muhammad, 27–32.
[18] H. Fuad Hashem, SIRAH MUHAMMAD RASULULLAH Suatu Penafsiran baru, 51–52.
[19] Muhammad, 32–38.
[20] M. Quraish Shihab, MEMBACA SIRAH NABI MUHAMMAD SAW. DALAM SOROTAN AL-QUR’AN DAN HADITS-HADITS SHAHIH (Tangerang: Lentera Hati, 2011), 167–176.

Tidak ada komentar: