Jumat, 11 April 2014

Dibalik Kerudung Hitamku

Apakah karena aku jarang memakai kerudung warna hitam, sehingga itu membuatku tampak lain dari biasanya ?? ataukah ada sihir dibalik kesederhanaanya ??

Sebagai salah satu mahasiswi di Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri di Semarang, aku diwajibkan memakai kerudung, atau sebutan kece-nya Hijab. Apalagi dengan bergabungnya aku ke jurusan Ahli Agama yang semakin menuntutku bukan hanya sekadar mengubah penampilanku dari gaya casual-nya anak SMA menjadi seorang muslimah sejati dengan setelan rok / gamis serta kerudungnya.

Karena aku bukanlah si Modis yang bisa dengan kilat menyesuaikan style baju terkini, alhasil penampilan perdanaku berhijab acak-adul. Sungguh NDESO !!!. Ga ada warna yang match antara rok-baju-kerudung. Kalo aku bertempat tinggal di Jepang waktu itu, mungkin aku sudah jadi salah satu remaja Harajuku yang gayanya nabrakin  warna apapun, terutama warna-warna cerah. Tapi karena posisiku di Indonesia, pupuslah penyematan gelar Remaja Harajuku, tapi diganti dengan Remaja Traffic Light, ya untung saja bukan disebut dengan Jemuran Berjalan.

Penampilanku itu-pun mengalami siklus Evolusi. Berawal dari style paling terdahulu lalu berproses menjadi lumayan enak dipandang lah. Hehe. Dari yang serba warna-warni persis kayak traffic light, lalu mulai adanya penyesuaian warna rok dengan kerudung. Kemudian meningkat dengan memperhatikan warna baju dengan kerudung, diperindah dengan aneka bross. Meningkat lagi dengan adanya penyesuaian warna antara rok-baju-kerudung. Aneka broos-pun mengalami eliminasi, diganti dengan sabuk kecil aneka warna sesuai warna baju. Inner topi juga beralih dengan gaya arabic yang lebih simple.

Namun, sejak pertama aku ber-hijab, rasanya bisa dihitung jari aku memakai kerudung berwarna hitam. Entah karena aku tidak suka dengan warna itu atau karena alasan lain yang tak pernah aku sadari, yang pasti aku tidak pernah suka dengan warna hitam. Akhirnya mayoritas hari-hariku kuisi dengan memakai kerudung berwarna cerah, dan pink adalah warna wajib yang kukenakan dalam seminggu. Sampai-sampai julukan temanku terhadapku adalah Kambing Pink, bukan lagi Kambing Hitam. Lucu-nya lagi, Kang Mas-ku dulu tiap manggil aku dengan sebutan “Pink”, bukan lagi namaku walaupun manggilnya dari kejauhan. Hmm ... sungguh memalukan.


Aku inget pertama kali makai kerudung hitam. Ketika ada acara Anniversary FUPK ke-7. Rasanya bener-bener ga PD, bahkan buat jalan aja malu sangking ga PD-nya. Apalagi dengan setelan baju putih, semakin membuatku merasa kayak Sales atau karyawan magang di Indomaret. Tapi setelah itu, salah satu temenku yang terkenal pendiemnya ngomentarin penampilanku. Katanya, aku terlihat ‘BEDA’ karena kerudung hitam yang kukenakan. Waktu aku ketemu dengan Kang Mas-ku, dia juga memberikan tatapan yang berbeda. Meskipun tanpa komentar dari mulutnya, tapi pandangannya cukup menjelaskan segalanya. Sejak itu pikiran bahwa kerudung hitam identik dengan suasana berduka hilang-lah sudah. Kerudung warna hitam itu kini mulai kukenakan, setidaknya sekali dalam sebulan. Baru sekarang kusadari, bahwa kerudung hitam yang sangat jarang aku pakai yang membuatku tampil menarik dari biasanya.

Tidak ada komentar: