Selasa, 08 April 2014

Refleksi Tafsir Lingkungan Terhadap Masalah Lingkungan Saat Ini

Berbicara mengenai lingkungan, pertama-tama yang harus diketahui adalah pengertian dari linkungan itu sendiri, lingkungan merupakan segala sesuatu yang meliputi kehidupan manusia, baik yang hidup maupun yang mati, yang diciptakan untuk kepentingan manusia. Terlalu luas jika kita membahas semua aspek dari lingkungan. Sekarang kita akan membicarakan mengenai lingkungan yang paling dekat dengan kita, yaitu alam dimulai dengan melihat masalah lingkungan yang disebabkan karena ulah remeh manusia.
Contoh real yang saya temukan, didekat asrama saya tinggal kesadaran untuk membuang sampah saja sudah hampir luntur. Meskipun sudah diberlakukan piket setiap hari untuk membersihkan sampah, hanya beberapa anak yang mau menjalankannya. Sebagian besar lainnya akan melaksanakan jika mendapatkan teguran dari ketua seksi kebersihan. Akibatnya, bau tidak sedap menyebar sampai ke setiap ruangan, pemandangan rumah tempat tinggal menjadi buruk karena sampah berceceran dan banyaknya semut. Entahlah bagaimana jadinya alam ini jika kesadaran untuk mejaganya saja punah.
Padahal sudah dijelaskan bahwa Allah telah menciptakan langit dan bumi ini sesempurna mungkin dan kemudian Dia menundukkannya hanya untuk kemaslahatan umat manusia. Betapa keterlaluan manusia dimuka bumi ini, jika hanya untuk menjaga pemberian sang Maha Kuasa yang begitu sempurna ini saja tidak bisa. Dimana bukti bahwa manusia adalah makhluk berfikir yang mampu membedakan mana yang benar dan mana yang baik.
Masuk ke permasalahan lingkungan yang sedikit lebih nasional bahkan internasional. Efek rumah kaca alias pemanasan global yang banyak digembar-gemborkan akan mengakibatkan kenaikan suhu udara dibumi akibat rusaknya lapisan ozon yang fungsinya menangkal sinar matahari langsung. Permasalahan akut yang menyangkut keberlangsungan kehidupan dibumi itu saja hanya sekadar masalah musiman. Bagaimana tidak, hanya beberapa periode masalah ini ditanggapi, selanjutnya manusia malah seperti pasrah dengan apa yang akan terjadi. Apa gunanya penanaman pohon-pohon di tanah yang dianggap strategis jika faktanya sekitar 2000 pohon dihutan ditebang setiap hari dengan berbagai alasan yang konyol. Hanya beberapa penanaman pohon bakau dipinggir pantai dan pembuatan hutan kota yang luasnya hanya beberapa meter. Tapi ribuan pohon dihutan lenyap, itu nilai yang sangatlah tidak sebanding.
Bagaimana sikap pemerintah dan masyarakat kita menghadapi ini ?. Sangatlah mencengangkan tindakan yang pemerintah Indonesia ambil, yaitu dengan mencanangkan mobil murah untuk negeri. Perbuatan yang sungguh tidak masuk akal. Disaat Negara lain berencana mengurangi emisi CO2 atau gas karbondioksida penyebab utama global warming, yang mereka lakukan malah menambah jumlahnya. Pohon-pohon dihutan ditebang untuk kepentingan pribadi, hingga sebutan Indonesia sebagai paru-paru dunia-pun hampir hilang. Malah diperparah dengan rencana mobil murah yang juga mengajari rakyat konsumerisme. Saya sampai bingung, bagaimana bisa mereka dipilih menjadi pemimpin bangsa ini, hanya kelihatannya saja pintar dengan gelar-gelar tinggi yang ternyata semua lebih buruk daripada seekor kerbau.
Padahal pohon adalah faktor utama dalam berbagai aspek kehidupan. Mulai dari penangkal banjir, penyelamat dari tanah longsor maupun erosi, penyedia oksigen dan kunci utama penyembuh penyakit akut global warming ini. Semua aspek penting kehidupan pohonlah yang menyiapkannnya. Oleh karena itu Nabi bersabda, مَنْ قَطَعَ سِدْرَةً صَوَّبَ اللَّهُ رَأْسَهُ فِي النَّارِ (Barang siapa yang menebang pepohonan, maka Allah akan mencelupkannya ke dalam neraka). Tentu saja maksut hadits tersebut penebangan pohon secara sia-sia, tanpa adanya pertanggung-jawaban.
            Banyak penyebab-penyebab yang mengakibatkan pohon ditebang. Mulai dari ketamakan manusia untuk kepentingannya sendiri, dengan menggergaji pohon dalam jumlah besar tanpa memperhatikan penghijauannya kembali. Pertumbuhan penduduk yang begitu pesat juga turut andil sebagai penyebabnya. Bisa dipikirkan, pemerintah mendesak para petani untuk mengganti lahannya dijadikan pemukiman tempat tinggal. Hutan-hutan ditebang guna penyediaan lahan bermukim. Selain itu, berbagai jenis kertas dan tisu juga bagaikan musuh terselip yang sangat mengancam. Bagaimana tidak, sebanyak 50 ton tisu yang diproduksi menghabiskan 850 juta pohon diseluruh dunia per tahun.
            Sungguh tidak bisa dibayangkan bagaimana kita hidup tanpa adanya pohon. Mungkin kehidupan ini akan mirip seperti film animasi Dr. Zeuss’ The Lorax buatan Illumination Entertainment dari Universal Pictures tahun 2012 lalu, yang menceritakan ketamakan seorang laki-laki muda saat mencapai puncak karirnya sebagai pedagang Thneed. Sebuah pohon yang daunnya seperti helaian sutra. Karena ketamakannya tersebut, hutan yang tadinya sangat luas, indah dan lengkap dengan berbagai populasi hewannya menjadi hancur. Semua pohon ditebangi untuk menghasilkan uang sebanyak-banyaknya hingga akhirnya tak tersisa satupun pohon. Akhirnya diciptakanlah kota Thneedville, sebuah kota yang segala sesuatunya terbuat dari plastic dan bahan-bahan anorganik bahkan tanamannya-pun terbuat dari karet. Air dan udara diperjual-belikan sebagai usaha perorangan.
            Mengerikan bukan bila cerita fiktif itu benar-benar terjadi pada kita ? karena seperti yang kita ketahui, manfaat pohon dalam kehidupan begitu kompleks dan tak mungkin terpisahkan. Dari segi manfaatnya bisa kita lihat dalam QS. Abasa : 24-32
فَلْيَنْظُرِ الإنْسَانُ إِلَى طَعَامِهِ (٢٤)أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا (٢٥)ثُمَّ شَقَقْنَا الأرْضَ شَقًّا (٢٦)فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا (٢٧)وَعِنَبًا وَقَضْبًا (٢٨)وَزَيْتُونًا وَنَخْلا (٢٩)وَحَدَائِقَ غُلْبًا (٣٠)وَفَاكِهَةً وَأَبًّا (٣١)مَتَاعًا لَكُمْ وَلأنْعَامِكُمْ (٣٢)
“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.” (QS Abasa : 24-32)
Dan yang kedua dari segi keindahannya bisa kita temukan dalam QS An-Naml : 60
أَمَّنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَأَنْزَلَ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَنْبَتْنَا بِهِ حَدَائِقَ ذَاتَ بَهْجَةٍ مَا كَانَ لَكُمْ أَنْ تُنْبِتُوا شَجَرَهَا أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ يَعْدِلُونَ (٦٠)
“Atau siapakah yang telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air untukmu dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan pohon-pohonnya? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? bahkan (sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran).” (QS An-Naml : 60)
Setelah melihat berbagai manfaat yang sudah jelas-jelas disebutkan dalam Al-Qur’an, apakah kita sebagai muslim yang baik akan tetap merusak lingkungan terutama pohon disekitar kita ?. Allah juga telah menganjurkan kepada kita untuk selalu melestarikan alam, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai kepunahan. Larangan Allah untuk merusak lingkungan tercantum dalam QS Al-Baqarah : 11-12
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لا تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (١١)أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لا يَشْعُرُونَ (١٢)
“Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". mereka menjawab: "Sesungguhnya Kami orang-orang yang Mengadakan perbaikan." Ingatlah, Sesungguhnya mereka Itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (QS Al-Baqarah : 11-12)

            Allah sangat murka terhadap manusia yang melakukan perusakan diatas muka bumi. Karena Allah hakikinya menciptakan manusia sebagai khalifah dibumi, bukan sebagai perusak. Sebagai makhluk yang bisa menjaga dan merawat alam ini. Dan bagi perusaknya Allah berjanji akan mencelupkannya kedalam api neraka seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Namun menjanjikan pahala yang sangat banyak bagi para manusia yang melakukan pelestarian terhadap lingkungan, seperti sabda Rasul مَنْ أَحْيَا أَرْضًا مَيِّتَةً فَهِيَ لَهُ  (Barang siapa yang menghidupkan tanah (lahan) mati maka ia menjadi miliknya). Sekarang pilihan ditangan kita, akan menjadi manusia yang mendapat laknat karena merusak lingkungan atau akan memilih menjadi manusia yang mendapat banyak pahala sebagai balasannya melestarikan lingkungan sekitarnya. 

Tidak ada komentar: