Apakah karena aku
jarang memakai kerudung warna hitam, sehingga itu membuatku tampak lain dari
biasanya ?? ataukah ada sihir dibalik kesederhanaanya ??
Sebagai salah
satu mahasiswi di Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri di Semarang, aku
diwajibkan memakai kerudung, atau sebutan kece-nya Hijab. Apalagi dengan
bergabungnya aku ke jurusan Ahli Agama yang semakin menuntutku bukan hanya
sekadar mengubah penampilanku dari gaya casual-nya anak SMA menjadi seorang
muslimah sejati dengan setelan rok / gamis serta kerudungnya.
Karena aku
bukanlah si Modis yang bisa dengan kilat menyesuaikan style baju terkini,
alhasil penampilan perdanaku berhijab acak-adul. Sungguh NDESO !!!. Ga ada
warna yang match antara rok-baju-kerudung. Kalo aku bertempat tinggal di
Jepang waktu itu, mungkin aku sudah jadi salah satu remaja Harajuku yang gayanya
nabrakin warna apapun, terutama
warna-warna cerah. Tapi karena posisiku di Indonesia, pupuslah penyematan gelar
Remaja Harajuku, tapi diganti dengan Remaja Traffic Light, ya
untung saja bukan disebut dengan Jemuran Berjalan.
Penampilanku
itu-pun mengalami siklus Evolusi. Berawal dari style paling terdahulu lalu
berproses menjadi lumayan enak dipandang lah. Hehe. Dari yang serba warna-warni
persis kayak traffic light, lalu mulai adanya penyesuaian warna rok dengan
kerudung. Kemudian meningkat dengan memperhatikan warna baju dengan kerudung,
diperindah dengan aneka bross. Meningkat lagi dengan adanya penyesuaian warna
antara rok-baju-kerudung. Aneka broos-pun mengalami eliminasi, diganti dengan
sabuk kecil aneka warna sesuai warna baju. Inner topi juga beralih dengan gaya
arabic yang lebih simple.
Namun, sejak
pertama aku ber-hijab, rasanya bisa dihitung jari aku memakai kerudung berwarna
hitam. Entah karena aku tidak suka dengan warna itu atau karena alasan lain
yang tak pernah aku sadari, yang pasti aku tidak pernah suka dengan warna
hitam. Akhirnya mayoritas hari-hariku kuisi dengan memakai kerudung berwarna
cerah, dan pink adalah warna wajib yang kukenakan dalam seminggu. Sampai-sampai
julukan temanku terhadapku adalah Kambing Pink, bukan lagi Kambing Hitam. Lucu-nya
lagi, Kang Mas-ku dulu tiap manggil aku dengan sebutan “Pink”, bukan lagi
namaku walaupun manggilnya dari kejauhan. Hmm ... sungguh memalukan.
Aku inget pertama
kali makai kerudung hitam. Ketika ada acara Anniversary FUPK ke-7. Rasanya
bener-bener ga PD, bahkan buat jalan aja malu sangking ga PD-nya. Apalagi
dengan setelan baju putih, semakin membuatku merasa kayak Sales atau karyawan
magang di Indomaret. Tapi setelah itu, salah satu temenku yang terkenal
pendiemnya ngomentarin penampilanku. Katanya, aku terlihat ‘BEDA’ karena
kerudung hitam yang kukenakan. Waktu aku ketemu dengan Kang Mas-ku, dia juga
memberikan tatapan yang berbeda. Meskipun tanpa komentar dari mulutnya, tapi
pandangannya cukup menjelaskan segalanya. Sejak itu pikiran bahwa kerudung hitam
identik dengan suasana berduka hilang-lah sudah. Kerudung warna hitam itu kini
mulai kukenakan, setidaknya sekali dalam sebulan. Baru sekarang kusadari, bahwa
kerudung hitam yang sangat jarang aku pakai yang membuatku tampil menarik dari
biasanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar